Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 12:35 WIB 6
Lucy Liu Ungkap Salah Diagnosis Kanker Payudara

Aktris Hollywood Lucy Liu mengungkap pengalaman pribadinya saat menjalani operasi payudara setelah menemukan benjolan dan didiagnosis kanker pada 1990-an. Pengakuan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan PEOPLE, sekaligus menyoroti pentingnya deteksi dini dan keberanian mencari pendapat medis kedua.

Belakangan, Liu mengetahui bahwa diagnosis yang diterimanya ternyata keliru, karena benjolan tersebut bukan kanker. Pengalaman itu kini menjadi dasar keterlibatannya dalam kampanye kesehatan yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif memahami skrining kanker dan membela diri sendiri.

Pengalaman Lucy Liu

Lucy Liu menceritakan bahwa ia mendatangi dokter setelah menemukan benjolan di payudaranya pada 1990-an. Saat itu, akses terhadap informasi kesehatan belum semudah sekarang, sehingga ia sepenuhnya mempercayakan penilaian kepada tenaga medis. Menurutnya, kondisi tersebut membuatnya tidak banyak mempertanyakan hasil pemeriksaan awal. Ia pun menerima penjelasan yang diberikan dokter tanpa banyak keraguan.

Dokter yang memeriksanya saat itu meraba benjolan tersebut dan menyampaikan bahwa kondisi itu adalah kanker. Namun, tidak ada pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram untuk memastikan diagnosis tersebut. Karena informasi medis masih terbatas, Liu tidak segera mencari penjelasan tambahan. Ia lalu mengikuti saran dokter dan bersiap menjalani tindakan medis.

Akibat diagnosis itu, bintang Devil Wears Prada 2 tersebut segera menjadwalkan operasi untuk mengangkat benjolan di payudaranya. Setelah prosedur dijalankan, barulah ia mengetahui bahwa benjolan itu bukan kanker. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam hidupnya. Dari peristiwa itu, ia mulai memahami bahwa diagnosis awal tidak selalu final.

Pelajaran Tentang Advokasi

Seiring berjalannya waktu, Lucy Liu menilai pengalaman tersebut sebagai titik awal pemahamannya tentang pentingnya membela diri sendiri. Ia mengaku kala itu menerima diagnosis sebagai sesuatu yang resmi dan tidak terpikir untuk menindaklanjutinya lebih jauh. Bahkan ketika temannya menyarankan untuk meminta pendapat kedua, ia merasa dokter tentu mengetahui apa yang mereka bicarakan. Sikap itu membuatnya baru menyadari nilai kritis dari verifikasi medis di kemudian hari.

Bagi Liu, pengalaman salah diagnosis tersebut bukan hanya soal kesalahan medis, tetapi juga soal kurangnya keberanian untuk bertanya. Ia melihat bahwa pasien kerap berada dalam posisi pasif ketika berhadapan dengan otoritas medis. Padahal, keputusan kesehatan dapat berdampak besar pada fisik dan mental seseorang. Karena itu, ia kini menekankan pentingnya literasi kesehatan bagi masyarakat.

Ia menilai, memiliki informasi yang cukup dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih tenang dan rasional. Dalam situasi tertentu, meminta pemeriksaan tambahan atau pendapat medis kedua dapat menjadi langkah yang sangat penting. Liu menyebut, pada masa sekarang teknologi kesehatan memang lebih maju, tetapi banyak orang tetap menunda pemeriksaan. Menurutnya, hambatan itu sering muncul karena rasa takut, kesibukan, atau ketidaksiapan menghadapi kemungkinan hasil yang buruk.

Kampanye deteksi dini

Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer dalam kampanye Every Breakthrough Matters untuk meningkatkan kesadaran publik tentang skrining kanker. Melalui kampanye tersebut, ia ingin mendorong orang lain agar lebih aktif menjadi pendukung utama bagi kesehatan mereka sendiri. Baginya, deteksi dini bukan hanya soal pemeriksaan, tetapi juga soal pemahaman dan tindakan yang tepat. Pesan itu ia sampaikan dengan harapan masyarakat tidak mengabaikan gejala awal.

Liu menegaskan bahwa skrining kanker bukan sekadar upaya memperbaiki keadaan setelah masalah muncul. Ia menilai proses ini berkaitan erat dengan informasi yang benar, kesadaran diri, dan keberanian untuk bertanya. Menurutnya, banyak orang enggan melakukan skrining karena tidak ingin mengetahui hasil yang mungkin buruk. Padahal, pengetahuan yang lebih cepat dapat membuka peluang penanganan lebih dini.

Ia juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi tidak selalu otomatis membuat orang lebih waspada terhadap kesehatan mereka. Meski akses informasi kini jauh lebih mudah, sebagian orang tetap memilih menunda pemeriksaan. Lucy Liu berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat bahwa deteksi dini dan advokasi diri sangat penting. Dengan begitu, masyarakat bisa mengambil keputusan kesehatan dengan lebih sadar dan bertanggung jawab.

Pentingnya skrining kanker

Kasus yang dialami Lucy Liu menunjukkan bahwa salah diagnosis dapat terjadi meskipun datang dari pemeriksaan medis awal. Karena itu, masyarakat disarankan tidak ragu mencari penjelasan tambahan ketika hasil pemeriksaan terasa belum meyakinkan. Pendapat kedua dari tenaga medis lain bisa membantu memastikan langkah yang paling tepat. Dalam banyak kasus, kehati-hatian dapat mencegah keputusan medis yang keliru.

Skrining kanker menjadi salah satu cara penting untuk mendeteksi potensi masalah sejak dini. Pemeriksaan seperti ultrasound atau mammogram dapat membantu memberi gambaran yang lebih jelas tentang kondisi payudara. Langkah ini juga dapat menjadi dasar bagi dokter dalam menentukan tindakan selanjutnya. Semakin cepat masalah ditemukan, semakin besar peluang penanganan yang efektif.

Pengalaman Lucy Liu menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak boleh sepenuhnya diserahkan tanpa pertanyaan. Pasien perlu terlibat aktif, memahami pilihan yang ada, dan berani meminta penjelasan yang lebih rinci. Sikap proaktif dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih aman bagi dirinya sendiri. Dalam konteks ini, informasi yang tepat menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!