OJK: Koreksi IHSG Bersifat Jangka Pendek, Prospek Tetap Kuat

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 20:47 WIB 4
OJK: Koreksi IHSG Bersifat Jangka Pendek, Prospek Tetap Kuat

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG saat ini dipengaruhi tekanan global dan dinamika reformasi integritas di pasar modal. Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah 2026 di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Meski pasar saham tengah bergejolak, Friderica menegaskan investasi di Indonesia tetap memiliki prospek jangka panjang yang baik. Menurut dia, fundamental ekonomi nasional masih kuat, sementara OJK terus mendorong reformasi untuk menjaga ketahanan pasar modal dan sektor jasa keuangan.

IHSG dan Tekanan Global

Friderica menjelaskan bahwa koreksi IHSG tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan beriringan dengan tantangan global yang memengaruhi sentimen investor. Kondisi tersebut juga muncul di tengah upaya reformasi integritas yang sedang dijalankan di pasar modal Indonesia. Karena itu, volatilitas pasar dinilai sebagai bagian dari dinamika yang wajar.

Ia menegaskan bahwa pelemahan indeks saat ini tidak boleh dibaca sebagai hilangnya daya tarik investasi di Indonesia. Menurutnya, pasar modal tetap menjadi instrumen yang relevan bagi investor yang memiliki horizon jangka panjang. Sikap tenang dan disiplin dinilai penting agar investor tidak terjebak pada reaksi sesaat.

Dalam pandangan OJK, koreksi pasar sering kali mencerminkan penyesuaian terhadap berbagai informasi ekonomi, baik dari dalam maupun luar negeri. Sentimen global, kebijakan moneter, hingga kondisi geopolitik dapat memengaruhi pergerakan indeks secara harian. Namun, faktor-faktor tersebut tidak mengubah arah besar perekonomian Indonesia yang masih bertumbuh.

Friderica menyampaikan bahwa penguatan tata kelola pasar modal tetap menjadi prioritas agar kepercayaan investor terjaga. Reformasi integritas di sektor ini diyakini akan membantu menciptakan pasar yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan. Dengan demikian, koreksi IHSG dipandang sebagai fase yang bisa dilalui tanpa mengganggu prospek jangka panjang.

Fundamental Ekonomi Masih Kuat

OJK menilai kekuatan fundamental ekonomi menjadi alasan utama mengapa investasi di Indonesia tetap menarik. Friderica menyebut, pertumbuhan ekonomi akan terus dipercepat melalui berbagai program strategis pemerintah. Di sisi lain, OJK berkomitmen menjaga daya tahan sektor jasa keuangan agar tetap stabil.

Menurut dia, fondasi ekonomi yang solid akan menjadi penopang utama bagi pasar modal dalam jangka panjang. Ketika fundamental terjaga, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk tumbuh dan menciptakan nilai tambah. Kondisi itu pada akhirnya akan mendukung kepercayaan investor domestik maupun asing.

Friderica juga menekankan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari stabilitas sistem keuangan. Oleh karena itu, OJK terus melakukan penguatan pengawasan dan pembenahan kelembagaan. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi risiko sistemik dan menjaga pasar tetap kredibel.

Ia menambahkan bahwa prospek ekonomi Indonesia masih terbuka lebar selama reformasi dan koordinasi lintas lembaga terus dijalankan. Pemerintah dan otoritas keuangan disebut perlu menjaga konsistensi kebijakan agar pertumbuhan tetap inklusif. Dengan landasan tersebut, pasar modal diyakini dapat pulih secara bertahap.

Fokus OJK pada UMKM

Selain pasar modal, OJK juga memperkuat ekosistem pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Friderica mengatakan lembaganya baru membentuk departemen khusus untuk pengembangan UMKM. Langkah ini menunjukkan bahwa sektor riil tetap menjadi perhatian utama otoritas.

Menurut dia, UMKM memiliki peran besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, akses pembiayaan yang lebih luas perlu terus didorong agar pelaku usaha dapat naik kelas. OJK berharap penguatan ini dapat memperluas kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya soal penyaluran dana, tetapi juga pendampingan dan literasi keuangan. Dengan dukungan tersebut, pelaku usaha diharapkan mampu mengelola bisnis secara lebih sehat dan berkelanjutan. Pendekatan ini juga dinilai penting untuk menekan risiko kredit bermasalah.

Friderica menilai kehadiran departemen baru khusus UMKM akan mempermudah koordinasi program penguatan sektor tersebut. OJK ingin memastikan pembiayaan berjalan lebih tepat sasaran dan menjangkau pelaku usaha di berbagai daerah. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi nasional dari bawah.

Keuangan Digital Berintegritas

Friderica turut menyoroti pentingnya pendalaman pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Salah satu opsi yang didorong adalah pengembangan obligasi daerah untuk mendukung kebutuhan pembangunan di wilayah. Instrumen tersebut dinilai dapat membuka ruang pembiayaan yang lebih beragam.

Ia menilai daerah membutuhkan sumber pendanaan yang tidak hanya bergantung pada anggaran pusat. Dengan adanya obligasi daerah, pemerintah daerah berpotensi memperoleh alternatif pembiayaan yang lebih fleksibel. Namun, pengelolaannya harus dilakukan secara hati-hati agar tetap sesuai prinsip kehati-hatian.

OJK juga mendorong ekonomi hijau sebagai bagian dari transformasi pembiayaan nasional. Di saat yang sama, pengembangan keuangan digital dinilai menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Friderica menegaskan, inovasi digital harus berjalan aman dan berintegritas agar manfaatnya optimal.

Menurut dia, pengembangan sektor keuangan saat ini tidak akan maksimal tanpa dukungan teknologi digital. Karena itu, OJK ingin memastikan transformasi digital tetap sejalan dengan perlindungan konsumen dan stabilitas sistem keuangan. Dengan keseimbangan tersebut, pembiayaan pembangunan diharapkan semakin efisien dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!