Dokter Ingatkan Bahaya Makan Daging Berlebih Saat Idul Adha

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 09:33 WIB 3
Dokter Ingatkan Bahaya Makan Daging Berlebih Saat Idul Adha

Momen Idul Adha identik dengan melimpahnya olahan daging di banyak rumah, mulai dari sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Di tengah suasana perayaan, dokter mengingatkan bahwa pola makan berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan yang serius. Peringatan ini disampaikan oleh dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi-hepatologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyanto, SpPD-KGEH. Ia menekankan bahwa konsumsi daging tetap boleh dilakukan, tetapi harus dalam batas wajar.

Menurut dr Aru, perubahan pola makan yang drastis selama hari raya dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, hingga asam urat. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi masyarakat yang sudah memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, atau gangguan metabolik lainnya. Selain jumlah daging, cara pengolahan juga ikut menentukan dampaknya bagi tubuh. Karena itu, pengaturan menu selama Idul Adha menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Risiko Konsumsi Daging Berlebih

dr Aru menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya tidak menjadikan Idul Adha sebagai alasan untuk makan daging secara berlebihan. Ia mengingatkan agar pola makan tetap mendekati kebiasaan harian, sehingga tubuh tidak kaget menerima asupan tinggi lemak dan protein secara mendadak. Kebiasaan makan berlebihan dapat membebani metabolisme dan memicu keluhan pada sebagian orang. Dalam kondisi tertentu, dampaknya bisa muncul lebih cepat dan lebih berat.

Menurutnya, risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah porsi, tetapi juga frekuensi konsumsi dalam sehari. Jika daging dikonsumsi terus-menerus dari pagi hingga malam, tubuh akan menerima beban asupan yang jauh lebih besar dari biasanya. Kondisi ini dapat memengaruhi kadar lemak darah dan tekanan darah. Pada individu dengan riwayat penyakit tertentu, risiko tersebut menjadi semakin tinggi.

Ia menyebut kelompok yang perlu lebih waspada adalah penderita diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik lain. Pada kelompok ini, perubahan menu yang ekstrem dapat memicu ketidakseimbangan kondisi tubuh. Daging sebenarnya tetap bisa dinikmati, selama porsinya terkontrol dan tidak dijadikan hidangan utama di setiap waktu makan. Kesadaran terhadap kondisi kesehatan pribadi menjadi kunci pencegahan.

Selain itu, konsumsi berlebih juga dapat memicu rasa tidak nyaman pada pencernaan, terutama jika disertai makanan berat lain dalam jumlah besar. Perut yang terlalu penuh dapat membuat tubuh cepat lelah dan mengganggu aktivitas. Karena itu, keseimbangan asupan harus dijaga meski suasana perayaan berlangsung meriah. Prinsip utamanya adalah menikmati hidangan tanpa melampaui kebutuhan tubuh.

Cara Memilih Olahan Lebih Sehat

dr Aru menyarankan masyarakat untuk lebih selektif memilih olahan daging yang dikonsumsi saat Idul Adha. Ia mengimbau agar hidangan yang terlalu asin, terlalu berminyak, atau terlalu berlemak sebaiknya dibatasi. Kandungan tersebut dapat memperburuk kondisi kolesterol dan tekanan darah, terutama pada orang yang sudah memiliki faktor risiko. Pilihan menu yang lebih ringan akan membantu tubuh tetap nyaman selama perayaan.

Olahan bersantan pekat juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan asupan lemak jenuh. Dalam jangka pendek, makanan seperti ini dapat membuat tubuh terasa lebih berat dan mudah lelah. Jika dikonsumsi berlebihan, risikonya bukan hanya pada kolesterol, tetapi juga pada kadar asam urat. Oleh sebab itu, porsi dan komposisi bahan sebaiknya dipikirkan sejak proses memasak.

Ia menilai metode pengolahan yang lebih sederhana dapat menjadi alternatif yang lebih aman bagi banyak orang. Daging bisa disajikan dengan bumbu yang tidak terlalu berminyak dan tidak terlalu banyak garam. Cara ini tetap memungkinkan masyarakat menikmati cita rasa khas Idul Adha tanpa membebani tubuh secara berlebihan. Pengendalian bumbu menjadi bagian penting dari pola makan sehat saat hari raya.

Selain memilih jenis olahan, masyarakat juga disarankan untuk memperbanyak asupan sayur dan air putih. Kombinasi ini dapat membantu menyeimbangkan asupan protein dan lemak dari daging. Serat dari sayuran juga dapat mendukung pencernaan agar tidak terasa terlalu berat. Dengan begitu, hidangan daging tetap bisa dinikmati secara lebih bijak.

Perhatian Khusus Bagi Penderita Penyakit

Masyarakat dengan diabetes perlu memberi perhatian ekstra terhadap menu Idul Adha. Asupan berlebihan, terutama jika disertai makanan tinggi lemak dan garam, dapat mengganggu kontrol gula darah secara tidak langsung. Walau daging bukan sumber gula, pola makan yang tidak teratur dapat memengaruhi keseimbangan metabolik. Karena itu, pemilihan menu harus dilakukan dengan lebih hati-hati.

Bagi penderita hipertensi, kandungan garam dan lemak dalam hidangan menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Tekanan darah dapat lebih mudah naik jika makanan dikonsumsi dalam porsi besar dan berulang. Pada kondisi tertentu, kebiasaan tersebut juga dapat memicu rasa tidak nyaman seperti pusing atau lemas. Pengawasan asupan menjadi langkah yang sangat dianjurkan.

Orang dengan riwayat asam urat juga perlu membatasi konsumsi daging, terutama jika porsinya sangat besar. Konsumsi yang berlebihan dapat meningkatkan peluang naiknya kadar asam urat dalam darah. Jika dibiarkan, kondisi tersebut bisa memunculkan nyeri sendi yang mengganggu aktivitas harian. Karena itu, pengaturan porsi jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti kebiasaan makan bersama.

dr Aru menekankan bahwa kepedulian terhadap kondisi tubuh masing-masing orang harus menjadi bagian dari tradisi perayaan. Idul Adha dapat dirayakan dengan tetap menikmati makanan khas, tanpa mengabaikan kesehatan. Kesadaran ini akan membantu masyarakat terhindar dari keluhan yang sebenarnya bisa dicegah. Perayaan pun dapat berlangsung lebih nyaman dan tetap bermakna.

Menikmati Idul Adha Secara Seimbang

Menurut dr Aru, kunci utama dalam menikmati hidangan Idul Adha adalah keseimbangan. Masyarakat tidak perlu menghindari daging sepenuhnya, tetapi harus mengetahui batas yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Porsi yang wajar akan membantu mencegah lonjakan asupan lemak, garam, dan kalori. Dengan pendekatan ini, tradisi makan bersama tetap bisa dijalani tanpa mengorbankan kesehatan.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada kebiasaan mencicipi berbagai olahan daging sepanjang hari. Meski tampak wajar dalam suasana perayaan, pola seperti ini bisa membuat asupan menjadi berlebihan tanpa disadari. Tubuh membutuhkan jeda dan variasi makanan agar tetap seimbang. Karena itu, mengatur waktu makan menjadi bagian penting dari pencegahan.

Selain menjaga porsi, masyarakat dianjurkan untuk tetap aktif bergerak setelah makan. Aktivitas ringan dapat membantu tubuh memproses makanan dengan lebih baik dan mengurangi rasa begah. Kebiasaan sederhana ini juga mendukung metabolisme agar tidak terlalu terbebani. Dalam jangka panjang, langkah kecil semacam ini memberi manfaat besar bagi kesehatan.

Dengan pengaturan yang tepat, hidangan khas Idul Adha tetap dapat dinikmati tanpa menimbulkan risiko berlebih. Pesan utama yang disampaikan dr Aru adalah agar masyarakat tidak berlebihan dan tetap memperhatikan cara mengolah makanan. Tradisi berbagi daging akan lebih bermakna jika dibarengi dengan kepedulian terhadap kondisi tubuh. Perayaan pun menjadi lebih sehat, nyaman, dan aman bagi banyak orang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!