Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show untuk Perempuan Pengungsi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 21 Mei 2026 18:27 WIB 7
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show untuk Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar ajang bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menghadirkan perempuan pengungsi dari berbagai negara sebagai model sekaligus seniman, untuk menampilkan karya dan ketangguhan mereka di panggung fashion.

Acara tersebut menyoroti perempuan asal Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, Afghanistan, dan India yang selama ini hidup dalam situasi pengungsian. Melalui trunk show dan pameran karya, para peserta mendapat ruang untuk menunjukkan bakat, identitas, dan daya juang mereka di hadapan publik Indonesia.

Ruang Apresiasi

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR dirancang sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan pengungsi yang terus berjuang membangun hidup baru. Panggung ini memberi kesempatan bagi mereka untuk tampil bukan sebagai korban, melainkan sebagai pribadi yang kreatif dan berdaya.

Konsep acara menekankan bahwa fashion dapat menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Melalui busana dan karya visual, para peserta menyampaikan kisah hidup yang sarat keteguhan dan harapan.

Perhelatan ini juga mempertemukan unsur seni, mode, dan advokasi dalam satu ruang yang inklusif. Pendekatan tersebut membuat pesan sosial yang dibawa acara terasa lebih dekat dan mudah dipahami oleh pengunjung.

Dengan mengangkat perempuan pengungsi ke panggung utama, penyelenggara ingin memperluas cara pandang publik terhadap isu pengungsian. Narasi yang dibangun tidak berhenti pada kesulitan, tetapi juga pada kemampuan untuk bertumbuh.

Peragaan Busana Kolaboratif

Trunk show Mishka Project by Makaila Haifa menampilkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana perempuan asal India, Revathi Prabaharan. Para model berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia yang kini mencari suaka di Indonesia.

Busana yang diperagakan menonjolkan karakter modest wear dengan sentuhan elegan dan fungsional. Penyajian koleksi dibuat selaras dengan semangat acara yang menempatkan keberanian dan martabat perempuan sebagai pusat perhatian.

Kehadiran Revathi Prabaharan menambah kekuatan visual pada peragaan busana tersebut. Kehadirannya juga menunjukkan bahwa kolaborasi lintas negara dapat memperkaya pesan yang ingin disampaikan melalui panggung mode.

Format peragaan yang melibatkan para pengungsi memberi pengalaman berbeda dibandingkan pertunjukan busana pada umumnya. Setiap langkah di atas panggung menjadi representasi perjuangan, harapan, dan keberanian untuk tampil percaya diri.

Karya Seni yang Dihadirkan

Selain peragaan busana, acara ini menghadirkan pameran karya fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut menjadi pelengkap narasi bahwa perempuan pengungsi juga memiliki potensi besar di bidang seni rupa.

Pameran ini membuka ruang bagi para seniman untuk menunjukkan ekspresi personal melalui media visual. Setiap karya mencerminkan pengalaman hidup, memori, dan aspirasi yang mereka bawa dari perjalanan panjang pengungsian.

Kehadiran karya seni membuat acara tidak hanya berfokus pada busana, tetapi juga pada pemberdayaan secara menyeluruh. Hal itu memperkuat pesan bahwa kreativitas dapat tumbuh di tengah keterbatasan.

Melalui pameran tersebut, pengunjung diajak melihat perempuan pengungsi dari perspektif yang lebih luas. Mereka tidak hanya tampil sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pencipta karya yang memiliki nilai artistik.

Narasi yang Diubah

Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok penting di balik penyelenggaraan Mishka Project. Ia mendorong perubahan narasi tentang pengungsi, dari sosok yang kerap dipandang sulit menjadi pribadi yang berdaya dan bertalenta.

Langkah ini sejalan dengan upaya membangun ruang yang lebih inklusif bagi perempuan dalam industri fashion. Dengan pendekatan tersebut, mode tidak hanya menjadi urusan estetika, tetapi juga alat untuk menyuarakan kepedulian sosial.

Kolaborasi dengan UNHCR memperkuat legitimasi gerakan yang diusung acara ini. Sinergi antara brand lokal dan lembaga kemanusiaan memberi contoh bahwa sektor kreatif dapat berkontribusi pada isu global.

Acara Women's Resilience: From Surviving to Thriving menegaskan bahwa ketahanan perempuan dapat hadir dalam banyak bentuk. Dari panggung busana hingga karya seni, pesan yang dibawa tetap sama, yaitu keberanian untuk bertahan dan bertumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!