Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibicarakan di media sosial, terutama setelah muncul perdebatan soal makanan kemasan dan kalengan. Di tengah diskusi itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan karena ada klaim bahwa produk ini belum tentu masuk kategori UPF.
Perdebatan tersebut membuat banyak orang mempertanyakan anggapan lama bahwa semua makanan kalengan otomatis tidak sehat. Padahal, menurut klasifikasi pangan, status suatu produk sangat bergantung pada tingkat pemrosesan dan komposisi bahan yang digunakan.
Sarden Kalengan dan UPF
Istilah UPF merujuk pada ultra-processed food, yaitu makanan yang mengalami proses industri tinggi dan umumnya mengandung banyak bahan tambahan. Konsep ini berasal dari klasifikasi NOVA, yang digunakan untuk membedakan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya.
Dalam klasifikasi tersebut, makanan tidak langsung dikelompokkan hanya karena berbentuk kemasan atau kalengan. Yang menjadi penentu adalah apakah produk itu masih berada pada kategori olahan sederhana, atau sudah masuk formulasi industri yang kompleks.
Sarden kalengan sendiri umumnya masuk dalam kelompok processed foods, bukan otomatis UPF. Produk ini biasanya dibuat dengan menambahkan garam atau minyak untuk memperpanjang daya simpan dan menjaga rasa.
Namun, status itu bisa berubah bila produk tersebut mengandung banyak bahan tambahan, seperti perisa, pengental, pemanis, atau aditif lain dalam jumlah besar. Karena itu, label kemasan tetap perlu diperiksa sebelum menilai suatu produk sebagai UPF atau bukan.
Klasifikasi NOVA Makanan
Klasifikasi NOVA membagi makanan ke dalam empat kelompok utama. Pembagian ini membantu masyarakat memahami perbedaan antara bahan pangan segar, makanan olahan, dan produk yang benar-benar diproses secara ultratinggi.
Kelompok pertama adalah unprocessed or minimally processed foods, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua adalah processed culinary ingredients, misalnya gula, garam, mentega, dan minyak untuk memasak.
Kelompok ketiga terdiri atas processed foods, yakni makanan yang dibuat dengan penambahan garam, gula, atau minyak untuk meningkatkan rasa atau memperpanjang masa simpan. Contohnya antara lain ikan kalengan, keju, dan roti sederhana.
Kelompok keempat adalah ultra-processed foods, yaitu produk hasil formulasi industri yang biasanya memuat berbagai bahan tambahan. Contohnya minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, dan makanan siap santap tertentu.
Makna Makanan Olahan
Kesalahpahaman sering muncul karena masyarakat menganggap semua makanan olahan memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan. Padahal, makanan olahan sederhana tidak selalu identik dengan produk yang diproses secara berlebihan.
Dalam banyak kasus, makanan kalengan tetap bisa menjadi pilihan praktis dan bernutrisi, selama komposisinya tidak berlebihan. Sarden, misalnya, masih dapat menjadi sumber protein dan lemak baik jika dipilih dengan bijak.
Yang perlu diperhatikan adalah jumlah natrium, kadar lemak, serta daftar bahan tambahan yang tercantum pada label. Semakin panjang dan kompleks daftar bahan, semakin besar kemungkinan produk tersebut masuk kategori UPF.
Karena itu, konsumen dianjurkan membaca informasi nilai gizi dan komposisi sebelum membeli. Dengan begitu, masyarakat dapat membedakan mana makanan olahan biasa dan mana produk yang benar-benar tergolong ultra-processed food.
Bijak Memilih Produk Kemasan
Perbincangan soal UPF seharusnya mendorong masyarakat lebih cermat dalam memilih makanan, bukan sekadar takut pada semua produk kemasan. Pemahaman yang tepat akan membantu publik menilai pangan berdasarkan fakta, bukan asumsi.
Sarden kalengan, dalam banyak kasus, tidak bisa langsung disamakan dengan UPF. Produk ini lebih dekat ke kategori makanan olahan, kecuali jika formulanya mengandung banyak bahan tambahan industri.
Di sisi lain, konsumsi pangan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan gizi harian. Pola makan seimbang tetap lebih penting daripada hanya berfokus pada satu jenis produk tertentu.
Dengan memahami klasifikasi NOVA, konsumen bisa membuat keputusan yang lebih cerdas saat berbelanja. Langkah sederhana seperti membaca label dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus menghindari salah persepsi terhadap makanan olahan.
