Daun nanas yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi petani. Melalui Alfiber, Alan Sahroni mengolah sisa panen itu menjadi serat bernilai tinggi yang telah diekspor ke sejumlah negara.
Produk serat daun nanas tersebut digunakan sebagai bahan baku tekstil, fesyen, hingga kerajinan. Dari Subang, Jawa Barat, bisnis ini tumbuh dari ide sederhana menjadi usaha yang membuka peluang ekonomi bagi banyak pihak.
Potensi Daun Nanas
Alan Sahroni melihat peluang besar dari daun nanas saat menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung. Ia menilai tanaman nanas di Subang bukan hanya bernilai dari buahnya, tetapi juga dari serat yang tersembunyi di daunnya.
Gagasan itu muncul ketika ia mengikuti lomba business plan nasional pada 2013 sebagai syarat pengambilan ijazah. Saat itu, Alan yang juga penerima beasiswa Kementerian Perindustrian mulai mencari solusi pengolahan limbah pertanian yang punya nilai jual.
Ia kemudian menyadari bahwa serat daun nanas memiliki karakter kuat dan bisa diolah menjadi bahan baku kain. Dari situ, lahir konsep usaha yang tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberi nilai tambah bagi petani.
Mesin Pengolah Buatan Sendiri
Setelah memenangkan lomba, Alan mendapat fasilitas untuk membuat mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum ada mesin serupa di pasaran, ia bersama dosen merancang dekortikator secara mandiri.
Mesin tersebut menjadi titik awal produksi komersial Alfiber yang berjalan pada 2013. Proses ini menandai peralihan ide dari riset kampus menjadi produk industri yang bisa dipasarkan.
Alan mengatakan mesin itu kemudian terus disempurnakan agar sesuai kebutuhan produksi. Langkah tersebut membuat pengolahan daun nanas menjadi lebih efisien dan layak untuk skala usaha.
Pemasaran Dari Nol
Meski produksinya berjalan, Alan menghadapi tantangan besar karena serat daun nanas belum dikenal pasar. Ia memulai pemasaran dari nol dengan memanfaatkan blog gratis sebagai etalase awal produk.
Perlahan, upaya itu menarik perhatian akademisi, mahasiswa, hingga media nasional. Dari sana, nama Alfiber mulai dikenal sebagai pelopor pengolahan serat daun nanas di Indonesia.
Alan mengakui bahwa kendala utama pada masa awal bukan pada produksi, melainkan pada edukasi pasar. Menurutnya, banyak orang belum memahami fungsi serat daun nanas sebagai bahan baku industri.
Ekspor Serat Nanas
Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket lengkap berupa mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin. Produk tersebut diminati pelaku industri kecil hingga universitas yang memerlukan mesin mini untuk laboratorium.
Pada 2021, Alfiber berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura di tengah pandemi COVID-19. Total ekspor yang tercatat mencapai 1,2 ton dengan harga sekitar Rp187 ribu per kilogram.
Alan mengatakan pengiriman dilakukan bertahap sesuai ketersediaan barang dan permintaan pembeli. Setelah Singapura, serat daun nanas dari Alfiber juga merambah pasar Malaysia, Jerman, hingga Jepang.
