Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lifestyle Clara Monica 01 Juni 2026 09:02 WIB 4
Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Aktris Hollywood Lucy Liu mengungkap pengalaman pribadinya saat menjalani operasi payudara setelah mendapati benjolan yang diduga kanker. Kejadian itu terjadi pada era 1990-an, ketika akses informasi kesehatan belum semudah sekarang, sehingga ia sepenuhnya mengandalkan penjelasan dokter. Belakangan, perempuan 57 tahun itu mengetahui bahwa diagnosis awal tersebut keliru.

Pengalaman itu kini kembali ia ceritakan dalam wawancara dengan PEOPLE, sekaligus menjadi pengingat bahwa salah diagnosis dapat menimpa siapa saja. Lucy Liu menuturkan, keputusan medis yang diambil saat itu membuatnya menjalani operasi, sebelum akhirnya diketahui bahwa benjolan tersebut bukan kanker. Kisahnya menegaskan pentingnya pemeriksaan lanjutan, opini kedua, dan keberanian untuk bertanya lebih jauh.

Lucy Liu dan kanker payudara

Lucy Liu mengaku pergi ke dokter setelah menemukan benjolan di payudara pada 1990-an. Saat itu, dokter yang memeriksanya dengan perabaan langsung menyatakan benjolan tersebut sebagai kanker. Tidak ada pemeriksaan tambahan seperti ultrasound atau mammogram sebelum keputusan medis diambil.

Karena tidak memiliki banyak sumber informasi, Lucy Liu memilih mempercayai diagnosis dokter. Ia mengatakan situasi tersebut terasa menakutkan, terutama karena internet belum tersedia luas seperti sekarang. Kondisi itu membuat pasien pada masa itu lebih bergantung pada satu pendapat medis.

Akhirnya, Lucy Liu menjadwalkan operasi untuk mengangkat benjolan tersebut dari payudaranya. Setelah tindakan dilakukan, ia baru mengetahui bahwa benjolan itu bukan kanker. Pengalaman itu menjadi salah satu momen paling penting dalam hidupnya.

Pelajaran dari salah diagnosis

Beberapa dekade kemudian, Lucy Liu menilai pengalaman tersebut sebagai awal pemahamannya tentang pentingnya membela diri sendiri. Ia menyadari bahwa menerima diagnosis tanpa mengajukan pertanyaan tambahan bisa berdampak besar. Menurutnya, pasien perlu lebih aktif dalam memahami kondisi kesehatan mereka.

Lucy Liu juga mengingat bahwa seorang temannya sempat menyarankan untuk mencari pendapat kedua. Namun, kala itu ia merasa dokter lebih tahu sehingga tidak menindaklanjuti saran tersebut. Sikap itu, katanya, menjadi pelajaran berharga yang ia bawa hingga kini.

Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut bukan untuk disesali semata, melainkan dijadikan pembelajaran. Kesadaran untuk bertanya, meminta pemeriksaan tambahan, dan mengevaluasi diagnosis menjadi hal yang sangat penting. Bagi Lucy Liu, langkah kecil itu dapat membantu mencegah keputusan medis yang kurang tepat.

Advokasi dan skrining dini

Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer dalam kampanye Every Breakthrough Matters. Melalui kampanye itu, ia ingin mendorong masyarakat menjadi pendukung terbaik bagi diri sendiri. Ia juga ingin meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi dini melalui skrining kanker.

Lucy Liu menilai skrining bukan sekadar tindakan medis, melainkan bagian dari pemahaman terhadap kondisi tubuh. Menurutnya, informasi yang tepat dan keberanian untuk mencari tahu sangat dibutuhkan. Ia menekankan bahwa advokasi diri dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih baik.

Ia juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi belum tentu membuat semua orang lebih peduli pada pemeriksaan kesehatan. Banyak orang menunda skrining karena takut mendapat kabar buruk atau merasa terlalu sibuk. Karena itu, Lucy Liu berharap kampanyenya dapat mendorong lebih banyak orang untuk tidak menunda pemeriksaan.

Waspada pada gejala tubuh

Kisah Lucy Liu menjadi pengingat bahwa benjolan pada tubuh tidak boleh diabaikan begitu saja. Pemeriksaan medis yang memadai dapat membantu memastikan apakah kondisi tersebut berbahaya atau tidak. Langkah cepat sejak awal sering kali menentukan hasil penanganan berikutnya.

Para ahli kesehatan umumnya menganjurkan pasien untuk meminta penjelasan rinci saat menerima diagnosis. Jika masih ada keraguan, pendapat kedua dapat menjadi pilihan yang wajar dan aman. Sikap ini penting agar keputusan medis diambil berdasarkan informasi yang lebih lengkap.

Pengalaman Lucy Liu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan pribadi tidak boleh kalah oleh rasa takut. Dengan pemeriksaan yang tepat dan komunikasi yang terbuka, pasien memiliki peluang lebih besar untuk memahami kondisi tubuhnya. Pesan yang ia bawa sederhana, tetapi kuat, yakni jangan ragu untuk memperjuangkan kesehatan sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!