Mantan Ilmuwan NASA Ini Klaim Tiga Kali Alami Mati Suri

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 10:19 WIB 5
Mantan Ilmuwan NASA Ini Klaim Tiga Kali Alami Mati Suri

Mantan ilmuwan NASA asal Kolombia, Ingrid Honkala, mengaku tiga kali mengalami mati suri sepanjang hidupnya. Pengalaman itu, menurut wanita berusia 55 tahun tersebut, mengubah cara pandangnya tentang kematian, kesadaran manusia, dan makna kehidupan.

Honkala mengatakan setiap momen di ambang kematian selalu menghadirkan sensasi yang sama, yakni merasa berada di dimensi lain yang tak terjangkau pancaindra. Ia menilai pengalaman tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan sesuatu yang meninggalkan kesan mendalam hingga kini.

Pengalaman mati suri Honkala

Honkala memiliki latar belakang akademik kuat dengan gelar doktor di bidang ilmu kelautan. Ia juga pernah bekerja untuk NASA dan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Kisah mati suri pertamanya disebut terjadi saat ia masih berusia dua tahun. Saat itu, ia terjatuh ke dalam tangki air dingin di rumahnya tanpa diketahui pengasuh yang sedang berada di ruangan lain.

Ibunya datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkannya dari situasi yang nyaris merenggut nyawa. Namun, bagi Honkala kecil, peristiwa itu menjadi awal dari pengalaman yang ia sebut luar biasa.

Ia mengaku sempat panik karena kesulitan bernapas akibat air dingin, lalu rasa takut itu perlahan berganti menjadi ketenangan. Menurutnya, momen tersebut terasa seperti memasuki keheningan yang sangat dalam.

Saat berada dalam kondisi itu, Honkala merasa kesadarannya terpisah dari tubuh fisiknya. Ia mengatakan dapat melihat tubuh kecilnya mengambang tak bernyawa di dalam air.

Dimensi lain yang dirasakan

Honkala menggambarkan pengalaman itu sebagai keadaan ketika dirinya tidak lagi merasa sebagai anak kecil di dalam tubuh. Ia merasa menjadi kesadaran murni, seperti medan cahaya yang luas dan tenang.

Dalam kondisi tersebut, menurutnya, tidak ada rasa takut, tidak ada waktu, dan tidak ada pikiran yang mengganggu. Ia menyebut sensasi itu sebagai sesuatu yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa.

Salah satu bagian paling aneh dari ceritanya adalah klaim bahwa ia dapat melihat ibunya yang berada beberapa blok dari rumah. Honkala mengatakan ia juga bisa berkomunikasi dengan sang ibu tanpa berbicara.

Ibunya kemudian bergegas pulang dan menemukan putrinya di dalam tangki air. Sejak kejadian itu, Honkala mengaku tidak pernah lagi merasa takut pada kematian.

Pandangan tentang kematian

Menurut Honkala, pengalaman pertama itu menunjukkan bahwa kematian tidak terasa seperti tempat yang jauh. Ia justru merasa seolah berada pada lapisan realitas yang lebih dalam dari kehidupan sehari-hari.

Ia juga berpendapat bahwa kesadaran mungkin tidak sepenuhnya dihasilkan oleh otak. Baginya, ada sesuatu yang lebih mendasar yang membentuk keberadaan manusia.

Pandangan itu terus ia bawa hingga dewasa dan memengaruhi cara ia membaca makna hidup. Honkala menilai pengalaman mati suri telah memberi pemahaman baru tentang hubungan antara tubuh, pikiran, dan kesadaran.

Ia menyebut ketenangan yang dirasakan saat itu sebagai bukti bahwa kesadaran tidak selalu berhenti ketika tubuh melemah. Klaim tersebut menjadi inti dari refleksinya selama bertahun-tahun setelah peristiwa pertama.

Sains dan spiritualitas

Honkala mengatakan ia mengalami dua peristiwa mati suri lain, yakni setelah kecelakaan motor saat berusia 25 tahun dan ketika berusia 52 tahun saat tekanan darahnya turun drastis dalam operasi. Ketiganya, menurut dia, selalu membawa dirinya ke keadaan damai yang sama.

Menariknya, pengalaman spiritual justru membuatnya semakin tertarik pada sains. Ia ingin memahami hakikat realitas melalui observasi dan penelitian yang sistematis.

Selama bertahun-tahun, Honkala memilih fokus pada karier ilmiah dan jarang membahas pengalaman pribadinya di depan publik. Namun, seiring waktu, ia mulai melihat sains dan spiritualitas sebagai dua pendekatan yang tidak selalu bertentangan.

Ia menilai keduanya mungkin hanya berusaha menjelaskan misteri yang sama dari sudut pandang berbeda. Meski begitu, pengalaman mati suri seperti yang ia alami tetap menjadi perdebatan di kalangan peneliti, yang sebagian menilainya sebagai halusinasi atau respons psikologis saat manusia berada di ambang kematian.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!