Pakar IPB Ingatkan Risiko Salah Paham Istilah UPF

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 17:59 WIB 2
Pakar IPB Ingatkan Risiko Salah Paham Istilah UPF

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah sarden kalengan yang semula dicap berbahaya kemudian dinilai tidak masuk kategori tersebut. Perdebatan ini memunculkan anggapan bahwa UPF selalu tidak sehat, sementara pangan non-UPF otomatis lebih baik untuk tubuh. Anggapan itu, menurut pakar teknologi pangan, terlalu menyederhanakan persoalan. Penilaian terhadap pangan, kata dia, perlu melihat isi dan konteks konsumsinya, bukan hanya label prosesnya.

Banyak konten kesehatan mendorong masyarakat menghindari makanan seperti mi instan, nugget, sosis, dan produk kemasan lain yang dianggap terlalu diproses. Namun, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai istilah UPF masih menyisakan perdebatan ilmiah. Ia menyebut definisi UPF belum sepenuhnya konsisten dalam penerapannya. Karena itu, label tersebut tidak bisa langsung dijadikan patokan tunggal untuk menilai apakah suatu pangan sehat atau tidak.

Polemik Ultra-Processed Food

Prof Purwiyatno menilai istilah UPF sering menimbulkan salah paham di masyarakat. Menurutnya, definisi yang belum benar-benar kokoh membuat penerapannya mudah bias, multitafsir, dan tidak seragam. Kondisi ini membuat satu produk bisa dipandang berbeda oleh orang yang berbeda. Akibatnya, diskusi tentang pangan olahan kerap bergeser menjadi penilaian hitam-putih.

Ia menjelaskan bahwa masalah utama muncul saat pangan yang masuk kategori UPF langsung dianggap pasti tidak menyehatkan. Padahal, produk pangan olahan memiliki karakteristik, fungsi, dan kandungan gizi yang sangat beragam. Sebagian produk justru dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tertentu. Dengan demikian, tingkat pengolahan tidak selalu sejalan dengan kualitas gizinya.

Dalam pandangannya, istilah UPF seharusnya dipahami sebagai alat klasifikasi, bukan vonis kesehatan. Sebuah produk bisa saja melalui proses industri yang panjang, tetapi tetap aman dikonsumsi dan sesuai standar. Sebaliknya, pangan yang tampak sederhana belum tentu otomatis lebih bergizi. Karena itu, penilaian perlu dilakukan secara lebih komprehensif dan berbasis data.

Gizi Tidak Bisa Diabaikan

Prof Purwiyatno menegaskan bahwa kandungan gizi merupakan faktor penting dalam menilai kualitas pangan. Protein, vitamin, mineral, serat, hingga komposisi energi harus ikut diperhitungkan. Jika hanya fokus pada label proses, masyarakat berisiko mengabaikan manfaat gizi dari produk tertentu. Padahal, asupan harian tidak dibentuk oleh satu parameter saja.

Ia juga menyoroti bahwa beberapa pangan olahan justru berperan membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Produk fortifikasi, misalnya, dirancang untuk menambah zat gizi yang mungkin kurang dari pola makan sehari-hari. Susu UHT juga sering menjadi pilihan praktis dengan kandungan gizi yang masih bermanfaat. Dalam konteks ini, proses pengolahan tidak otomatis menghapus nilai gizinya.

Karena itu, masyarakat disarankan membaca informasi gizi secara cermat sebelum mengambil kesimpulan. Tak semua makanan kemasan harus dihindari, selama komposisinya sesuai kebutuhan dan dikonsumsi dalam porsi wajar. Pemahaman yang lebih tepat akan membantu publik memilih makanan secara lebih rasional. Pendekatan ini dinilai lebih sehat daripada sekadar mengikuti stigma.

Stigma Pada Produk Olahan

Menurut Prof Purwiyatno, sejumlah produk yang sebenarnya aman dan bergizi ikut terseret stigma negatif karena label UPF. Ia menyebut susu UHT, pangan fortifikasi, dan beberapa produk lokal buatan IMK atau UMKM sebagai contoh yang kerap terdampak. Produk-produk tersebut tidak serta-merta kehilangan kualitas hanya karena diproses. Yang terpenting tetap keamanan, mutu, dan kecukupan gizinya.

Ia menilai stigma semacam itu dapat merugikan produsen pangan yang sudah mematuhi standar. Ketika masyarakat menolak semua pangan olahan secara umum, produk yang sebenarnya bermanfaat ikut terdampak. Padahal, industri pangan berperan besar dalam menyediakan pilihan yang praktis dan terjangkau. Dalam banyak kasus, produk olahan justru membantu distribusi pangan lebih luas ke masyarakat.

Karena itu, penilaian terhadap produk olahan perlu dibedakan satu per satu. Tidak semua pangan kemasan memiliki karakter yang sama, baik dari sisi bahan baku maupun proses pembuatannya. Masyarakat perlu menghindari generalisasi yang berlebihan. Sikap kritis tetap penting, tetapi harus dibarengi pemahaman yang tepat.

Cara Menilai Pangan Dengan Tepat

Prof Purwiyatno menyarankan agar penilaian pangan tidak berhenti pada tingkat pengolahan saja. Menurutnya, kandungan gizi, keamanan pangan, porsi, dan frekuensi konsumsi harus menjadi pertimbangan utama. Keempat faktor ini lebih relevan untuk menentukan dampak pangan terhadap kesehatan. Dengan pendekatan tersebut, penilaian menjadi lebih adil dan ilmiah.

Ia menekankan bahwa tidak ada satu label tunggal yang cukup untuk menjelaskan kualitas pangan secara utuh. Pangan yang sama bisa menjadi bagian dari pola makan sehat atau tidak sehat, tergantung cara konsumsinya. Porsi berlebihan dan frekuensi terlalu sering dapat mengubah dampak dari produk yang semula dianggap aman. Karena itu, konteks konsumsi tidak boleh diabaikan.

Di tengah ramainya perdebatan soal UPF, masyarakat diharapkan lebih cermat memilah informasi. Pemahaman yang baik akan membantu publik memilih pangan dengan lebih bijak, tanpa terjebak pada stigma. Pengetahuan gizi dasar dan kebiasaan membaca label menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan. Dengan begitu, keputusan konsumsi tidak lagi didorong oleh ketakutan, melainkan oleh informasi yang benar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!