Luhut Minta Maaf ke Investor Global Soal Gejolak Pasar

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 22 Mei 2026 08:12 WIB 7
Luhut Minta Maaf ke Investor Global Soal Gejolak Pasar

Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta maaf kepada para investor dan manajer investasi global atas gejolak pasar keuangan Indonesia yang belakangan tertekan sentimen geopolitik dan kenaikan harga minyak. Permintaan maaf itu disampaikan saat ia bertemu sejumlah investor di Singapura, Kamis (21/5/2026), sekaligus menjelaskan langkah pemerintah menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Luhut menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, dengan pertumbuhan ekonomi berada di level 5,61 persen dan inflasi terjaga di 2,4 persen. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan antisipasi jika tekanan harga energi dan volatilitas pasar terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Investor Global dan Gejolak Pasar

Luhut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada para investor yang terdampak kondisi pasar di Indonesia. Ia mengakui bahwa gejolak yang terjadi menimbulkan dampak negatif bagi sebagian pelaku pasar.

Dalam pertemuan tersebut, ia menilai kekhawatiran investor cukup wajar di tengah fluktuasi nilai tukar dan arus modal keluar. Tekanan itu dipicu tingginya suku bunga global dan memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Luhut, penyampaian kondisi riil ekonomi menjadi penting agar investor memiliki gambaran yang lebih jernih. Ia ingin memastikan komunikasi pemerintah tetap terbuka di hadapan pelaku pasar internasional.

Ia menambahkan, kepastian kebijakan sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pemerintah diminta menjaga konsistensi arah kebijakan agar kepercayaan investor tetap terpelihara.

Inflasi Masih Terkendali

Luhut menegaskan inflasi Indonesia masih bisa dikelola dengan baik di tengah tekanan harga minyak. Ia menyebut angka inflasi berada di kisaran 2,4 persen dan masih dalam kendali.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan fondasi ekonomi nasional tetap solid. Pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 5 persen juga menjadi penopang utama daya tahan ekonomi domestik.

Luhut mengatakan pemerintah tidak boleh lengah terhadap potensi kenaikan harga barang yang mulai terasa sejak bulan ini atau awal bulan depan. Ia menilai dampak harga minyak dapat merembet ke berbagai sektor jika tidak diantisipasi sejak dini.

Karena itu, ia telah memberi masukan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah menyiapkan langkah tambahan. Salah satu usulan yang disampaikan adalah pemberian stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat.

Stimulus Jaga Daya Beli

Luhut mengungkapkan pemerintah perlu bersiap menghadapi kemungkinan tekanan inflasi setelah Juli 2026. Ia menilai langkah antisipatif harus disiapkan sebelum dampaknya terasa lebih luas.

Ia mengusulkan stimulus ekonomi untuk menjaga konsumsi masyarakat tetap kuat. Menurutnya, daya beli menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

Luhut juga menyampaikan bahwa DEN telah membuat simulasi apabila harga minyak menyentuh US$ 100 per barel. Hasil kajian itu sudah disampaikan kepada Presiden Prabowo beserta rekomendasi kebijakan yang diperlukan.

Simulasi tersebut dipakai untuk membaca risiko terhadap barang, inflasi, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Dengan begitu, pemerintah dapat bergerak lebih cepat jika tekanan global memburuk.

Pasar Modal dan GovTech

Di sisi lain, Luhut menyebut pemerintah tengah memperkuat efisiensi melalui transformasi digital dan pengembangan teknologi GovTech. Salah satu fokusnya adalah mengubah subsidi energi dari berbasis barang menjadi bantuan tunai langsung yang lebih tepat sasaran.

Ia juga mendorong Otoritas Jasa Keuangan untuk mengoptimalkan kecerdasan buatan dalam sistem pengawasan pasar modal. Langkah itu diharapkan membuat pengawasan lebih bersih, transparan, dan efektif.

DEN turut mematangkan pengembangan Indonesia Financial Center di Kawasan Ekonomi Khusus sebagai ruang kolaborasi strategis. Kawasan ini dirancang menawarkan iklim usaha yang setara dengan pusat keuangan global.

Luhut menilai arah kebijakan ekonomi Indonesia sudah jelas, yakni lebih kompetitif, transparan, dan efisien. Dengan eksekusi yang kuat, ia meyakini peluang investasi jangka panjang di Indonesia tetap menjanjikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!