Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 09:26 WIB 4
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR, The UN Refugee Agency, menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Panggung ini menjadi ruang apresiasi bagi perempuan pengungsi dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan untuk tampil sebagai model sekaligus seniman.

Melalui format trunk show dan pameran karya, acara tersebut menampilkan pesan pemberdayaan yang kuat, sekaligus membuka ruang bagi publik untuk melihat sisi lain kehidupan para pengungsi. Inisiatif ini juga memperlihatkan bagaimana fashion dapat menjadi medium untuk menyampaikan harapan, ketangguhan, dan keberanian.

Fashion dan pemberdayaan perempuan

Makaila Haifa membawa pendekatan yang berbeda dalam merayakan Hari Perempuan Internasional 2026. Alih-alih sekadar menampilkan koleksi busana, brand ini memadukan fashion dengan narasi kemanusiaan. Kolaborasi bersama UNHCR menempatkan perempuan pengungsi sebagai subjek utama dalam peragaan busana. Langkah ini memberi makna baru pada panggung mode yang inklusif dan inspiratif.

Acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving dirancang untuk menyoroti perjalanan hidup para perempuan yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka. Mereka tidak hanya tampil sebagai model, tetapi juga sebagai individu dengan cerita dan talenta. Konsep ini memperlihatkan bahwa busana dapat menjadi sarana untuk menyuarakan martabat. Dengan begitu, runway berubah menjadi ruang penghormatan.

Kolaborasi ini juga mempertegas posisi fashion lokal dalam isu sosial yang lebih luas. Makaila Haifa menunjukkan bahwa industri mode mampu berkontribusi pada kesadaran publik. Di sisi lain, UNHCR menghadirkan perspektif perlindungan dan dukungan bagi pengungsi. Sinergi keduanya menghasilkan acara yang tidak hanya estetis, tetapi juga bernilai sosial tinggi.

Trunk show para pengungsi

Dalam kesempatan itu, Mishka Project mempersembahkan trunk show yang menghadirkan lima perempuan pengungsi. Mereka berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, serta telah mencari suaka di Indonesia. Satu peraga busana perempuan asal India, Revathi Prabaharan, juga ikut tampil. Kehadiran mereka memperkaya ragam cerita yang ditampilkan di panggung.

Para peserta tampil membawakan busana dengan percaya diri di hadapan tamu undangan. Penampilan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman hidup yang berat tidak menghalangi mereka untuk berkarya. Sebaliknya, panggung itu menjadi tempat bagi mereka untuk menunjukkan kekuatan diri. Setiap langkah di runway membawa pesan keteguhan dan optimisme.

Trunk show ini menjadi salah satu sorotan utama dalam perayaan tersebut. Format yang digunakan memungkinkan audiens melihat koleksi busana secara dekat dan personal. Di saat yang sama, para pengisi acara dapat mengekspresikan identitas mereka melalui gerak dan pembawaan. Hasilnya adalah pertunjukan yang terasa hangat, intim, dan penuh makna.

Narasi baru bagi pengungsi

Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok penting di balik hadirnya Mishka Project. Melalui inisiatif ini, ia berupaya mengubah pandangan publik terhadap pengungsi yang kerap dipersepsikan hanya dari sisi kesulitan. Ia menekankan bahwa mereka juga memiliki kemampuan, bakat, dan potensi untuk berkembang. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi narasi yang lebih manusiawi.

Pesan yang dibawa acara ini sejalan dengan semangat pemberdayaan perempuan. Para pengungsi tidak ditempatkan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai individu yang layak diapresiasi. Konsep ini membantu menggeser cara pandang dari sekadar bertahan hidup menjadi mampu tumbuh. Di titik ini, fashion berfungsi sebagai jembatan untuk membangun empati.

Melalui karya dan penampilan mereka, para perempuan pengungsi memperlihatkan bahwa identitas tidak berhenti pada status sebagai pencari suaka. Mereka hadir sebagai pribadi yang punya kemampuan artistik dan daya juang. Kehadiran mereka di panggung juga mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat luas. Bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk bersinar.

Karya seni dan harapan

Selain trunk show, acara ini juga menampilkan pameran karya fashion painting dari para pengungsi berbakat. Peserta yang terlibat berasal dari Sri Lanka dan Afghanistan, dua negara yang juga memiliki kisah kemanusiaan yang kompleks. Karya-karya tersebut menambah dimensi artistik dalam seluruh rangkaian acara. Dari busana hingga lukisan, semuanya mengusung tema keberanian dan harapan.

Pameran ini memperlihatkan bahwa kreativitas dapat tumbuh di tengah kondisi yang tidak mudah. Para seniman pengungsi memanfaatkan seni sebagai cara untuk menyampaikan pengalaman pribadi. Hasilnya bukan hanya karya visual, tetapi juga pesan emosional yang kuat. Publik pun diajak memahami bahwa seni bisa lahir dari ruang keterbatasan.

Dengan menggabungkan fashion dan seni, Makaila Haifa serta UNHCR menghadirkan pengalaman yang lebih utuh bagi pengunjung. Acara ini tidak hanya menampilkan busana, tetapi juga perjalanan hidup para perempuan pengungsi. Kombinasi keduanya membangun ruang apresiasi yang relevan dengan isu global saat ini. Di tengah peringatan Hari Perempuan Internasional, pesan yang dibawa terasa semakin kuat dan bermakna.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!