OJK Catat Kerugian Scam Tembus Rp 9,5 Triliun

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 21:40 WIB 5
OJK Catat Kerugian Scam Tembus Rp 9,5 Triliun

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, mengungkap maraknya penipuan di sektor jasa keuangan yang terus memakan korban di Indonesia. Hingga 30 April 2026, OJK bersama Indonesia Anti-Scam Centre menerima 549.074 laporan dengan total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp 9,5 triliun.

Data itu disampaikan Friderica dalam Jogja Financial Festival 2026 pada Jumat, 22 Mei 2026, sebagai peringatan agar masyarakat semakin waspada terhadap berbagai modus scam. Ia menegaskan, pelaku kini memanfaatkan ruang digital sehingga korban kerap menyerahkan uang, password, dan OTP secara sukarela.

Modus Scam Paling Banyak

Friderica menjelaskan bahwa ada lima modus penipuan yang paling sering dilaporkan masyarakat kepada OJK dan IASC. Urutan pertama adalah penipuan transaksi belanja online, disusul impersonation atau fake call, penipuan investasi, penipuan kerja, dan penipuan melalui media sosial.

Modus transaksi belanja online tercatat paling banyak dengan 76.724 laporan. Setelah itu, impersonation atau fake call membukukan 44.889 laporan, sementara penipuan investasi mencapai 26.613 laporan.

Adapun penipuan kerja mengumpulkan 23.906 laporan, sedangkan penipuan melalui media sosial berada di posisi kelima dengan 20.394 aduan. Pola ini menunjukkan bahwa penipu terus menyesuaikan cara untuk menjangkau korban dari berbagai kalangan.

Menurut OJK, tingginya laporan scam menandakan kebutuhan literasi keuangan digital masih sangat mendesak. Masyarakat diminta lebih kritis terhadap tawaran yang terlihat menguntungkan tetapi tidak memiliki kejelasan.

Belanja Online Jadi Sasaran

Penipuan transaksi belanja online menjadi modus yang paling banyak dilaporkan karena memanfaatkan kebiasaan masyarakat bertransaksi secara cepat. Pelaku biasanya menawarkan harga murah, promo terbatas, atau barang populer dengan iming-iming yang sulit ditolak.

Setelah korban tergoda, pelaku kerap meminta pembayaran segera melalui jalur yang tidak aman. Dalam banyak kasus, barang tidak pernah dikirim, atau yang diterima tidak sesuai dengan janji awal.

Friderica menilai modus ini berbahaya karena tampil sederhana dan dekat dengan aktivitas harian masyarakat. Oleh karena itu, konsumen diminta memeriksa reputasi penjual, kanal pembayaran, dan keaslian tautan sebelum melakukan transaksi.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergesa-gesa saat menerima penawaran di platform digital. Langkah verifikasi sederhana dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan yang sulit dipulihkan.

Love Scam Kian Berkembang

Selain belanja online, penipuan melalui media sosial juga menjadi perhatian karena terus berkembang, terutama love scam. Modus ini memanfaatkan pendekatan emosional dengan berpura-pura menjalin hubungan asmara secara daring.

Pelaku biasanya menggunakan foto menarik yang belakangan diketahui merupakan hasil editan atau bantuan kecerdasan buatan. Setelah kepercayaan terbentuk, korban diarahkan untuk mengirim uang dengan berbagai alasan yang terdengar meyakinkan.

Friderica menyebut modus ini semakin sering muncul karena menyasar sisi psikologis korban. Banyak orang tidak sadar bahwa hubungan yang dibangun sepenuhnya palsu dan hanya bertujuan menguras dana.

Ia meminta masyarakat lebih waspada terhadap akun yang terlalu cepat menunjukkan kedekatan emosional. Setiap permintaan uang dari orang yang tidak pernah ditemui langsung perlu dicurigai sejak awal.

Waspada Di Era Digital

Friderica menegaskan bahwa penipuan di era digital berbeda dengan tindak kejahatan konvensional. Jika dulu pelaku harus mendekat secara fisik, kini korban justru bisa mengirim uang sendiri tanpa disadari.

Ia menilai situasi ini membuat kehati-hatian menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan finansial. Masyarakat harus berhati-hati saat diminta memberikan password, OTP, atau akses pribadi lainnya kepada pihak yang tidak dikenal.

OJK mendorong masyarakat untuk segera melapor jika menemukan indikasi penipuan agar peluang pemulihan dana lebih besar. Pelaporan cepat juga membantu otoritas menelusuri pola kejahatan dan menekan penyebaran modus serupa.

Dengan tingginya jumlah laporan dan kerugian yang terus membengkak, kewaspadaan publik menjadi benteng utama menghadapi scam. Edukasi, verifikasi, dan disiplin digital perlu menjadi kebiasaan agar masyarakat tidak mudah menjadi korban berikutnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!