Mantan PMI Sukses Bangun Usaha Jajanan Tradisional dari Rumah

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 09:11 WIB 2
Mantan PMI Sukses Bangun Usaha Jajanan Tradisional dari Rumah

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang ke tanah air bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari peluang baru. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu kembali ke Indonesia pada Mei 2017 setelah lima tahun bekerja di Hongkong, lalu memilih membangun usaha jajanan tradisional dari rumah. Dengan modal awal Rp700 ribu dari sisa tabungan, ia mengembangkan merek Qtello Ayu yang kini dikenal di berbagai daerah. Kisahnya menjadi contoh bagaimana keberanian, ketekunan, dan inovasi dapat mengubah keterbatasan menjadi sumber penghasilan.

Fatimah mengaku keputusan pulang diambil karena merasa pekerjaannya sebagai TKW tidak lagi memberi ruang untuk berkembang. Sebagai seorang single parent, ia juga harus memikirkan kebutuhan anak-anak yang terus bertambah. Dari kondisi itu, muncul tekad untuk merintis usaha yang bisa dijalankan dari rumah. Pilihan tersebut kemudian membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Jajanan Tradisional Jadi Sumber Cuan

Pada akhir 2017, Fatimah mulai memproduksi aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Produk pertamanya adalah ongol-ongol, getuk, dan klepon yang dipasarkan dengan nama Qtello Ayu. Nama itu merupakan perpaduan dari kata ketela dan ayu, yang menggambarkan produk sederhana namun menarik. Dari usaha kecil inilah perjalanan bisnisnya dimulai.

Modal awal yang digunakan hanya Rp700 ribu, jumlah yang berasal dari sisa tabungan selama bekerja di luar negeri. Ia bertekad memaksimalkan dana tersebut agar bisa membuka usaha tanpa harus kembali merantau. Keputusan itu tidak mudah, tetapi menjadi titik awal kemandirian ekonominya. Dari modal terbatas, Fatimah belajar mengatur produksi, biaya, dan pemasaran secara disiplin.

Seiring waktu, varian produknya berkembang dari tiga menjadi sembilan jenis. Selain jajanan klasik, ia juga membuat sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi tampilan warna-warni membuat produknya lebih menarik secara visual. Perubahan ini membantu meningkatkan minat konsumen dari berbagai kalangan.

Meski tampil modern, bahan baku yang digunakan tetap sederhana dan mudah ditemukan. Fatimah menekankan bahwa kekuatan usahanya terletak pada kreativitas pengolahan dan kemasan. Produk yang awalnya hanya jajanan rumahan kini memiliki identitas yang kuat di pasar lokal. Strategi tersebut membuat jajanan tradisional tetap relevan di tengah persaingan kuliner masa kini.

Pemasaran Rumahan yang Efektif

Untuk memperluas pasar, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan metode getok tular atau promosi dari mulut ke mulut yang terbukti efektif. Cara ini membuat produk Qtello Ayu cepat dikenal di lingkungan sekitar. Tanpa biaya promosi besar, jangkauan penjualannya terus bertambah.

Pelanggan datang dari Tulungagung, Trenggalek, hingga luar daerah. Produk-produknya bahkan kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta. Permintaan yang terus tumbuh membuat usaha ini memiliki pasar yang lebih luas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa produk rumahan pun bisa bersaing jika dikelola dengan tepat.

Produksi Qtello Ayu kini mencapai sekitar 400 kotak per hari. Dari jumlah itu, omzet harian rata-ratanya berada di kisaran Rp1 juta. Pada hari tertentu, pendapatan bisa turun atau justru meningkat hingga Rp2 juta sampai Rp3 juta. Fluktuasi tersebut tetap menunjukkan bahwa usahanya memiliki perputaran yang sehat.

Fatimah menyebut bahwa keberhasilan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Ia harus belajar menjaga konsistensi rasa, kualitas, dan tampilan produk. Selain itu, ia juga terus menyesuaikan menu dengan selera pasar. Langkah-langkah itu membuat bisnisnya bertahan dan terus berkembang.

Dibantu Keluarga dan Karyawan

Dalam menjalankan usaha, Fatimah tidak bekerja sendirian. Ia dibantu oleh keluarga dan dua karyawan harian untuk memenuhi pesanan yang masuk. Seluruh proses produksi dilakukan dari rumah agar tetap mudah dipantau. Cara ini juga membantu menjaga kualitas dan kesegaran produk yang dijual.

Model usaha rumahan membuat operasional lebih efisien. Fatimah bisa mengontrol bahan baku, proses memasak, hingga pengemasan tanpa harus menyewa tempat besar. Dengan sistem seperti itu, biaya operasional tetap terkendali. Efisiensi ini menjadi salah satu alasan usahanya mampu bertahan dalam jangka panjang.

Hasil usaha yang diperoleh tidak hanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Fatimah berhasil melunasi utang dan membeli mobil untuk operasional. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha kecil dapat memberi dampak besar bagi kehidupan keluarga. Dari kerja keras yang konsisten, kondisi ekonominya perlahan membaik.

Salah satu anaknya yang telah berkeluarga bahkan membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Keberadaan cabang tersebut menunjukkan bahwa produk Fatimah mulai memiliki daya tarik lintas daerah. Ia pun berharap usaha ini dapat terus berkembang di kota-kota lain. Permintaan yang semakin luas menjadi sinyal bahwa peluang ekspansi masih terbuka.

Pelajaran dari Tekad Fatimah

Fatimah ingin usahanya hadir di lebih banyak kota karena permintaan terus berdatangan. Ia menilai setiap usaha membutuhkan proses yang panjang dan tidak selalu mudah. Menurutnya, pelaku usaha harus siap menghadapi naik turun semangat dan kondisi pasar. Ketekunan menjadi modal utama untuk bertahan.

Ia juga menekankan pentingnya mengingat tujuan awal ketika rasa lelah mulai datang. Bagi Fatimah, kejelasan tujuan membuat seseorang tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan. Pengalaman sebagai mantan pekerja migran membentuk ketangguhan yang kini ia bawa ke dunia usaha. Nilai itu menjadi pondasi dalam menjalankan bisnis dari rumah.

Harga produk Qtello Ayu dimulai dari sekitar Rp8 ribu per box. Harga tersebut dinilai terjangkau untuk kudapan acara, camilan keluarga, maupun oleh-oleh. Dengan tampilan yang menarik dan rasa khas singkong, produk ini punya posisi tersendiri di pasar. Faktor harga juga membantu menjangkau pembeli yang lebih luas.

Kisah Fatimah memperlihatkan bahwa mantan PMI pun dapat sukses membangun usaha di Indonesia. Dari modal kecil, ia mengubah jajanan tradisional menjadi sumber penghasilan yang stabil. Perjalanan ini menegaskan bahwa peluang bisa lahir dari keberanian untuk kembali dan memulai lagi. Di tengah tantangan ekonomi, kisah seperti ini memberi inspirasi bagi banyak orang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!