Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan. Sejumlah makanan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker karena memicu peradangan, obesitas, hingga paparan zat karsinogen.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa mayoritas faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan, gaya hidup, dan kebiasaan. Karena itu, pemahaman terhadap makanan berisiko menjadi langkah penting untuk pencegahan sejak dini.
Makanan Pemicu Risiko Kanker
Pola makan yang tidak sehat dapat memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan tubuh. Beberapa jenis makanan terbukti berkaitan dengan peningkatan risiko kanker tertentu melalui mekanisme yang berbeda.
Dikutip dari Healthline, makanan tinggi gula, lemak, dan proses pengolahan tertentu dapat meningkatkan risiko obesitas serta diabetes tipe 2. Dua kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan munculnya berbagai jenis kanker.
Selain itu, sebagian makanan juga berpotensi mengandung karsinogen, yaitu zat yang dapat memicu pertumbuhan sel abnormal. Risiko ini menjadi lebih besar jika makanan dikonsumsi secara rutin tanpa pengaturan yang baik.
Daging Olahan Perlu Dibatasi
Daging olahan merupakan daging yang diawetkan dengan cara diasap, diasinkan, atau dikalengkan. Contohnya meliputi sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog.
Proses pengawetan dengan nitrit dapat membentuk senyawa N-nitroso yang bersifat karsinogenik. Pengasapan juga dapat menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon atau PAH yang berbahaya bagi tubuh.
Ulasan ilmiah tahun 2019 menyebut daging merah atau daging olahan berpotensi meningkatkan risiko kanker lambung. Meski demikian, penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk memperjelas hubungan kausalnya.
Bahaya Gorengan dan Matang Berlebih
Makanan yang digoreng pada suhu tinggi dapat membentuk akrilamida, terutama pada bahan bertepung seperti kentang. Senyawa ini juga bisa muncul saat makanan dipanggang atau dibakar terlalu lama.
Penelitian pada hewan menunjukkan akrilamida bersifat karsinogenik, sementara studi lain menyebut zat tersebut dapat merusak DNA. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan gorengan juga bisa mendorong obesitas dan diabetes tipe 2.
Memasak makanan terlalu matang, terutama daging, juga dapat menghasilkan PAH dan heterocyclic amines atau HCA. Untuk menekan risikonya, masyarakat disarankan memilih metode memasak yang lebih aman, seperti merebus perlahan, memakai panci presto, atau memasak dengan suhu rendah.
Gula, Karbohidrat, dan Alkohol
Makanan manis dan karbohidrat olahan, seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis, dapat memicu kenaikan gula darah yang tidak sehat. Pola makan seperti ini juga berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan peradangan dan stres oksidatif yang berkontribusi pada perkembangan kanker. Sebuah tinjauan tahun 2019 bahkan menyebut diabetes tipe 2 meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium.
Alkohol juga perlu dibatasi karena tubuh memecahnya menjadi asetaldehida, senyawa yang bersifat karsinogenik. Sebagai pengganti, masyarakat disarankan memilih roti gandum utuh, pasta gandum utuh, dan beras merah untuk mendukung pola makan yang lebih sehat.
