Makanan yang Disangka UPF, Belum Tentu Tidak Sehat

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 04:35 WIB 3
Makanan yang Disangka UPF, Belum Tentu Tidak Sehat

Istilah ultra-processed food atau UPF semakin sering dibahas di media sosial dan memicu kekhawatiran terhadap makanan kemasan. Tidak sedikit produk yang langsung dicap tidak sehat, padahal komposisi dan nilai gizinya belum tentu sama. Kondisi ini membuat masyarakat perlu memahami perbedaan antara pangan olahan dan UPF agar tidak salah menilai makanan sehari-hari.

Sejumlah produk yang kerap diperdebatkan, seperti sarden kalengan dan susu UHT, ternyata tidak selalu masuk kategori UPF. Penentuan kategorinya bergantung pada komposisi, tingkat pengolahan, serta tambahan bahan seperti perisa, pemanis, atau aditif lain. Dengan memahami hal ini, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih tepat berdasarkan informasi gizi, bukan sekadar label yang beredar di media sosial.

UPF dan Makanan Olahan

UPF sering dipahami sebagai makanan yang diproses secara industri dengan tambahan bahan yang beragam. Namun, tidak semua makanan kemasan otomatis masuk kategori tersebut. Sebagian pangan olahan masih menyimpan protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang bermanfaat bagi tubuh.

Perbedaan utama terletak pada jumlah bahan dan tingkat modifikasi yang dilakukan pada produk. Makanan dengan komposisi sederhana umumnya lebih dekat ke kategori processed foods. Sementara itu, produk dengan banyak tambahan formulasi cenderung lebih dekat ke ultra-processed foods.

Pandangan ini penting karena label kemasan tidak selalu mencerminkan kualitas gizi secara utuh. Konsumen perlu melihat daftar bahan dan informasi nilai gizi sebelum mengambil kesimpulan. Cara ini membantu menilai apakah suatu produk benar-benar layak dibatasi atau masih bisa dikonsumsi secara wajar.

Selain itu, konteks konsumsi juga berpengaruh terhadap dampak kesehatan. Makanan yang dikonsumsi sesekali tentu berbeda dengan pola makan harian yang didominasi produk tinggi gula, garam, atau lemak. Karena itu, penilaian terhadap UPF sebaiknya tidak dilakukan secara hitam putih.

Sarden Kalengan

Sarden kalengan sering dianggap sebagai makanan ultra-proses karena hadir dalam kemasan dan tahan lama. Padahal, statusnya bergantung pada komposisi di dalam kaleng. Jika isinya hanya ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, produk tersebut cenderung masuk kelompok processed foods.

Masalah muncul ketika produsen menambahkan banyak bahan lain untuk memperpanjang daya simpan atau memperkuat rasa. Perisa, pengental, pemanis, dan aditif lain dapat membuat produk lebih dekat ke kategori ultra-processed foods. Karena itu, konsumen perlu membaca label dengan teliti sebelum membeli.

Sarden kalengan tetap bisa menjadi sumber protein hewani yang praktis dan terjangkau. Kandungan gizinya dapat membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, terutama saat waktu memasak terbatas. Namun, pilihan terbaik tetap bergantung pada komposisi dan porsi konsumsi.

Produk yang lebih sederhana biasanya lebih mudah dipahami kandungannya. Semakin pendek daftar bahan, semakin jelas pula karakter olahannya. Prinsip ini dapat membantu masyarakat membedakan sarden kalengan yang masih wajar dikonsumsi dari produk yang terlalu banyak tambahan.

Susu UHT

Susu UHT juga kerap disalahpahami sebagai UPF karena melalui proses pemanasan tinggi agar lebih awet. Pada dasarnya, susu plain tanpa banyak tambahan masih menjadi bahan perdebatan di kalangan peneliti. Sebagian ahli memasukkannya ke processed foods, bukan langsung ultra-processed foods.

Berbeda halnya dengan susu UHT yang diberi perisa, pemanis, atau formulasi yang lebih kompleks. Produk seperti itu lebih berpotensi masuk kategori ultra-processed foods karena memiliki lebih banyak modifikasi. Perbedaan ini penting agar konsumen tidak menyamakan semua susu UHT dalam satu kelompok.

Susu tetap menjadi sumber protein, kalsium, dan berbagai zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, penilaian tidak seharusnya hanya berhenti pada proses pengolahan. Yang lebih penting adalah melihat kandungan akhir dan kesesuaiannya dengan kebutuhan harian.

Bagi konsumen yang ingin lebih hati-hati, susu plain umumnya menjadi pilihan yang lebih mudah dikendalikan. Sementara itu, varian rasa dengan tambahan gula sebaiknya dibatasi sesuai kebutuhan. Dengan begitu, manfaat gizi dari susu tetap bisa diperoleh tanpa berlebihan.

Memilih Pangan Lebih Bijak

Kebingungan tentang UPF menunjukkan bahwa literasi gizi masih perlu diperkuat di tengah masyarakat. Banyak produk kemasan sebenarnya masih memiliki nilai gizi yang relevan dan dapat dikonsumsi secara wajar. Yang perlu diwaspadai adalah produk dengan komposisi panjang dan banyak tambahan yang tidak diperlukan.

Langkah sederhana seperti membaca label gizi dapat membantu konsumen menilai kualitas makanan. Daftar bahan, kadar gula, natrium, dan lemak dapat menjadi petunjuk awal sebelum membeli. Kebiasaan ini penting agar keputusan konsumsi tidak hanya mengikuti tren di media sosial.

Di sisi lain, makanan segar tetap perlu menjadi dasar utama pola makan harian. Pangan olahan dapat menjadi pelengkap ketika dibutuhkan, terutama untuk efisiensi waktu dan kepraktisan. Kuncinya ada pada keseimbangan, variasi, dan kontrol porsi.

Dengan pemahaman yang lebih tepat, masyarakat tidak mudah terjebak pada anggapan bahwa semua makanan kemasan berbahaya. Sarden kalengan dan susu UHT, misalnya, masih dapat dinilai dari komposisinya masing-masing. Sikap kritis terhadap label dan informasi gizi menjadi langkah penting untuk menjaga pola makan yang lebih sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!