IHSG Menguat, Asing Masih Jual Bersih dan Emiten Bergerak

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 02 Juni 2026 10:55 WIB 2
IHSG Menguat, Asing Masih Jual Bersih dan Emiten Bergerak

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan indeks ditopang lonjakan saham berbasis komoditas dan tambang, terutama Merdeka Copper Gold (MDKA), Emas Antam Indonesia (EMAS), dan Bumi Resources Minerals (BRMS).

Meski demikian, penguatan IHSG tertahan oleh pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar seperti Telkom Indonesia (TLKM), Astra International (ASII), dan Bayan Resources (BYAN). Di saat yang sama, investor asing masih mencatat jual bersih besar, sementara pasar menyoroti sentimen global, rebalancing indeks MSCI, serta sejumlah aksi korporasi emiten.

IHSG Ditopang Saham Komoditas

Penguatan IHSG pada penutupan pekan lalu terutama berasal dari saham-saham berbasis komoditas dan tambang. MDKA melesat 24,77 persen dan menjadi motor utama kenaikan indeks.

Selain MDKA, EMAS naik 19,67 persen dan BRMS menguat 11,50 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan minat beli investor masih kuat pada emiten yang terkait dengan emas dan mineral.

Meski sektor bergerak positif, tekanan dari saham berkapitalisasi besar membatasi laju indeks. TLKM terkoreksi 2,67 persen, ASII melemah 3,57 persen, dan BYAN turun 4,53 persen.

Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona hijau pada perdagangan tersebut. Sektor basic industry memimpin penguatan sebesar 6,85 persen, sedangkan sektor keuangan menjadi yang paling lemah dengan penurunan 0,28 persen.

Asing Masih Lakukan Jual Bersih

Di tengah penguatan indeks, investor asing masih membukukan aksi jual bersih yang cukup besar. Nilainya mencapai Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar.

Tekanan jual dari asing menjadi salah satu faktor yang menahan reli IHSG lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih berhati-hati dalam merespons arah kebijakan dan sentimen global.

Sentimen positif datang dari bursa Amerika Serikat yang bergerak menguat. Dow Jones naik 0,58 persen ke 50.579, S&P 500 bertambah 0,37 persen ke 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19 persen ke 26.343.

Namun, pasar domestik tetap mencermati perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu dampak rebalancing indeks MSCI yang akan efektif mulai 1 Juni.

Perubahan Indeks dan Arus Dana

Isu rebalancing indeks turut tercermin pada pergerakan sejumlah produk berbasis indeks. ETF EIDO bergerak relatif mendatar di level 0,08 persen, sedangkan MSCI Indonesia turun 0,95 persen.

Dari pasar global, FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dari indeks Large Cap. Selain itu, Daaz Bara Lestari (DAAZ), Hillcon (HILL), dan Mulia Industrindo (MLIA) dicoret dari indeks Micro Cap.

FTSE menilai struktur kepemilikan saham DSSA terlalu terkonsentrasi, dengan HSC mencapai 95,76 persen. DAAZ dianggap belum memenuhi ketentuan minimum saham publik, sedangkan HILL dan MLIA dikeluarkan karena aktivitas perdagangan yang tidak biasa.

Perubahan komposisi indeks tersebut berpotensi memicu arus dana asing keluar lebih dari US$2,86 miliar. Kapitalisasi pasar Indonesia di FTSE juga diperkirakan turun di bawah US$88,15 miliar, dengan jumlah emiten dalam indeks menyusut dari 39 menjadi 35 perusahaan.

Aksi Korporasi Dan Rekomendasi

Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue setelah memperoleh persetujuan RUPS pada 26 Mei. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, perseroan berpotensi memperoleh dana besar untuk mendukung ekspansi.

Dana tersebut akan digunakan untuk akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha Petrosea (PTRO), senilai sekitar Rp1,73 triliun. SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai saat penyelesaian transaksi.

Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5 persen per tahun akan dilunasi bertahap hingga akhir 2028. Posisi kas dan setara kas SINI per 2025 tercatat sebesar Rp33,56 miliar.

Di sisi lain, Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham atau total Rp1,54 triliun. Jadwal cum dividen ditetapkan pada 3 Juni, sementara pembayaran akan dilakukan pada 19 Juni 2026.

INTP juga mencatat pendapatan turun 4,40 persen menjadi Rp17,73 triliun, tetapi laba bersih naik 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun. Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INTP berada di level Rp4.900 per saham dengan dividend yield sekitar 9,55 persen.

Dari sisi valuasi, saham INTP diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months. Untuk perdagangan hari ini, sejumlah saham yang dicermati antara lain TINS, ADMR, INDY, WIFI, dan DEWA dengan level beli, target, serta stop loss yang telah disusun analis.

Rekomendasi tersebut bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko, tujuan keuangan, dan kondisi pasar terkini.

Tag Terkait
#IHSG#saham#emiten

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!