Mantan PMI di Trenggalek Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 08:06 WIB 3
Mantan PMI di Trenggalek Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia kerap menghadapi tantangan besar saat kembali ke Tanah Air, namun Siti Fatimah membuktikan bahwa pulang bukan akhir dari perjuangan. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu beralih menjadi pebisnis kuliner setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai TKW di Hong Kong dan memulai usaha dari rumah pada akhir 2017.

Berbekal tabungan tersisa sebesar Rp700 ribu, Fatimah membangun merek jajanan tradisional bernama Qtello Ayu, yang kini berkembang pesat dengan berbagai varian produk. Usaha yang awalnya hanya berisi tiga menu itu kini tumbuh menjadi bisnis rumahan yang melayani pesanan dari berbagai daerah.

Perjalanan Pulang dan Memulai

Fatimah pulang ke Indonesia pada Mei 2017 setelah lima tahun bekerja di Hong Kong. Ia mengaku merasa pekerjaannya tidak berkembang dan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di masa itu, Fatimah juga berstatus sebagai orang tua tunggal yang harus menghidupi anak-anaknya. Kondisi tersebut membuatnya mantap mencari jalan baru dengan membangun usaha di rumah.

Ia menilai pekerjaan sebagai pekerja migran tidak bisa selamanya menjadi sandaran. Karena itu, ia memilih pulang dan memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya untuk membuka peluang usaha sendiri.

Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari sana, Fatimah mulai menyusun rencana usaha yang realistis sesuai kemampuan modal yang tersedia.

Modal Kecil Bernilai Besar

Pada akhir 2017, Fatimah mulai memproduksi aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Produk itu kemudian diberi nama Qtello Ayu, gabungan kata ketela dan ayu yang berarti cantik.

Modal awal yang digunakan hanya Rp700 ribu, hasil dari sisa tabungannya. Dengan dana terbatas itu, ia bertekad menjalankan usaha tanpa kembali merantau.

Awalnya, varian produk yang dijual hanya ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Meski sederhana, produk tersebut menjadi pondasi penting bagi perkembangan usahanya.

Seiring waktu, pilihan menu bertambah menjadi sembilan varian. Di antaranya ada sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu.

Strategi Pemasaran Rumahan

Fatimah mengolah bahan baku yang sederhana menjadi produk yang menarik secara visual. Tampilan warna-warni menjadi salah satu kekuatan utama yang membedakan usahanya dari jajanan tradisional lain.

Ia juga memanfaatkan strategi pemasaran yang dekat dengan keseharian masyarakat. Promosi dilakukan melalui WhatsApp, grup alumni, dan media sosial.

Selain itu, metode getok tular atau pemasaran dari mulut ke mulut turut membantu memperluas jangkauan pelanggan. Pola ini membuat produk Qtello Ayu semakin dikenal di wilayah Tulungagung, Trenggalek, dan sekitarnya.

Seluruh proses produksi dijalankan dari rumah agar kualitas dan kesegaran tetap terjaga. Fatimah ingin setiap pesanan diterima pelanggan dalam kondisi baik dan layak konsumsi.

Omzet Naik dan Harapan

Berkat kerja kerasnya, usaha Qtello Ayu terus berkembang dan memiliki pelanggan tetap dari dalam maupun luar daerah. Produksi harian bahkan mencapai 400 kotak per hari dengan omzet rata-rata sekitar Rp1 juta.

Fatimah menyebut pendapatannya bisa naik turun, bahkan pada hari tertentu dapat mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta. Produk buatannya juga kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta.

Untuk memenuhi pesanan, ia dibantu keluarga dan dua karyawan harian. Dukungan itu membuat usaha tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas layanan dan produk.

Hasil usahanya juga membawa perubahan besar bagi kondisi ekonomi keluarga. Fatimah berhasil melunasi utang, membeli mobil untuk operasional, dan bahkan salah satu anaknya membuka cabang Qtello Ayu di Bandung.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!