Mengapa Stres Bisa Memicu Kembung dan Begah

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 13:16 WIB 2
Mengapa Stres Bisa Memicu Kembung dan Begah

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya berdampak pada suasana hati, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik, termasuk sistem pencernaan. Banyak orang merasakan perut kembung, begah, atau tidak nyaman meski pola makan mereka tidak berubah.

Para ahli menjelaskan, hal itu terjadi karena usus dan otak saling terhubung melalui sistem saraf. Saat tubuh berada dalam tekanan, pencernaan dapat melambat, makanan bertahan lebih lama di saluran cerna, dan gas lebih mudah terperangkap.

Stres dan Kembung

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut usus sebagai otak kedua manusia. Menurut dia, sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh sistem saraf dan kondisi emosional seseorang. Karena itu, stres bisa muncul sebagai keluhan fisik yang terasa langsung di perut.

Menurut penjelasan para ahli, tubuh memiliki dua mode utama, yakni fight-or-flight dan rest-and-digest. Saat stres datang, tubuh masuk ke mode siaga untuk menghadapi ancaman. Dalam kondisi ini, hormon stres seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin meningkat.

Respons tersebut sebenarnya bermanfaat untuk membantu manusia bertahan dari bahaya. Namun, ketika terjadi terlalu sering, sistem pencernaan ikut terdampak. Akibatnya, proses mencerna makanan tidak berjalan seoptimal biasanya dan perut terasa lebih penuh.

Sistem Saraf Pencernaan

Sistem saraf enterik berperan besar dalam mengatur fungsi saluran pencernaan. Sistem ini merupakan bagian dari sistem saraf otonom yang bekerja mengendalikan proses cerna secara otomatis. Karena terhubung dengan kondisi saraf, reaksi tubuh terhadap stres dapat langsung memengaruhi usus.

Saat tubuh merasa terancam, aliran darah cenderung dialihkan dari sistem pencernaan ke otot-otot. Tujuannya agar tubuh memiliki energi untuk bergerak cepat atau melawan ancaman. Dalam situasi seperti itu, kerja usus tidak menjadi prioritas utama.

Kontraksi otot pencernaan juga menurun, begitu pula produksi sekresi pencernaan. Akibatnya, makanan dipecah lebih lambat dan bertahan lebih lama di lambung maupun usus. Kondisi inilah yang sering memicu rasa begah dan kembung.

Dampak Pada Tubuh

Ditkoff menjelaskan, makanan yang berada terlalu lama di saluran cerna lebih mudah memerangkap gas. Ketika gas menumpuk, perut terasa membesar dan tidak nyaman. Keluhan ini kemudian dikenal sebagai bloating.

Meski begitu, respons tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang mengalami kembung, sementara yang lain justru merasakan kram perut atau diare. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan sensitivitas pencernaan masing-masing individu.

Pada sebagian orang, stres juga dapat memperburuk gangguan pencernaan kronis yang sudah ada sebelumnya. Saat tekanan emosional meningkat, keluhan lama bisa kambuh kembali. Dalam situasi tertentu, tubuh bahkan berada pada kondisi siaga penuh yang sangat menguras energi.

Cara Mengurangi Kembung

Untuk membantu meredakan kembung akibat stres, tubuh perlu dikembalikan ke fase rest-and-digest. Pada kondisi ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah kembali lancar ke seluruh tubuh. Pencernaan pun dapat bekerja lebih optimal.

Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam kondisi yang lebih tenang. Mengambil jeda sejenak sebelum makan, bernapas dalam, dan mengurangi distraksi dapat membantu tubuh lebih siap mencerna makanan. Langkah sederhana ini dapat mengurangi risiko perut terasa begah setelah makan.

Meski demikian, tidak makan sama sekali saat stres juga bukan pilihan yang dianjurkan. Tubuh tetap membutuhkan asupan agar energi tidak turun terlalu jauh. Karena itu, menjaga pola makan yang teratur sambil mengelola stres menjadi kunci untuk membantu kesehatan pencernaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!