Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Acara ini menampilkan perempuan pengungsi dari berbagai negara sebagai model sekaligus seniman, dengan pesan utama tentang ketangguhan dan harapan.
Mishka Project melalui trunk show tersebut menghadirkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana dari India, Revathi Prabaharan. Para peserta berasal dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan, yang selama ini mencari suaka di Indonesia.
Hijab dan Ketangguhan Perempuan
Kolaborasi ini menempatkan busana sebagai medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat. Makaila Haifa bersama UNHCR ingin menunjukkan bahwa perempuan pengungsi memiliki potensi, karya, dan suara yang layak diapresiasi.
Melalui panggung mode, para peserta tidak hanya tampil sebagai model, tetapi juga sebagai pribadi dengan kisah perjuangan yang menginspirasi. Pendekatan ini memberi ruang bagi mereka untuk membangun kepercayaan diri dan rasa memiliki dalam komunitas yang lebih luas.
Konsep Women's Resilience menegaskan bahwa ketahanan perempuan tidak berhenti pada masa sulit yang pernah mereka alami. Dari pengalaman tersebut, mereka justru dapat tumbuh menjadi sosok yang berdaya dan produktif.
Pesan itu sejalan dengan semangat Hari Perempuan Internasional, yang setiap tahun menjadi momentum untuk mengangkat isu kesetaraan dan penguatan perempuan. Dalam konteks ini, busana muslim hadir bukan hanya sebagai produk fesyen, tetapi juga sebagai sarana advokasi sosial.
Mishka Project Panggung Inspiratif
Mishka Project menjadi salah satu sorotan utama dalam peragaan busana ini. Program tersebut merangkai narasi baru tentang pengungsi perempuan, dari citra yang kerap identik dengan keterbatasan menjadi sosok penuh bakat dan kemampuan.
Di bawah tangan dingin Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, ide besar itu diterjemahkan ke dalam format pertunjukan yang lebih menyentuh. Setiap penampilan dirancang untuk memperlihatkan karakter, keanggunan, dan kekuatan personal para peserta.
Trunk show ini juga memperlihatkan bahwa industri fesyen dapat menjadi ruang inklusif bagi kelompok rentan. Ketika panggung dibuka, para perempuan pengungsi memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan diri secara setara.
Keberadaan Mishka Project menegaskan bahwa fashion dapat berjalan berdampingan dengan nilai sosial. Dalam acara ini, estetika tidak berdiri sendiri, melainkan disertai pesan kemanusiaan yang kuat dan relevan.
Perempuan Pengungsi Tampil Berdaya
Para pengungsi yang terlibat berasal dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan. Mereka hadir dengan latar belakang yang berbeda, namun dipertemukan oleh semangat untuk berkarya dan tampil percaya diri.
Kehadiran Revathi Prabaharan dari India menambah keragaman dalam pertunjukan tersebut. Perpaduan berbagai latar budaya memberi warna yang lebih kaya pada keseluruhan presentasi mode.
Selain tampil sebagai model, sebagian peserta juga mempersembahkan karya fashion painting. Pameran ini menjadi bukti bahwa kreativitas dapat tumbuh meski berada dalam situasi hidup yang penuh tantangan.
Partisipasi mereka memperlihatkan bahwa perempuan pengungsi bukan sekadar penerima bantuan, melainkan individu dengan kapasitas artistik yang nyata. Dengan ruang yang tepat, mereka dapat berkontribusi pada seni, budaya, dan industri kreatif.
Kolaborasi Mode dan Kemanusiaan
Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR menjadi contoh bagaimana brand lokal dapat mengambil peran sosial yang lebih luas. Inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa fesyen bisa menjadi jembatan antara solidaritas dan pemberdayaan.
Melalui acara tersebut, publik diajak melihat pengungsi perempuan dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Narasi yang dibangun tidak lagi berfokus pada penderitaan semata, melainkan pada kemampuan untuk bertahan dan bangkit.
Bagi industri mode, langkah ini juga memperluas makna modest wear sebagai bagian dari gerakan sosial. Busana tidak hanya merepresentasikan gaya, tetapi juga nilai empati, inklusi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dengan panggung yang menggabungkan seni, fesyen, dan isu kemanusiaan, acara ini meninggalkan pesan yang kuat bagi publik. Perempuan pengungsi menunjukkan bahwa keberanian untuk tampil dapat menjadi awal dari perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.
