Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Hari Perempuan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 22 Mei 2026 23:16 WIB 5
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Hari Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Kegiatan ini menghadirkan pengungsi perempuan dari sejumlah negara sebagai model sekaligus seniman, di tengah sorotan pada isu pemberdayaan dan solidaritas. Acara tersebut menjadi ruang apresiasi bagi perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan. Melalui panggung ini, Makaila Haifa ingin menunjukkan bahwa ketangguhan perempuan dapat tumbuh dari pengalaman yang paling sulit.

Trunk show itu digelar melalui Mishka Project, yang menampilkan karya dan penampilan para pengungsi perempuan di Indonesia. Selain memperlihatkan busana modest wear, acara ini juga menonjolkan karya fashion painting dari para pengungsi berbakat. Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok di balik konsep yang mengangkat narasi baru tentang pengungsi. Ia menempatkan mereka bukan sebagai korban, melainkan individu yang berdaya dan memiliki talenta.

Mishka Project dan Panggung Resiliensi

Mishka Project dirancang sebagai wadah yang mempertemukan mode, seni, dan pesan kemanusiaan. Dalam acara ini, para pengungsi perempuan tampil dengan percaya diri di hadapan publik. Kehadiran mereka memberi dimensi baru pada peragaan busana, karena bukan hanya menampilkan busana, tetapi juga perjalanan hidup. Konsep tersebut memperkuat pesan bahwa fashion dapat menjadi medium yang inklusif.

Makaila Haifa memanfaatkan panggung ini untuk menegaskan nilai pemberdayaan perempuan. Kolaborasi dengan UNHCR memberi legitimasi pada pesan sosial yang dibawa acara tersebut. Para peserta berasal dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan, dengan latar belakang yang beragam. Meski datang dari situasi berbeda, mereka dipersatukan oleh semangat untuk terus melangkah.

Ling Hida menekankan bahwa pengalaman hidup para pengungsi layak mendapat ruang yang setara di industri fashion. Melalui Mishka Project, ia ingin menghadirkan narasi yang lebih manusiawi dan optimistis. Acara ini juga menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi jembatan untuk membangun empati. Dengan pendekatan itu, busana tidak hanya menjadi produk gaya, tetapi juga sarana penyampaian pesan sosial.

Kolaborasi Fashion dan Kemanusiaan

UNHCR hadir sebagai mitra yang mendukung agenda perlindungan dan pemberdayaan pengungsi. Kerja sama ini memperlihatkan bahwa sektor mode dapat berperan dalam isu kemanusiaan. Panggung fashion tidak hanya dimanfaatkan untuk estetika, tetapi juga untuk membuka ruang dialog publik. Pendekatan seperti ini dinilai relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberagaman dan inklusi.

Dalam trunk show tersebut, para pengungsi wanita tampil sebagai model yang memperagakan koleksi modest wear Makaila Haifa. Penampilan mereka disusun untuk menonjolkan kepercayaan diri, bukan sekadar tampilan busana. Setiap langkah di atas panggung menjadi simbol keberanian untuk melampaui batas-batas yang selama ini melekat pada status pengungsi. Karena itu, acara ini membawa pesan yang lebih luas dari sekadar peragaan busana.

Kolaborasi ini juga memberi kesempatan bagi publik untuk melihat sisi lain dari komunitas pengungsi. Di balik kisah perpindahan dan tantangan hidup, terdapat kemampuan yang dapat berkembang bila diberi ruang. Makaila Haifa dan UNHCR mencoba memperlihatkan potensi tersebut secara terbuka. Hasilnya, acara ini menjadi pertemuan antara inspirasi, identitas, dan kemanusiaan.

Perempuan Pengungsi Tampil Berdaya

Para pengungsi perempuan yang tampil dalam acara ini datang dari latar belakang yang penuh tantangan. Namun di atas panggung, mereka hadir sebagai pribadi yang percaya diri dan ekspresif. Kehadiran mereka memberi contoh bahwa ketangguhan dapat lahir dari kondisi yang serba terbatas. Pesan ini menjadi inti dari tema From Surviving to Thriving.

Selain model, acara ini juga menampilkan karya fashion painting dari para pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi sarana penyembuhan dan pengakuan diri. Melalui medium visual, pengalaman personal mereka diubah menjadi karya yang bernilai. Ini menambah kedalaman artistik dalam keseluruhan rangkaian acara.

Partisipasi para perempuan pengungsi menegaskan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari ruang formal. Ketika diberi akses, kesempatan, dan kepercayaan, mereka mampu menunjukkan kualitas terbaiknya. Acara ini menjadi bukti bahwa inklusi dapat diwujudkan melalui platform kreatif. Pada saat yang sama, publik diajak melihat keberagaman sebagai kekuatan.

Pesan Makaila Haifa untuk Fashion

Makaila Haifa menempatkan fashion sebagai ruang yang mampu membawa perubahan sosial. Melalui kolaborasi ini, brand tersebut menunjukkan komitmen pada isu perempuan dan pengungsi. Pendekatan tersebut membuat brand lokal hadir tidak hanya sebagai pelaku industri, tetapi juga sebagai penggerak pesan kemanusiaan. Strategi ini sekaligus memperluas makna modest wear di mata publik.

Langkah yang diambil Ling Hida memperlihatkan bahwa narasi dalam industri fashion dapat dibangun secara lebih bertanggung jawab. Ia mengajak publik melihat pengungsi perempuan sebagai individu yang memiliki martabat dan kapasitas. Pesan itu diperkuat dengan format trunk show yang menggabungkan busana dan karya seni. Dengan demikian, acara ini meninggalkan kesan yang kuat dan relevan.

Di tengah peringatan Hari Perempuan Internasional 2026, acara ini menjadi pengingat bahwa pemberdayaan perempuan harus hadir dalam tindakan nyata. Kolaborasi Makaila Haifa dan UNHCR memberi contoh bahwa industri kreatif dapat menjadi bagian dari solusi sosial. Panggung fashion pun berubah menjadi ruang advokasi yang elegan dan bermakna. Dari sana, ketangguhan perempuan dipresentasikan sebagai kekuatan yang layak dirayakan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!