Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Resiliensi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 23 Mei 2026 00:45 WIB 7
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Resiliensi

Brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR dalam peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 melalui gelaran Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menghadirkan panggung bagi pengungsi perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan untuk tampil sebagai model sekaligus seniman.

Melalui Mishka Project, para perempuan pengungsi tersebut diberi ruang untuk menunjukkan talenta, kreativitas, dan daya juang mereka di hadapan publik. Inisiatif ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap perempuan yang berhasil bangkit, meski harus menghadapi perjalanan hidup yang penuh tantangan.

Makaila Haifa dan Mishka Project

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR dirancang untuk menghadirkan pesan pemberdayaan yang kuat di tengah peringatan Hari Perempuan Internasional 2026. Tema Women’s Resilience: From Surviving to Thriving dipilih untuk menegaskan perjalanan perempuan dari bertahan hidup menuju kehidupan yang lebih berdaya.

Brand modest wear lokal itu menempatkan pengungsi perempuan sebagai pusat perhatian dalam sebuah ruang yang setara. Mereka tidak hanya tampil mengenakan busana, tetapi juga membawa kisah, identitas, dan pengalaman hidup masing-masing.

Gelaran ini menjadi bukti bahwa fashion dapat berfungsi lebih dari sekadar industri gaya hidup. Fashion juga bisa menjadi medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan dan solidaritas lintas negara.

Melalui pendekatan tersebut, Makaila Haifa memperluas makna peragaan busana menjadi panggung inspirasi. Publik diajak melihat bahwa keindahan dapat tumbuh dari keteguhan dan keberanian perempuan dalam menghadapi situasi sulit.

Ruang bagi pengungsi perempuan

Dalam acara ini, Mishka Project mempersembahkan trunk show yang menampilkan lima perempuan pengungsi. Mereka berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, serta telah mencari suaka di Indonesia.

Selain itu, satu peraga busana perempuan asal India, Revathi Prabaharan, juga ikut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut. Kehadirannya memperkaya narasi keberagaman yang ingin dihadirkan dalam gelaran ini.

Para peserta tampil bukan hanya sebagai model, tetapi juga sebagai representasi dari ketangguhan perempuan lintas bangsa. Kehadiran mereka memberi pesan bahwa identitas seseorang tidak ditentukan oleh status pengungsi semata.

Dengan panggung ini, mereka mendapat kesempatan untuk menyampaikan ekspresi diri melalui busana dan gerak. Hal tersebut menjadi langkah penting dalam mendorong pengakuan atas kemampuan dan potensi mereka.

Pesan di balik busana

Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, menjadi sosok yang merangkai konsep Mishka Project dengan pendekatan yang lebih humanis. Ia mengubah narasi tentang pengungsi yang kerap dianggap penuh keterbatasan menjadi cerita tentang keberdayaan.

Menurut pendekatan yang dibawa dalam proyek ini, busana bukan hanya produk komersial. Busana dapat menjadi simbol keberanian, martabat, dan ruang ekspresi bagi perempuan yang selama ini jarang mendapat sorotan.

Pameran karya fashion painting juga turut melengkapi rangkaian acara. Karya tersebut berasal dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan yang menampilkan sisi artistik mereka.

Kehadiran karya seni ini memperkuat pesan bahwa para pengungsi memiliki potensi yang luas di berbagai bidang. Mereka tidak hanya memerlukan perlindungan, tetapi juga kesempatan untuk berkembang dan dihargai.

Fashion untuk pemberdayaan

Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR menunjukkan bahwa industri fashion dapat berperan dalam isu sosial yang lebih besar. Keterlibatan pengungsi perempuan dalam panggung ini membuka percakapan tentang inklusi, empati, dan kesempatan yang setara.

Gelaran tersebut juga menegaskan posisi fashion muslim sebagai ruang yang relevan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Di tengah perkembangan industri modest wear, nilai sosial menjadi semakin penting untuk diperhatikan.

Acara ini memberi contoh bagaimana brand lokal dapat membangun identitas yang tidak hanya estetis, tetapi juga bermakna. Pendekatan tersebut memperkuat hubungan antara kreativitas, tanggung jawab sosial, dan pemberdayaan perempuan.

Melalui panggung Women’s Resilience, Makaila Haifa dan UNHCR menghadirkan pesan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bangkit dan berkembang. Pesan itu menjadi penutup yang kuat bagi perayaan Hari Perempuan Internasional 2026.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!