Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet dari Bisnis Kuliner

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 14:08 WIB 6
Mahasiswi Palangka Raya Raup Omzet dari Bisnis Kuliner

Windy Maulidya, mahasiswi berusia 23 tahun asal Palangka Raya, berhasil mengembangkan usaha kuliner kekinian bernama We.Eats sejak 2023. Ide bisnis itu muncul saat ia menempuh kuliah di jurusan bisnis dan melihat tugas kampus sebagai peluang untuk membangun usaha. Dari langkah kecil tersebut, ia perlahan membuktikan bahwa bisnis bisa tumbuh sambil menjalani peran sebagai mahasiswa. Kini, We.Eats menjadi sumber pendapatan yang memberi hasil nyata bagi Windy.

Windy mengaku kecintaannya pada kegiatan memasak ikut memperkuat keyakinannya untuk terjun ke usaha kuliner. Pada awalnya, ia menjalankan penjualan dengan sistem pre-order kepada teman terdekat, lalu memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan. Strategi itu membuat pesanan masuk semakin rutin hingga produknya bisa dipesan setiap hari. Saluran penjualan juga berkembang melalui GoFood dan Instagram.

Bisnis Kuliner Windy

We.Eats bermula dari kebutuhan sederhana untuk mengubah ide kuliah menjadi usaha yang lebih konkret. Windy melihat materi perkuliahan di bidang bisnis sebagai bekal yang relevan untuk membangun merek sendiri. Ia kemudian merancang produk kuliner yang disesuaikan dengan selera pasar anak muda. Langkah itu menjadi pondasi awal pertumbuhan usahanya.

Pada tahap awal, Windy hanya membuka pesanan dalam jumlah terbatas melalui sistem open PO. Respons positif dari teman dan pembeli awal membuat ia semakin percaya diri untuk melanjutkan bisnis tersebut. Dari satu kali pembukaan pesanan, usahanya terus berlanjut hingga menjadi layanan harian. Perubahan itu menunjukkan adanya permintaan yang stabil dari pelanggan.

Promosi melalui media sosial menjadi faktor penting dalam memperluas pasar We.Eats. Informasi tentang menu dan pemesanan disebarkan lewat akun Instagram, sehingga jangkauan konsumen tidak lagi terbatas pada lingkungan pertemanan. Kehadiran di platform digital juga memudahkan pelanggan menemukan produk yang ditawarkan. Dengan cara itu, bisnis Windy tumbuh lebih cepat dan lebih terukur.

Modal Kecil Hasil Maksimal

Untuk memulai usaha, Windy hanya membutuhkan modal sekitar Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku harian di pasar agar produksi tetap berjalan. Sementara itu, peralatan masak yang dipakai berasal dari dapur yang sudah tersedia di rumah. Pola ini membuat pengeluaran awal tetap terkendali.

Dengan modal yang relatif kecil, Windy mampu menjaga arus kas usahanya agar tidak terbebani di fase awal. Ia memilih untuk berkembang secara bertahap dengan menambah bahan baku, peralatan, dan fasilitas sesuai kebutuhan. Pendekatan step by step tersebut membuat bisnisnya bertahan tanpa tekanan biaya yang terlalu besar. Strategi ini juga meminimalkan risiko saat permintaan masih berubah-ubah.

Hasil dari pengelolaan yang disiplin itu kini mulai terlihat pada pendapatan usahanya. Windy menyebut omzet bersih We.Eats bisa mencapai Rp 5 juta per bulan. Angka tersebut menjadi bukti bahwa usaha kecil tetap dapat menghasilkan pendapatan yang menjanjikan. Bagi Windy, pertumbuhan usaha jauh lebih penting daripada ekspansi yang terburu-buru.

Tantangan SDM Usaha

Di balik pertumbuhan usaha, Windy masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia. Saat ini, ia hanya dibantu satu karyawan untuk memasak dan menyiapkan produk. Kondisi itu membuat proses produksi harus dikelola dengan sangat hati-hati. Jika permintaan meningkat tajam, kapasitas kerja pun menjadi lebih cepat penuh.

Keterbatasan tenaga kerja kerap membuat Windy kewalahan ketika pesanan masuk terlalu banyak. Ia mengatakan bahwa pesan langsung di media sosial kadang menumpuk hingga perlu membatasi jumlah order. Langkah tersebut diambil agar kualitas makanan tetap terjaga. Selain itu, pelanggan diharapkan tetap menerima pesanan tepat waktu.

Untuk menjaga pelayanan, Windy sesekali mematikan sementara pesanan di GoFood ketika antrean terlalu padat. Kebijakan itu dilakukan agar alur produksi tetap terkendali dan tidak mengorbankan kepuasan pelanggan. Menurutnya, menjaga ritme kerja jauh lebih penting daripada mengejar pesanan sebanyak mungkin. Pendekatan itu membantu usaha tetap berjalan stabil meski sumber daya masih terbatas.

Pelajaran Dari Usaha Mahasiswa

Kisah Windy menunjukkan bahwa tugas kuliah dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya bisnis yang nyata. Ia memanfaatkan pengetahuan dari jurusan bisnis untuk membaca peluang dan menyusun langkah usaha sejak dini. Kombinasi antara minat pribadi dan pembelajaran akademik membuat ide tersebut lebih mudah dijalankan. Dari sana, usaha kecil bisa berkembang menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Perjalanan We.Eats juga menegaskan pentingnya konsistensi dalam membangun usaha dari nol. Windy tidak langsung mengejar skala besar, melainkan memilih tumbuh perlahan sesuai kemampuan modal dan tenaga. Pilihan itu membuat bisnisnya tetap sehat dan mudah dikendalikan. Dalam jangka panjang, strategi bertahap seperti ini kerap lebih aman bagi pelaku usaha muda.

Pengalaman Windy memberi gambaran bahwa peluang bisnis bisa muncul dari aktivitas sehari-hari, termasuk tugas kampus. Dengan modal terbatas, promosi digital, dan pengelolaan yang disiplin, usaha kuliner dapat menghasilkan omzet yang menjanjikan. Meski masih menghadapi tantangan SDM, ia berhasil menjaga usahanya tetap berjalan. Kisah ini menjadi contoh bahwa mahasiswa juga dapat membangun pundi-pundi rupiah lewat kreativitas dan ketekunan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!