MET Gala 2026 sempat diwarnai aksi boikot, namun ajang mode paling bergengsi di dunia itu tetap mencatat pencapaian besar. Dana sebesar US$ 42 juta atau sekitar Rp 730 miliar berhasil terkumpul untuk mendukung Costume Institute sebelum para tamu melangkah di tangga ikonis Metropolitan Museum of Art, New York City.
Pengumuman itu disampaikan Direktur sekaligus CEO Metropolitan Museum of Art, Max Hollein, dalam jumpa pers pada Senin, 4 Mei 2026, beberapa jam sebelum acara dimulai. Capaian tersebut melampaui rekor tahun lalu, saat MET Gala menghimpun US$ 31 juta, dan menegaskan kembali kekuatan acara ini sebagai penggalangan dana museum terbesar di dunia.
Fashion dan rekor dana
Rekor baru itu menunjukkan bahwa MET Gala tetap memiliki daya tarik besar, meski tekanan publik dan seruan boikot sempat muncul menjelang acara. Antusiasme para undangan dan perhatian global terhadap dunia fashion membuat penggalangan dana berjalan sangat kuat.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, lonjakan dana tahun ini terbilang signifikan. Kenaikan dari US$ 31 juta menjadi US$ 42 juta menunjukkan posisi MET Gala yang semakin penting bagi pendanaan Costume Institute.
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung aktivitas kuratorial dan program pameran Costume Institute. Lembaga ini menjadi salah satu pusat penting bagi kajian seni busana di bawah Metropolitan Museum of Art.
Pameran Costume Art
Tahun ini, MET Gala menjadi pembuka pameran bertajuk Costume Art, yang menempatkan fashion dalam bingkai seni rupa. Pameran tersebut dirancang untuk memperlihatkan bagaimana busana dapat dibaca sebagai karya artistik, bukan sekadar produk gaya hidup.
Max Hollein menegaskan bahwa pembukaan Costume Art memperkuat pesan bahwa fashion memiliki nilai budaya dan artistik yang tinggi. Pernyataan itu juga sejalan dengan pembukaan Condé Nast Galleries di museum yang sama.
Kehadiran dua agenda tersebut memperluas peran MET Gala di luar peragaan busana dan sorotan selebritas. Acara ini kembali diposisikan sebagai ruang pertemuan antara mode, seni, dan institusi budaya.
Anna Wintour dan para bintang
Di balik suksesnya MET Gala, Anna Wintour kembali memegang peran sebagai co-chair setelah pertama kali memimpin acara ini pada 1995. Sosok yang lama dikenal sebagai tokoh sentral Vogue itu tetap menjadi figur kunci dalam menjaga daya tarik acara tahunan tersebut.
Tahun ini, Wintour didampingi oleh Beyoncé Knowles-Carter, Nicole Kidman, dan Venus Williams sebagai co-chair. Kehadiran nama-nama besar dari musik, film, dan olahraga itu mempertegas karakter MET Gala sebagai ajang lintas industri.
Susunan panitia dan tamu kehormatan tersebut menunjukkan bahwa MET Gala bukan hanya panggung mode, tetapi juga simbol pengaruh budaya populer. Kombinasi figur publik dan agenda seni membuat perhatian terhadap acara ini tetap tinggi di seluruh dunia.
Dampak bagi Costume Institute
Rekor dana yang terkumpul akan memberi ruang lebih besar bagi Costume Institute untuk mengembangkan pameran dan koleksi busana. Dukungan finansial yang kuat juga membuka peluang bagi riset dan kurasi yang lebih luas di masa mendatang.
Dengan model penggalangan dana yang konsisten, MET Gala terus menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan program museum. Acara ini membuktikan bahwa dunia fashion dapat memberi kontribusi nyata bagi institusi seni.
Pencapaian tahun ini sekaligus memperkuat posisi MET Gala sebagai ajang yang mampu bertahan di tengah kontroversi. Di saat sorotan publik tertuju pada boikot, acara itu justru menutup hari dengan rekor baru dan pesan kuat tentang nilai seni dalam fashion.
