Lucy Liu Ungkap Pengalaman Salah Diagnosis Kanker Payudara

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 22:19 WIB 3
Lucy Liu Ungkap Pengalaman Salah Diagnosis Kanker Payudara

Aktris Hollywood Lucy Liu mengungkap pengalaman menegangkan saat menjalani operasi payudara setelah menemukan benjolan yang sempat diduga kanker. Peristiwa itu terjadi pada 1990-an, ketika akses informasi kesehatan masih terbatas dan ia sepenuhnya mengandalkan penilaian dokter.

Dalam wawancara dengan PEOPLE, bintang berusia 57 tahun itu menuturkan bahwa diagnosis awal ternyata keliru. Pengalaman tersebut kini ia jadikan pelajaran penting tentang keberanian membela diri sendiri, mencari pendapat kedua, dan memahami arti skrining kanker sejak dini.

Pengalaman Lucy Liu

Lucy Liu menceritakan bahwa ia mendatangi dokter setelah menemukan benjolan di payudara pada 1990-an. Saat itu, ia belum memiliki banyak sumber informasi untuk memeriksa kondisi kesehatannya secara mandiri. Karena itu, ia memilih mempercayakan sepenuhnya penilaian medis kepada dokter yang memeriksanya.

Menurut pengakuannya, dokter saat itu meraba benjolan tersebut dan menyebutnya sebagai kanker. Tidak ada pemeriksaan lanjutan seperti ultrasound atau mammogram yang dilakukan sebelum keputusan medis diambil. Kondisi tersebut membuatnya segera menjalani langkah operasi untuk mengangkat benjolan itu dari payudara.

Setelah operasi, ia baru mengetahui bahwa benjolan tersebut bukan kanker. Pengalaman itu menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya. Bagi Lucy Liu, kejadian tersebut menunjukkan betapa pentingnya ketelitian dalam proses diagnosis medis.

Pelajaran dari diagnosis

Beberapa dekade kemudian, Lucy Liu melihat kembali pengalaman itu sebagai awal dari pemahamannya tentang pentingnya membela diri sendiri. Ia mengaku saat itu menerima diagnosis yang dianggapnya resmi tanpa banyak mempertanyakannya. Ketika seorang teman menyarankan pendapat kedua, ia justru merasa dokter tentu lebih tahu.

Lucy Liu menilai pemikiran seperti itu sangat wajar pada masa ketika akses informasi masih terbatas. Namun, ia juga mengakui bahwa sikap pasif dapat membuat seseorang melewatkan kesempatan untuk mendapat penanganan yang lebih tepat. Pengalaman tersebut akhirnya mengubah cara pandangnya terhadap kesehatan pribadi.

Ia menekankan bahwa pasien perlu aktif bertanya dan memahami setiap langkah pemeriksaan yang dijalani. Menurutnya, keputusan medis sebaiknya tidak hanya diterima begitu saja tanpa penjelasan yang cukup. Sikap kritis dapat membantu mencegah kekeliruan diagnosis yang berdampak besar.

Pentingnya skrining kanker

Saat ini, Lucy Liu bekerja sama dengan Pfizer dalam kampanye Every Breakthrough Matters untuk meningkatkan kesadaran publik. Melalui kampanye itu, ia ingin mendorong orang agar lebih peduli pada skrining kanker dan deteksi dini. Ia juga menekankan bahwa informasi kesehatan kini lebih mudah diakses dibandingkan masa lalu.

Menurut Lucy Liu, kampanye tersebut bukan sekadar soal memperbaiki keadaan setelah sakit. Fokus utamanya adalah memahami arti skrining, informasi yang tepat, dan advokasi untuk diri sendiri. Ia menilai tiga hal itu sangat penting agar masyarakat tidak menunda pemeriksaan kesehatan.

Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat semua orang sadar akan pentingnya pemeriksaan. Banyak orang tetap menghindari skrining karena takut mengetahui hasilnya atau merasa terlalu sibuk. Karena itu, ia berharap lebih banyak orang berani memprioritaskan kesehatan sejak awal.

Ajakan untuk lebih waspada

Pengalaman Lucy Liu memperlihatkan bahwa salah diagnosis dapat terjadi bahkan pada seseorang yang memiliki akses ke layanan medis. Kasus seperti ini menjadi pengingat bahwa komunikasi antara pasien dan dokter harus berjalan lebih terbuka. Pemeriksaan lanjutan juga perlu dipertimbangkan ketika ada gejala yang belum jelas.

Di sisi lain, kisah tersebut menegaskan bahwa pendapat kedua dapat menjadi langkah penting dalam proses medis. Dengan pemeriksaan tambahan, pasien berpeluang mendapatkan gambaran kondisi yang lebih akurat. Langkah itu juga dapat membantu mengurangi risiko keputusan yang terburu-buru.

Lucy Liu berharap kisah pribadinya bisa mendorong lebih banyak orang untuk tidak menunda skrining kanker. Ia ingin publik memahami bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga soal keberanian mencari kepastian. Pesan itu menjadi inti dari advokasi yang kini ia suarakan melalui platformnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!