Menolak Punah Ungkap Krisis Sandang Indonesia

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 13 Mei 2026 01:07 WIB 6
Menolak Punah Ungkap Krisis Sandang Indonesia

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen tekstil dan garmen terbesar di dunia, dengan sektor tersebut berkontribusi signifikan bagi ekonomi nasional.

Baru-baru ini Sejauh Mata Memandang (SMM), brand fesyen berkelanjutan milik Chitra Subyakto, bersama Ekspedisi Indonesia Baru menggelar penayangan film dokumenter Menolak Punah karya sutradara Dandhy Laksono.

Film ini disebut sebagai kelanjutan dari Plastic Island dan mengangkat krisis serta cemaran mikroplastik yang menyasar berbagai lapisan kehidupan, termasuk pola konsumsi sandang.

Krisis Sandang Indonesia

Film ini menyoroti fakta bahwa kapas menjadi simbol kenegaraan yang tercantum dalam Garuda Pancasila, khususnya sila kelima.

Dandhy Laksono menyatakan bahwa risetnya menghubungkan impor kapas, limbah tekstil, dan paparan mikroplastik dalam tubuh manusia.

Melalui film ini, para penonton diajak membicarakan masalah yang sering luput dari perhatian publik.

Penayangan menegaskan Indonesia masih mengimpor 99% kebutuhan kapasnya.

Angka itu menyoroti ketergantungan pada bahan baku tekstil impor.

Krisis ini menunjukkan bagaimana kapas sebagai simbol nasional terserap ke dalam dinamika industri fesyen.

Dandhy Laksono saat riset menegaskan keterkaitan krisis sandang dengan impor kapas serta limbah tekstil.

Limbah cair maupun pakaian bekas yang tidak terurai menjadi bagian dari polusi mikroplastik.

Krisis ini akhirnya meluas ke paparan mikroplastik dalam tubuh manusia melalui pakaian sintetis.

Keduanya mendorong pembuat kebijakan dan publik untuk membuka dialog lebih luas.

Film ini menjadi ajakan untuk mengangkat isu yang selama ini terabaikan.

Kedua pihak berharap diskusi yang lebih luas dapat mendorong solusi berkelanjutan.

Solusi & Kebiasaan

Salah satu fokus film adalah bagaimana mengurangi sampah fesyen melalui tindakan konkrit.

Dandhy Laksono menggambarkan bahwa solusi berangkat dari perubahan perilaku konsumen dan praktik industri.

Kolaborasi SMM dan Ekspedisi Indonesia Baru menekankan bahwa perubahan ini bisa dimulai dari individu hingga sektor industri.

Pengamat Fashion, Lynda Ibrahim, menilai overconsumption menjadi salah satu penyebab utama sampah fesyen.

Ia menjelaskan bahwa permintaan tinggi terhadap produk pakaian bermaterial tidak ramah lingkungan mendorong produksi berkelanjutan.

Kebiasaan membeli pakaian untuk satu kali pakai perlu diubah agar limbah bisa diminimalkan.

Chitra Subyakto membagikan tiga kebiasaan baik untuk mengurangi sampah fesyen.

Pertama, kurangi pembelian berulang dengan memilih barang berkualitas; kedua, perawatan dan perbaikan agar pakaian tahan lama.

Ketiga, dukung produsen berkelanjutan dan praktik daur ulang pakaian bekas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!