Limbah Daun Nanas Jadi Serat Bernilai Ekspor

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 13:29 WIB 3
Limbah Daun Nanas Jadi Serat Bernilai Ekspor

Bagi banyak petani, daun nanas selama ini hanya dianggap sebagai limbah panen yang tidak bernilai dan kerap dibakar begitu saja. Namun, di tangan Alan Sahroni, sisa tanaman itu berubah menjadi peluang usaha yang menggerakkan ekonomi petani dan menghasilkan produk bernilai tinggi.

Melalui Alfiber, Alan mengolah daun nanas menjadi serat yang bisa digunakan untuk tekstil, fesyen, dan kerajinan. Produk tersebut bahkan telah dikirim ke Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang, membuktikan bahwa limbah pertanian dapat masuk ke pasar global.

Potensi Serat Nanas

Alan mulai melihat peluang itu pada 2013, saat ia mengikuti lomba business plan nasional untuk syarat mengambil ijazah. Saat itu, ia sedang menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung melalui program beasiswa dari Kementerian Perindustrian.

Dari Subang, ia melihat komoditas nanas bukan hanya dari buahnya, tetapi juga dari daunnya yang menyimpan serat kuat. Serat inilah yang kemudian ia nilai bisa diolah menjadi bahan baku kain, kerajinan, dan produk fesyen.

Temuan itu menjadi titik awal lahirnya gagasan bisnis yang berbeda dari kebanyakan usaha berbasis pertanian. Alan kemudian menelusuri cara untuk mengubah limbah daun nanas menjadi material yang bernilai jual.

Potensi tersebut membuat daun nanas tidak lagi dipandang sebagai sisa panen. Sebaliknya, bahan yang kerap dibuang itu justru menjadi pintu masuk menuju industri turunan yang lebih luas.

Mesin Buatan Sendiri

Kemenangan dalam lomba business plan membuka jalan bagi Alan untuk mendapat fasilitas pembuatan mesin pengolah daun nanas. Karena belum ada mesin sejenis di pasaran, ia bersama dosen merancang dekortikator dari nol.

Mesin itu menjadi alat penting untuk memisahkan serat dari daun nanas secara efisien. Dari sanalah produksi komersial Alfiber mulai dirintis pada 2013.

Di masa awal, Alan harus memastikan mesin bekerja stabil agar serat yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar. Proses ini menjadi fondasi utama sebelum usaha berkembang lebih jauh.

Pembuatan mesin secara mandiri juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu dimulai dari teknologi impor. Dalam kasus Alfiber, solusi justru lahir dari kebutuhan lapangan dan kreativitas anak muda Indonesia.

Pemasaran Dari Nol

Meski produk sudah siap, tantangan berikutnya justru datang dari pasar yang belum mengenal serat daun nanas. Alan mengakui, pada awal produksi ia harus memulai pemasaran dari nol.

Ia memanfaatkan blog gratis untuk memperkenalkan produknya kepada publik. Upaya itu perlahan menarik perhatian akademisi, mahasiswa, dan media nasional.

Perjalanan promosi tersebut tidak berlangsung singkat karena produk serat nanas tergolong baru. Namun, konsistensi membuat Alfiber mulai dikenal sebagai pelopor pengolahan serat daun nanas di Indonesia.

Dari pemasaran sederhana itu, permintaan mulai berdatangan dari berbagai kalangan. Hal ini membuktikan bahwa produk inovatif tetap bisa tumbuh meski berangkat dari saluran promosi yang terbatas.

Ekspor Serat Nanas

Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket produksi lengkap, termasuk mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin. Paket tersebut banyak diminati pelaku industri kecil dan universitas untuk keperluan laboratorium.

Minat pasar itu kemudian membuka peluang ekspor. Pada 2021, Alfiber berhasil mengirim serat daun nanas ke Singapura di tengah situasi pandemi COVID-19.

Alan menyebut total ekspor ke negara tersebut mencapai 1,2 ton dengan harga sekitar Rp187 ribu per kilogram. Pengiriman dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan serat dan kebutuhan pembeli.

Capaian itu menegaskan bahwa limbah pertanian dapat menjadi komoditas bernilai tinggi jika diolah dengan tepat. Bagi petani, peluang ini juga memberi harapan baru untuk mendapatkan nilai tambah dari daun nanas yang sebelumnya terbuang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!