Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62 Persen di Inacraft

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 05:03 WIB 2
Omzet UMKM Binaan Pertamina Naik Hampir 62 Persen di Inacraft

PT Pertamina (Persero) mencatat lonjakan omzet hampir 62 persen dari partisipasi 32 UMKM binaannya selama lima hari pameran Inacraft 2025. Pameran itu menjadi ajang penting bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar, memperkenalkan produk unggulan, dan menjaring pembeli baru dari dalam maupun luar negeri. Kinerja tersebut menunjukkan pembinaan UMKM yang dilakukan Pertamina mulai berdampak nyata pada daya saing pelaku usaha. Pertamina menyebut dukungan terhadap UMKM tidak hanya berfokus pada promosi, tetapi juga pada penguatan kapasitas usaha.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengatakan peningkatan omzet itu mencerminkan kualitas produk binaan yang terus membaik. Menurut dia, perusahaan ingin memastikan UMKM siap bersaing di pasar nasional hingga global. Selama pameran, para pelaku usaha datang dari sektor wastra, kriya, fesyen, kuliner, hingga co-branding. Keikutsertaan mereka juga memperlihatkan bahwa produk lokal mampu menarik perhatian pasar yang lebih luas.

UMKM Binaan Pertamina

Partisipasi UMKM binaan Pertamina di Inacraft 2025 terbagi ke dalam beberapa area pameran. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A. Enam UMKM kuliner unggulan hadir di Talam Hall B. Sementara itu, tujuh UMKM co-branding ikut berpartisipasi secara mandiri.

Komposisi tersebut memperlihatkan strategi Pertamina dalam memberi ruang bagi berbagai jenis usaha. Setiap kategori produk mendapat panggung sesuai karakter pasar yang dibidik. Pola ini dinilai membantu pengunjung lebih mudah mengenali keunggulan masing-masing UMKM. Pada saat yang sama, pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk menguji minat konsumen secara langsung.

Pertamina menegaskan pembinaan UMKM dijalankan melalui pendampingan yang berkelanjutan. Program itu mencakup pelatihan, penguatan kapasitas produksi, dan perluasan akses pasar. Perusahaan juga mendorong pelaku usaha untuk menjaga kualitas, konsistensi, dan daya saing produk. Pendekatan tersebut diharapkan membuat UMKM tidak hanya tampil di pameran, tetapi juga berkembang setelah acara berakhir.

Dukungan terhadap UMKM disebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya poin ketiga. Fokusnya adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat industri kreatif, dan menumbuhkan kewirausahaan. Pertamina menilai keberhasilan UMKM harus diukur dari transaksi sekaligus dampak sosial dan budaya. Karena itu, pembinaan diarahkan agar usaha kecil dapat tumbuh lebih tangguh dan berkelanjutan.

Batik Mata Andau Mencuri Perhatian

Salah satu peserta yang menonjol adalah Batik Mata Andau asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha rumahan itu dirintis Yoga Rustaman bersama istrinya sejak 2017. Mereka membawa misi mengenalkan batik khas Dayak kepada masyarakat luas. Dalam ajang ini, produk mereka berhasil menarik perhatian banyak pengunjung.

Selama pameran, Batik Mata Andau melibatkan sekitar 20 pengrajin, sebagian besar perempuan berusia di atas 50 tahun. Dalam hitungan hari, mereka menjual lebih dari 800 outer bermotif Dayak. Capaian itu menjadi bukti bahwa produk berbasis budaya masih memiliki pasar yang kuat. Pameran juga membuka peluang bagi pengrajin lokal untuk memperoleh penghasilan yang lebih stabil.

Tak hanya pembeli lokal, produk Batik Mata Andau juga diminati calon pelanggan dari Korea, Jepang, hingga Turki. Sejumlah tokoh nasional yang hadir di lokasi turut memberikan apresiasi terhadap karya mereka. Bahkan, salah satu BUMN transportasi mempercayakan pembuatan seragam bernuansa budaya Nusantara kepada UMKM tersebut. Momentum ini memperlihatkan bahwa produk daerah dapat masuk ke pasar yang lebih prestisius.

Yoga menilai keikutsertaan di Inacraft 2025 bersama Pertamina membuka banyak peluang baru. Menurut dia, omzet meningkat, apresiasi datang, dan jaringan pembeli dari luar negeri mulai terbentuk. Ia menegaskan pendampingan Pertamina sangat membantu, bukan hanya dalam urusan pameran. Manfaatnya terasa langsung bagi pengembangan usaha dan keberlanjutan produksi.

Inovasi Batik Ramah Lingkungan

Perhatian pengunjung juga tertuju pada Smart Batik Yogyakarta. UMKM ini memperkenalkan inovasi Batik Sawit, kain batik ramah lingkungan yang memadukan kearifan lokal dengan teknologi hijau. Konsep tersebut dinilai relevan dengan tren industri kreatif yang semakin peduli pada keberlanjutan. Produk ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi dapat lahir dari tradisi yang dikembangkan secara modern.

Founder Smart Batik, Miftahudin Nur Ihsan, menyebut pameran pertamanya bersama Pertamina berjalan sangat baik. Ia mengatakan banyak relasi baru terjalin selama kegiatan berlangsung. Peluang kolaborasi juga terbuka, termasuk dengan Duta Besar RI untuk Meksiko, Toferry Primanda Soetikno. Bagi Smart Batik, ajang ini menjadi pintu masuk untuk memperluas jejaring bisnis.

Smart Batik saat ini memberdayakan 65 ibu-ibu pembatik di Yogyakarta. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa usaha kreatif dapat memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas perempuan. Model pemberdayaan seperti ini juga memperkuat nilai sosial dari sebuah produk budaya. Karena itu, batik tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga sarana penguatan ekonomi keluarga.

Pertamina menilai kisah Smart Batik memperlihatkan pentingnya inovasi dalam pengembangan UMKM. Produk yang memiliki identitas kuat cenderung lebih mudah menembus pasar baru. Dengan dukungan pendampingan, pelaku usaha dapat menggabungkan nilai tradisi, teknologi, dan kebutuhan pasar. Kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.

Dampak Ekonomi Dan Sosial

Kenaikan omzet hampir 62 persen selama Inacraft 2025 memberi sinyal positif bagi ekosistem UMKM binaan Pertamina. Pameran tersebut tidak hanya menghasilkan transaksi, tetapi juga memperkuat kepercayaan pasar terhadap produk lokal. Dalam konteks ekonomi, capaian itu membantu meningkatkan perputaran usaha kecil. Dalam konteks sosial, pelaku usaha mendapatkan pengakuan yang lebih luas atas karya mereka.

Pertamina menekankan bahwa keberhasilan UMKM tidak boleh dilihat dari angka penjualan semata. Dampak terhadap tenaga kerja, komunitas, dan pelestarian budaya juga menjadi ukuran penting. Karena itu, perusahaan mendorong pembinaan yang menyentuh aspek produksi, pemasaran, dan pengembangan kapasitas. Pendekatan menyeluruh dinilai lebih efektif untuk menciptakan usaha yang tahan terhadap perubahan pasar.

Keikutsertaan 32 UMKM dalam pameran besar seperti Inacraft juga memperlihatkan pentingnya ruang promosi bagi pelaku usaha kecil. Melalui ajang seperti ini, UMKM dapat bertemu langsung dengan konsumen, pembeli potensial, dan mitra bisnis. Interaksi tersebut membantu mereka memahami selera pasar sekaligus memperbaiki strategi usaha. Jika dilakukan secara konsisten, manfaatnya dapat berlanjut jauh setelah pameran selesai.

Dengan hasil tersebut, Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi UMKM agar tumbuh lebih mandiri. Dukungan yang diberikan diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memperluas akses pasar. Di sisi lain, produk lokal juga berpeluang membawa identitas budaya Indonesia ke panggung internasional. Capaian di Inacraft 2025 menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan yang tepat dapat menghasilkan dampak ekonomi yang nyata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!