Limbah Daun Nanas Jadi Cuan Ekspor

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 01:37 WIB 2
Limbah Daun Nanas Jadi Cuan Ekspor

Bagi sebagian petani, daun nanas selama ini hanya dianggap limbah yang tidak bernilai dan kerap dibakar setelah panen. Namun, bagi Alan Sahroni, sisa pertanian itu justru menjadi bahan baku bisnis yang mampu mengangkat ekonomi petani. Melalui Alfiber, ia mengolah daun nanas menjadi serat bernilai tinggi dan mengekspornya ke sejumlah negara. Produk ini digunakan untuk tekstil, fesyen, hingga kerajinan.

Perjalanan usaha tersebut bermula pada 2013, saat Alan mengikuti lomba business plan nasional untuk syarat pengambilan ijazah beasiswa Kementerian Perindustrian. Saat itu, ia menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung dan melihat potensi nanas di Subang, bukan hanya pada buahnya, tetapi juga pada serat yang tersembunyi di daunnya. Dari temuan itu, Alan mulai merancang peluang industri baru berbasis limbah pertanian. Ia kemudian berhasil mewujudkan ide tersebut menjadi bisnis yang terus berkembang.

Potensi daun nanas

Alan melihat daun nanas memiliki serat yang kuat dan layak diolah menjadi bahan baku industri. Menurutnya, material ini dapat dimanfaatkan untuk kain, kerajinan, dan produk fashion. Pandangan tersebut muncul dari kedekatannya dengan dunia tekstil. Ia menilai limbah pertanian bisa berubah menjadi komoditas yang bernilai jika dikerjakan dengan tepat.

Gagasan itu berangkat dari kondisi Subang sebagai salah satu daerah penghasil nanas. Selama ini, perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada buah nanas yang sudah umum diolah menjadi makanan. Padahal, bagian daunnya menyimpan serat alami yang berpotensi besar. Alan kemudian menjadikan potensi itu sebagai dasar pengembangan usaha.

Keputusan tersebut membuatnya berbeda dari pelaku usaha lain pada masa itu. Ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan solusi atas limbah pertanian. Pendekatan ini membuka ruang kolaborasi dengan petani. Pada saat yang sama, ia membangun kesadaran bahwa daun nanas memiliki nilai ekonomi baru.

Mesin buatan sendiri

Setelah memenangkan lomba, Alan mendapat fasilitas untuk membuat mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum ada mesin sejenis di pasaran, ia bersama dosen merancang alat dekortikator dari awal. Mesin itu menjadi tonggak penting dalam perjalanan usahanya. Dari sana, proses produksi mulai bisa dijalankan secara lebih serius.

Mesin dekortikator tersebut dibuat agar daun nanas dapat diproses menjadi serat yang siap dipasarkan. Inovasi ini menjadi jawaban atas kebutuhan produksi yang selama ini belum tersedia. Alan menilai, keberadaan mesin sangat menentukan kualitas dan efisiensi kerja. Tanpa alat itu, pengolahan limbah daun nanas akan tetap sulit dikomersialkan.

Produksi komersial akhirnya berjalan pada 2013, meski masih dalam skala terbatas. Alan mengakui, pada awalnya ia harus belajar banyak tentang proses teknis dan kebutuhan pasar. Tantangan terbesar saat itu bukan hanya membuat serat, tetapi memastikan produk tersebut bisa diterima. Dari situ, ia terus menyempurnakan model bisnis Alfiber.

Pemasaran dari nol

Meski sudah memiliki produk, Alan menghadapi kendala besar karena serat daun nanas belum dikenal luas. Ia harus membangun pasar dari nol dengan cara yang sederhana dan murah. Salah satu langkah awalnya adalah memanfaatkan blog gratis sebagai media promosi. Dari sana, perlahan muncul perhatian dari akademisi, mahasiswa, hingga media nasional.

Strategi pemasaran tersebut menunjukkan bahwa produk baru membutuhkan edukasi pasar yang kuat. Alan tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjelaskan manfaat dan kegunaan serat nanas. Upaya itu penting agar calon pembeli memahami nilai tambah dari produk tersebut. Dengan cara itu, kepercayaan pasar mulai terbentuk sedikit demi sedikit.

Alan menyebut pada tahun pertama produksi, hambatan utama memang berasal dari minimnya pengetahuan masyarakat soal serat daun nanas. Ia menilai, produk yang bagus tetap membutuhkan komunikasi yang tepat. Karena itu, pemasaran menjadi pekerjaan yang harus dibangun secara bertahap. Pendekatan itu membuat Alfiber perlahan dikenal sebagai pelopor pengolahan serat nanas.

Ekspor serat nanas

Perkembangan usaha Alfiber kemudian masuk ke tahap ekspor pada 2021. Di tengah pandemi COVID-19, perusahaan itu berhasil mengirim serat daun nanas ke Singapura. Total pengiriman yang tercatat mencapai 1,2 ton. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa produk berbasis limbah pun bisa menembus pasar internasional.

Alan menjelaskan, pengiriman dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan barang. Dalam beberapa kesempatan, jumlah yang dikirim mencapai 300 kilogram atau 100 kilogram per pengiriman. Proses logistik sempat menyesuaikan kondisi karantina di masa pandemi. Meski begitu, transaksi tetap berjalan hingga total penjualan mencapai 1,2 ton.

Harga jual serat daun nanas saat itu mencapai Rp187 ribu per kilogram. Nilai tersebut menunjukkan bahwa produk olahan dari limbah pertanian memiliki daya saing tinggi. Selain Singapura, serat daun nanas dari Alfiber juga dipasarkan ke Malaysia, Jerman, dan Jepang. Dari tumpukan daun yang semula dibakar, Alan membuktikan bahwa limbah bisa berubah menjadi sumber cuan dan ekspor.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!