Mantap! Eks TKW Hong Kong Sukses Jualan Singkong

Lifestyle Clara Monica 23 Mei 2026 21:52 WIB 5
Mantap! Eks TKW Hong Kong Sukses Jualan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia tidak selalu berakhir pada pilihan kembali merantau, karena sebagian justru mampu membangun usaha baru di tanah air. Salah satunya adalah Siti Fatimah, perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, yang pulang ke Indonesia pada Mei 2017 setelah lima tahun bekerja di Hong Kong. Dari rumah, ia merintis bisnis jajanan tradisional berbahan dasar singkong dengan modal awal Rp700 ribu. Kini, usaha bernama Qtello Ayu itu berkembang dan menjadi sumber penghidupan yang lebih stabil bagi keluarganya.

Fatimah mengaku memilih pulang karena merasa pekerjaan sebagai pekerja migran tidak lagi cukup menjawab kebutuhan hidupnya. Sebagai orang tua tunggal, ia ingin memiliki usaha yang bisa dijalankan tanpa harus meninggalkan anak-anaknya lagi. Tekad itu membuatnya berani mengolah sisa tabungan menjadi modal usaha kecil. Keputusan tersebut menjadi titik balik yang mengubah kondisi ekonominya secara perlahan namun pasti.

Bisnis Singkong dari Rumah

Pada akhir 2017, Fatimah mulai menjual aneka jajanan tradisional dengan merek Qtello Ayu. Nama itu merupakan gabungan dari kata ketela dan ayu, yang berarti cantik. Produk pertamanya hanya tiga, yaitu ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Meski sederhana, semua dibuat dengan bahan baku singkong yang mudah diperoleh di daerahnya.

Seiring waktu, varian produk terus bertambah hingga menjadi sembilan jenis. Beberapa di antaranya adalah sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, Singju Krispi, dan Cendol Ayu. Fatimah menata ulang tampilan jajanan tradisional agar lebih menarik secara visual. Inovasi itu membuat produk rumahan tersebut terlihat lebih modern tanpa meninggalkan cita rasa klasik.

Menurut Fatimah, modal kecil tidak menjadi penghalang selama ada kemauan untuk memulai. Ia menegaskan bahwa uang Rp700 ribu harus dimanfaatkan untuk membuka peluang usaha, bukan disimpan tanpa arah. Keputusan itu lahir dari keinginannya untuk tidak kembali merantau. Dari sana, ia mulai membangun usaha secara bertahap dari dapur rumahnya sendiri.

Usaha yang dirintis dari rumah itu kemudian menjadi penopang ekonomi keluarga. Fatimah menjaga kualitas dan kesegaran produk agar pelanggan tetap percaya. Seluruh proses produksi dilakukan di rumah dengan bantuan keluarga. Untuk memenuhi pesanan yang terus meningkat, ia juga dibantu dua karyawan harian.

Omzet Singkong Kian Menanjak

Bisnis Qtello Ayu kini mampu memproduksi hingga 400 kotak per hari. Dari jumlah itu, omzet harian rata-rata mencapai Rp1 juta. Pada hari tertentu, pendapatan bisa menurun atau justru naik hingga Rp2 juta sampai Rp3 juta. Menurut Fatimah, angka tersebut sudah jauh lebih baik dibanding masa awal ia memulai usaha.

Pasar produk Fatimah tidak hanya datang dari Tulungagung dan Trenggalek. Pesanan juga kerap dikirim ke luar kota, termasuk untuk oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta. Jangkauan penjualan itu menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat di pasar yang lebih luas. Kunci utamanya ada pada rasa, kemasan, dan konsistensi produksi.

Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial untuk memasarkan produknya. Selain itu, ia mengandalkan metode getok tular dari mulut ke mulut yang terbukti efektif. Strategi ini cocok untuk usaha rumahan yang ingin menjangkau pelanggan tanpa biaya promosi besar. Perlahan, jaringan pelanggan tetap pun terbentuk dari berbagai daerah.

Harga produk Qtello Ayu juga tergolong terjangkau bagi konsumen. Fatimah menjual jajanan itu mulai dari Rp8 ribuan per kotak. Harga tersebut membuat produknya mudah dibeli untuk kebutuhan camilan acara maupun oleh-oleh. Kombinasi harga bersahabat dan kemasan menarik menjadi daya tarik tersendiri.

Pemasaran Singkong Lewat Digital

Meski berawal dari usaha kecil, Fatimah memahami pentingnya promosi digital. Ia memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar tanpa harus membuka toko besar. Cara ini membuat produknya dikenal oleh pembeli baru di luar daerah. Dalam praktiknya, platform daring menjadi etalase yang membantu bisnis rumahan bertahan.

Promosi melalui WhatsApp juga memudahkan komunikasi langsung dengan pelanggan. Pesanan dapat diterima lebih cepat, sementara informasi produk bisa dibagikan secara rutin. Fatimah pun aktif menjaga kedekatan dengan pembeli agar mereka kembali memesan. Hubungan yang baik menjadi salah satu modal penting dalam usaha kuliner skala kecil.

Selain promosi, pengemasan juga menjadi perhatian utama. Bahan dasar singkong diolah menjadi jajanan yang tampak lebih segar dan menarik. Tampilan warna-warni membuat produk mudah dilirik calon pembeli. Inovasi pada kemasan membantu jajanan tradisional tetap relevan di tengah persaingan makanan kekinian.

Fatimah menilai kreativitas adalah bagian penting dari keberlangsungan usaha. Produk yang baik tidak cukup hanya enak, tetapi juga perlu punya nilai jual visual. Karena itu, ia terus melakukan penyesuaian agar produk tetap sesuai selera pasar. Pendekatan tersebut membuat bisnisnya bertahan dan terus berkembang.

Kisah Singkong Siti Fatimah

Perjalanan Fatimah menunjukkan bahwa mantan pekerja migran juga dapat sukses di tanah air. Dari seorang single parent yang pulang dengan tabungan terbatas, ia bertransformasi menjadi pelaku usaha kuliner. Kerja keras dan keberanian mengambil risiko menjadi fondasi utama kesuksesannya. Kisahnya menjadi contoh bahwa peluang bisa lahir dari rumah sendiri.

Hasil usaha itu tidak hanya memperbaiki ekonomi keluarga, tetapi juga membantu melunasi utang. Fatimah bahkan berhasil membeli mobil untuk keperluan operasional. Pencapaian tersebut membuktikan bahwa usaha kecil dapat tumbuh jika dikelola dengan disiplin. Keberhasilan itu juga memberi ruang bagi keluarganya untuk ikut berkembang.

Salah satu anak Fatimah yang sudah berkeluarga kini membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Langkah itu memperlihatkan bahwa usaha keluarga bisa berkembang ke wilayah baru. Permintaan dari berbagai kota juga masih terbuka lebar. Fatimah berharap cabang lain dapat menyusul di kota-kota lain yang membutuhkan produk serupa.

Kepada siapa pun yang ingin memulai usaha, Fatimah menekankan bahwa prosesnya tidak mudah. Namun, ia percaya semangat harus dijaga dengan mengingat tujuan awal berbisnis. Menurutnya, usaha apa pun akan lebih kuat jika dijalani dengan tekad dan kesabaran. Pesan itu menjadi penutup dari perjalanan panjang seorang mantan pekerja migran yang kini sukses berjualan singkong.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!