Makaila Haifa dan UNHCR Rayakan Resiliensi Perempuan

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 02:45 WIB 6
Makaila Haifa dan UNHCR Rayakan Resiliensi Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar ajang bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menghadirkan panggung apresiasi bagi pengungsi perempuan dari berbagai negara, termasuk Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan. Para peserta tampil bukan hanya sebagai model, tetapi juga sebagai seniman yang menunjukkan karya dan identitas mereka. Kolaborasi ini menegaskan bahwa fashion dapat menjadi medium untuk menyuarakan ketangguhan dan harapan.

Melalui trunk show Mishka Project, lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan, tampil membawakan koleksi di hadapan publik. Para pengungsi yang terlibat berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, serta telah mencari suaka di Indonesia. Program ini menjadi ruang yang mempertemukan mode, seni, dan narasi kemanusiaan dalam satu panggung. Kehadiran mereka memberi pesan kuat bahwa kreativitas dapat tumbuh di tengah keterbatasan.

Hijab dan Busana Muslim

Makaila Haifa dikenal sebagai brand hijab dan modest wear lokal yang konsisten mengangkat nilai pemberdayaan perempuan. Dalam kolaborasi ini, label tersebut menempatkan fashion sebagai sarana untuk menyampaikan pesan solidaritas. Pendekatan itu membuat panggung mode terasa lebih dekat dengan isu sosial yang nyata. Hasilnya, acara ini tidak hanya menonjolkan busana, tetapi juga makna di baliknya.

Kolaborasi dengan UNHCR memperluas jangkauan pesan yang ingin disampaikan kepada publik. Dukungan lembaga internasional itu memberi legitimasi pada upaya pemberdayaan pengungsi perempuan. Acara ini juga menunjukkan bahwa industri fashion dapat berperan dalam kampanye kemanusiaan. Dengan cara itu, busana muslim hadir sebagai representasi empati dan keteguhan.

Setiap tampilan dalam trunk show dirancang untuk memperlihatkan karakter para model pengungsi. Mereka berjalan di panggung dengan membawa kisah hidup yang penuh tantangan sekaligus harapan. Nuansa tersebut membuat peragaan busana terasa lebih personal dan emosional. Penonton diajak melihat bahwa kecantikan juga hadir dalam keberanian bertahan.

Di tengah sorotan mode, identitas budaya para peserta tetap dijaga. Unsur itu memberi lapisan makna pada koleksi yang ditampilkan dalam acara tersebut. Para perancang dan penyelenggara menempatkan keberagaman sebagai kekuatan utama. Pesan ini sejalan dengan semangat inklusif yang diusung dalam peringatan Hari Perempuan Internasional.

Resiliensi Pengungsi Perempuan

Mishka Project lahir dari gagasan Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, yang ingin mengubah cara pandang terhadap pengungsi. Alih-alih dipersepsikan sebagai kelompok yang hanya membutuhkan bantuan, para perempuan ini ditampilkan sebagai sosok yang berdaya. Gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam karya mode yang memberi ruang ekspresi luas. Dengan begitu, panggung fashion berubah menjadi ruang pemulihan martabat.

Para pengungsi perempuan yang tampil membawa latar belakang hidup dari negara yang berbeda-beda. Meski menghadapi pengalaman sulit, mereka tetap menunjukkan keberanian untuk berkarya. Kehadiran mereka di panggung membuktikan bahwa potensi tidak hilang oleh keadaan. Justru dari pengalaman itu, lahir kekuatan baru untuk terus melangkah.

Kisah yang dibangun dalam acara ini tidak hanya menyentuh sisi estetika, tetapi juga sisi kemanusiaan. Penyelenggara ingin menunjukkan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk didengar. Melalui mode, pesan tersebut dapat diterima dengan cara yang lebih hangat dan membekas. Inilah yang membuat acara tersebut relevan di tengah peringatan Hari Perempuan Internasional.

UNHCR turut memberi ruang bagi para pengungsi untuk menampilkan diri secara setara. Pendekatan ini sejalan dengan misi lembaga tersebut dalam melindungi dan memberdayakan pengungsi di berbagai negara. Kehadiran mereka di atas panggung menjadi simbol bahwa harapan tetap bisa dirawat. Dalam konteks itu, resiliensi perempuan tampil sebagai inti dari keseluruhan acara.

Fashion Painting Sri Lanka

Selain peragaan busana, acara ini juga menampilkan pameran karya fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Kehadiran pameran tersebut memperluas bentuk ekspresi yang dihadirkan dalam satu rangkaian acara. Seni rupa dipadukan dengan fashion untuk menciptakan pengalaman yang lebih utuh bagi pengunjung. Perpaduan ini menambah kedalaman makna pada tema yang diusung.

Karya-karya yang dipamerkan menunjukkan bahwa kreativitas tetap hidup meski di tengah situasi yang tidak mudah. Setiap karya membawa cerita, warna, dan simbol yang merefleksikan pengalaman personal. Penyelenggara memberi perhatian pada proses kreatif para peserta, bukan hanya hasil akhirnya. Hal itu membuat pameran terasa sebagai ruang apresiasi yang tulus.

Penggabungan antara busana dan seni lukis memperlihatkan bahwa talenta pengungsi sangat beragam. Para peserta tidak sekadar diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pencipta karya. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih adil tentang kapasitas mereka. Dalam jangka panjang, cara pandang seperti ini dapat memperkuat inklusi sosial.

Melalui pameran tersebut, publik diajak memahami bahwa seni dapat menjadi bahasa lintas batas. Pesan kemanusiaan terasa lebih kuat karena hadir lewat karya yang dapat dilihat dan dinikmati langsung. Acara ini pun menegaskan bahwa kreativitas dapat menjadi jembatan antara pengalaman sulit dan masa depan yang lebih baik. Di titik itu, fashion painting menjadi bagian penting dari narasi resiliensi perempuan.

Makna Kolaborasi Fashion

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR menunjukkan bahwa industri fashion dapat berkontribusi pada isu sosial. Panggung yang dibangun bukan hanya untuk memamerkan koleksi, tetapi juga untuk mengangkat suara perempuan pengungsi. Model, seniman, dan penyintas dipertemukan dalam ruang yang sama dengan posisi yang setara. Model kerja seperti ini memberi contoh konkret tentang inklusi dalam industri kreatif.

Acara tersebut juga memperkuat citra modest wear lokal sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar. Brand tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa nilai yang relevan bagi masyarakat. Pendekatan berbasis nilai ini kian penting di tengah konsumen yang makin peduli pada dampak sosial. Karena itu, pesan acara terasa sejalan dengan perkembangan industri mode masa kini.

Momentum Hari Perempuan Internasional 2026 memberi konteks yang tepat bagi penyelenggaraan kegiatan ini. Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa perempuan tetap membutuhkan ruang aman untuk tumbuh dan bersuara. Melalui fashion show dan pameran seni, ruang itu hadir secara nyata di hadapan publik. Narasi yang dibawa pun tidak berhenti pada selebrasi, tetapi bergerak menuju pemberdayaan.

Dengan mengangkat kisah pengungsi perempuan, acara ini menghadirkan inspirasi yang melampaui dunia fashion. Penonton diajak melihat bahwa kekuatan perempuan dapat muncul dalam banyak bentuk, termasuk melalui karya dan penampilan. Kolaborasi semacam ini berpotensi membuka lebih banyak ruang serupa di masa depan. Pada akhirnya, resiliensi perempuan menjadi pesan utama yang paling kuat dari seluruh rangkaian acara.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!