Mahasiswi Palangka Raya Dirikan We.Eats, Omzet Rp5 Juta

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 13 Mei 2026 12:52 WIB 7
Mahasiswi Palangka Raya Dirikan We.Eats, Omzet Rp5 Juta

Windy Maulidya, 23 tahun, mahasiswi jurusan bisnis asal Palangka Raya, memulai usaha kuliner kekinian bernama We.Eats pada 2023. Ia memilih menjalankan bisnis sambil menempuh kuliah karena belajar teori bisa langsung diterapkan. Ide itu lahir karena minat memasak yang kuat dan keinginan mandiri secara finansial.

Menurut Windy, ide itu lahir pada September 2023 ketika ia mulai mempertimbangkan menjalankan usaha sampingan sambil kuliah. Ide bisnis berawal dari tugas kuliah yang relevan, kata Windy, dan promosi melalui media sosial membuat pelanggan meningkat. Ia melihat peluang pasar kuliner kekinian di lingkungannya.

Ia menjelaskan bahwa perencanaan ini lahir dari tugas kuliah yang relevan dan minatnya pada bidang kuliner, sehingga ia memulai We.Eats dengan langkah pragmatis.

Perjalanan Awal

Awalnya Windy membuka pesanan dengan sistem pre-order untuk teman terdekat, tanpa membuka layanan luas. Ia memanfaatkan bakat memasak untuk memenuhi pesanan yang ada. Model usaha yang sederhana membuat Windy bisa mengatur produksi dengan kapasitas terbatas.

Seiring waktu, pesanan meningkat dan We.Eats bisa dipesan setiap hari melalui GoFood dan Instagram. Windy menata proses produksi agar pelanggan selalu menerima makanan tepat waktu. Beberapa pelanggan telah menjadikan We.Eats pilihan kuliner kekinian di sekitar mereka.

Modal awal yang diperlukan hanya Rp 1-3 juta untuk membeli bahan baku harian di pasar. Peralatan masak menggunakan yang sudah ada di dapur sehingga investasi terasa relatif kecil. Di tahap awal, Windy mengerjakan semua pekerjaan sendiri untuk menjaga kualitas.

Modal dan Operasional

Windy memulai dengan modal kecil, sekitar Rp 1-3 juta untuk pembelian bahan baku harian. Ia mengandalkan peralatan masak yang tersedia di dapur untuk mengurangi biaya investasi. Langkah itu membuat operasional tetap ringan meski skala bisnis berkembang.

Pengelolaan operasional dilakukan secara bertahap, dengan fokus pada kualitas produk. SDM yang terlibat saat ini masih satu orang karyawan untuk memasak dan menyiapkan pesanan. Penyesuaian produksi dilakukan agar pesanan tetap terkendali.

Untuk menjaga kualitas, Windy membatasi jumlah pesanan ketika DM atau GoFood terlalu banyak. Pembatasan ini membantu memastikan pelanggan menerima makanan tepat waktu. Promosi untuk pesanan berkelanjutan juga terus dilakukan melalui platform sosial.

Omzet dan SDM

Seiring waktu, omzet bersih Windy mencapai sekitar Rp5 juta per bulan. Pertumbuhan ini terjadi secara bertahap berkat konsistensi produksi dan promosi yang efektif. Andai skala usaha meningkat, Windy tetap mengutamakan kepuasan pelanggan.

Untuk ukuran usaha rumahan, sumber daya manusia masih terbatas. Satu karyawan membantu memasak dan menyiapkan produk agar siap dinikmati pelanggan. Di sisi lain, kapasitas produksi terkadang menjadi kendala ketika tingkat pesanan melonjak.

Untuk menjaga ritme, Windy menilai kebutuhan menambah tenaga kerja atau fasilitas secara bertahap. Langkah itu diambil agar layanan tetap berjalan efektif tanpa mengorbankan kualitas. Ikhtiar ini menunjukkan potensi usaha kuliner rumahan sebagai ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!