Pakar IPB: Label Komposisi Tak Bisa Jadi Patokan Tunggal

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 15:50 WIB 3
Pakar IPB: Label Komposisi Tak Bisa Jadi Patokan Tunggal

Banyak konsumen merasa ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan. Nama bahan yang terdengar asing, teknis, atau mirip bahan kimia sering langsung dicurigai berbahaya. Keraguan itu juga kerap dikaitkan dengan istilah ultra-processed food yang ramai di media sosial. Padahal, pakar teknologi pangan IPB University menilai penilaian tersebut tidak bisa dilakukan hanya dari daftar bahan.

Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi menegaskan, kualitas produk pangan tidak dapat disimpulkan secara sederhana dari panjangnya komposisi di kemasan. Ia menyampaikan hal itu ketika dihubungi pada Kamis, 21 Mei 2026. Menurut dia, anggapan bahwa bahan tambahan otomatis membuat produk bermasalah masih perlu dilihat secara lebih cermat. Penilaian yang tepat harus memperhatikan fungsi, kadar, dan kesesuaian bahan dengan aturan yang berlaku.

Memahami label pangan

Label komposisi pada makanan kemasan dibuat untuk memberi informasi kepada konsumen. Data itu membantu pembeli mengenali bahan yang digunakan dalam proses produksi. Namun, informasi tersebut tidak selalu bisa dibaca secara hitam putih. Nama yang terdengar teknis belum tentu menunjukkan adanya risiko kesehatan.

Purwiyatno menjelaskan, banyak bahan pangan memiliki nama ilmiah yang terdengar asing bagi masyarakat awam. Padahal, nama tersebut sering kali merujuk pada zat yang sudah umum digunakan dalam industri pangan. Hal yang penting adalah memahami fungsi bahan itu dalam produk. Dengan begitu, konsumen tidak langsung menyimpulkan sesuatu hanya dari istilahnya.

Menurutnya, persepsi negatif terhadap label sering muncul karena kurangnya pemahaman tentang teknologi pangan. Sebagian konsumen menilai daftar bahan yang panjang sebagai tanda produk tidak sehat. Padahal, panjangnya komposisi tidak selalu berkaitan dengan rendahnya mutu. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap bahan digunakan dan apakah penggunaannya sesuai kebutuhan produk.

Ia menambahkan, bahan tambahan pangan dibuat untuk mendukung mutu dan keamanan produk. Fungsi tersebut antara lain menjaga rasa, warna, tekstur, serta daya simpan makanan. Selama penggunaannya sesuai ketentuan, bahan tambahan tidak otomatis berbahaya. Karena itu, konsumen perlu melihat konteks sebelum memberi penilaian.

Fungsi bahan tambahan pangan

Bahan tambahan pangan memiliki peran penting dalam menjaga kualitas produk selama distribusi dan penyimpanan. Dalam banyak kasus, bahan itu membantu mencegah penurunan mutu sebelum produk sampai ke tangan konsumen. Fungsi ini menjadi relevan terutama pada makanan kemasan yang harus bertahan lebih lama. Tanpa pengaturan yang tepat, produk bisa lebih cepat rusak atau berubah karakteristiknya.

Purwiyatno menegaskan, keamanan produk tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya bahan tambahan semata. Yang perlu diperhatikan adalah apakah bahan tersebut memang diizinkan dan digunakan dalam batas aman. Regulasi pangan dibuat untuk memastikan penggunaan bahan tidak melampaui standar. Dengan demikian, keberadaan bahan tambahan tidak bisa langsung disamakan dengan bahaya.

Ia juga menjelaskan bahwa setiap bahan memiliki peran spesifik dalam formula produk. Ada yang berfungsi sebagai pengawet, ada pula yang membantu stabilitas, tekstur, atau tampilan produk. Seluruh fungsi itu dirancang agar pangan tetap layak dikonsumsi dan konsisten mutunya. Karena itu, label perlu dibaca dengan pemahaman yang proporsional.

Di sisi lain, konsumen tetap perlu waspada terhadap konsumsi pangan secara berlebihan. Produk kemasan sebaiknya tetap diimbangi dengan makanan segar dan pola makan yang beragam. Sikap kritis memang penting, tetapi harus didasarkan pada informasi yang benar. Dengan begitu, keputusan konsumsi menjadi lebih sehat dan rasional.

Ultra processed food

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan banyak dibahas di media sosial. Banyak orang mengaitkannya secara langsung dengan produk kemasan dan bahan tambahan pangan. Padahal, penjelasan ilmiahnya tidak sesederhana itu. UPF merupakan kategori yang perlu dipahami dengan lebih hati-hati agar tidak menimbulkan salah tafsir.

Dalam pandangan Purwiyatno, pembahasan soal UPF sering memicu kekhawatiran berlebihan di masyarakat. Sebagian orang menganggap semua produk dengan komposisi rumit pasti tidak sehat. Sikap seperti itu dapat membuat konsumen menolak pangan olahan tanpa pertimbangan yang memadai. Akibatnya, informasi yang seharusnya membantu justru berubah menjadi sumber kebingungan.

Ia menilai, penting untuk membedakan antara tingkat proses pengolahan dan kualitas akhir produk. Tidak semua makanan yang melalui proses teknologi pangan menjadi buruk bagi kesehatan. Banyak produk justru membutuhkan pengolahan agar aman, awet, dan layak dikonsumsi. Karena itu, pengolahan pangan tidak bisa dinilai hanya dari kesan visual pada label.

Pemahaman yang tepat tentang UPF akan membantu masyarakat membaca informasi pangan secara lebih objektif. Konsumen dapat menilai produk berdasarkan fungsi, komposisi, dan kebutuhan konsumsi harian. Cara pandang ini juga mencegah munculnya stigma terhadap seluruh makanan kemasan. Pada akhirnya, literasi pangan menjadi kunci dalam memilih produk secara bijak.

Cara membaca komposisi

Konsumen disarankan membaca label komposisi dengan tenang dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Langkah pertama adalah mengenali bahan utama yang digunakan dalam produk. Setelah itu, perhatikan fungsi bahan tambahan yang tercantum di kemasan. Informasi tersebut membantu pembeli memahami alasan suatu bahan dimasukkan ke dalam produk.

Selain nama bahan, konsumen juga perlu melihat aturan pakai dan klaim produk jika tersedia. Produk yang baik umumnya mencantumkan informasi yang jelas dan mudah dipahami. Jika ada keraguan, konsumen dapat membandingkan dengan produk sejenis atau mencari sumber informasi resmi. Cara ini lebih aman daripada sekadar mengandalkan opini di media sosial.

Purwiyatno menekankan bahwa literasi pangan perlu diperkuat agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan. Pemahaman tentang bahan tambahan, proses produksi, dan keamanan pangan akan membuat konsumen lebih percaya diri. Dengan pengetahuan yang cukup, pembeli dapat menilai produk secara lebih objektif. Hal ini juga mendorong kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, label komposisi seharusnya dipahami sebagai alat informasi, bukan sebagai sumber ketakutan. Produk kemasan tidak otomatis buruk hanya karena memuat istilah teknis atau bahan tambahan. Yang paling penting adalah fungsi, batas penggunaan, serta kesesuaian dengan regulasi. Dengan pendekatan seperti itu, konsumen bisa lebih cermat tanpa kehilangan sikap kritis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!