Banyak orang merasa ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan. Nama bahan yang terdengar asing, teknis, atau mirip bahan kimia sering langsung dianggap berbahaya. Tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan istilah ultra-processed food yang ramai dibahas di media sosial. Namun, pakar teknologi pangan IPB University menilai anggapan tersebut belum tentu tepat.
Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi menegaskan bahwa kualitas suatu produk tidak bisa dinilai hanya dari daftar bahan pada kemasan. Menurutnya, penilaian yang tepat harus melihat fungsi bahan, kesesuaian dengan regulasi, dan perannya dalam menjaga mutu pangan. Ia menyampaikan pandangan itu saat dihubungi detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Dari penjelasan itu, terlihat bahwa label komposisi perlu dibaca dengan lebih kritis, bukan sekadar dicurigai.
Label Makanan Kemasan
Label komposisi kerap menjadi sumber kekhawatiran bagi konsumen. Banyak orang menilai produk dari panjang pendeknya daftar bahan yang tercantum. Padahal, panjang daftar bahan tidak otomatis berarti produk itu buruk. Penilaian semacam ini sering mengabaikan fungsi masing-masing komponen.
Menurut Prof Purwiyatno, bahan dengan nama teknis tidak selalu identik dengan bahan berbahaya. Sebagian besar justru digunakan untuk menjaga rasa, tekstur, dan daya simpan produk. Dalam industri pangan, setiap bahan memiliki tujuan yang jelas. Karena itu, konsumen perlu memahami konteks sebelum menarik kesimpulan.
Ia menilai persepsi negatif sering muncul karena istilah pada label terdengar asing. Hal tersebut membuat sebagian konsumen mengaitkannya dengan proses pengolahan yang berlebihan. Padahal, istilah teknis tidak selalu mencerminkan risiko kesehatan. Yang lebih penting adalah apakah bahan tersebut diizinkan dan digunakan sesuai batas aman.
Literasi label pangan menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru. Dengan pemahaman yang baik, konsumen dapat membedakan antara bahan tambahan yang aman dan bahan yang perlu diwaspadai. Sikap kritis tetap diperlukan, tetapi harus berdasarkan pengetahuan yang benar. Cara ini membantu masyarakat memilih produk secara lebih rasional.
Bahan Tambahan Pangan
Penggunaan bahan tambahan pangan sering disalahpahami sebagai tanda produk bermasalah. Dalam praktiknya, bahan tambahan justru memiliki fungsi penting dalam industri makanan. Bahan tersebut dapat membantu menjaga kualitas, stabilitas, dan keamanan produk. Tanpa bahan tambahan tertentu, sebagian produk akan lebih cepat rusak.
Prof Purwiyatno menjelaskan bahwa setiap bahan tambahan harus memenuhi ketentuan yang berlaku. Artinya, aspek keamanan tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya bahan tersebut. Dosis penggunaan dan tujuan pemakaiannya juga menjadi pertimbangan utama. Jika sesuai aturan, bahan tambahan tidak otomatis menimbulkan masalah kesehatan.
Ia menambahkan bahwa produsen menggunakan bahan tambahan untuk menjaga karakteristik produk tetap konsisten. Misalnya, agar warna, rasa, atau tekstur tidak berubah selama penyimpanan. Fungsi ini penting terutama pada produk yang beredar luas dan memiliki masa simpan tertentu. Karena itu, keberadaan bahan tambahan tidak dapat disederhanakan sebagai sesuatu yang negatif.
Di sisi lain, konsumen tetap berhak mengetahui isi produk yang dibeli. Informasi pada label membantu masyarakat membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing. Namun, informasi tersebut sebaiknya dibaca secara utuh, bukan dipotong-potong. Dengan begitu, penilaian terhadap produk menjadi lebih adil dan akurat.
Ultra-processed Food
Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di ruang publik. Istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan makanan yang melalui proses pengolahan panjang. Namun, tidak semua produk dengan komposisi teknis langsung bisa dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Penetapannya membutuhkan pemahaman yang lebih luas tentang proses dan formulasi produk.
Menurut pandangan pakar, publik kerap menghubungkan UPF dengan bahaya kesehatan secara otomatis. Padahal, label semacam itu tidak cukup jika hanya dilihat dari satu aspek. Perlu dipahami apakah produk tersebut dikonsumsi wajar, bagaimana komposisinya, dan bagaimana pola makan secara keseluruhan. Dengan kata lain, konteks konsumsi tetap sangat menentukan.
Karena itu, kekhawatiran terhadap UPF sebaiknya diiringi dengan informasi ilmiah yang memadai. Penyebaran narasi yang terlalu sederhana justru berisiko menyesatkan konsumen. Masyarakat bisa saja menghindari produk tertentu tanpa alasan yang kuat. Pada akhirnya, keputusan yang diambil menjadi tidak proporsional.
Penjelasan tentang UPF penting agar publik tidak menyamakan semua makanan kemasan sebagai ancaman. Ada produk yang memang perlu dibatasi, tetapi ada pula yang masih aman dikonsumsi dalam porsi wajar. Kuncinya adalah memahami komposisi, proses, dan kebutuhan gizi. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat dapat bersikap lebih seimbang.
Cara Membaca Label
Membaca label makanan seharusnya menjadi kebiasaan yang membantu konsumen, bukan menakut-nakuti. Langkah pertama adalah melihat daftar bahan secara menyeluruh, bukan hanya satu nama yang terdengar asing. Setelah itu, perhatikan juga informasi nilai gizi dan takaran saji. Dari sana, gambaran produk bisa dipahami dengan lebih utuh.
Konsumen juga perlu memperhatikan fungsi bahan yang tercantum pada kemasan. Jika bahan tersebut berperan menjaga mutu, stabilitas, atau keamanan, keberadaannya bisa menjadi hal yang wajar. Yang patut diperiksa adalah apakah penggunaannya sesuai ketentuan. Cara membaca yang benar akan mengurangi salah tafsir terhadap produk pangan.
Prof Purwiyatno mengingatkan bahwa penilaian terhadap makanan kemasan tidak boleh hanya berdasarkan kesan visual pada label. Nama yang rumit tidak selalu berarti berbahaya, sama seperti nama yang sederhana tidak selalu menjamin kualitas terbaik. Yang perlu diutamakan adalah pemahaman ilmiah dan kepatuhan terhadap regulasi. Dengan demikian, konsumen dapat menilai produk secara lebih objektif.
Di tengah banjir informasi di media sosial, literasi pangan menjadi semakin penting. Masyarakat perlu memilah mana informasi yang berbasis sains dan mana yang sekadar opini. Sikap hati-hati tetap diperlukan, tetapi jangan sampai berubah menjadi ketakutan berlebihan. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, label komposisi bisa dibaca sebagai panduan, bukan sumber kecemasan.
