Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 05:09 WIB 2
Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lingkungan, gaya hidup, hingga pola makan. Sejumlah makanan diketahui dapat memicu kondisi yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker tertentu, terutama bila dikonsumsi berlebihan dan dalam jangka panjang.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan, kebiasaan, dan apa yang masuk ke dalam tubuh. Karena itu, pemahaman tentang makanan pemicu kanker menjadi penting agar pencegahan dapat dilakukan lebih dini.

Makanan Pemicu Kanker

Dikutip dari berbagai kajian, ada sejumlah makanan yang patut diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan peradangan. Kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan munculnya beberapa jenis kanker. Selain itu, sebagian makanan juga mengandung senyawa karsinogen yang berpotensi merusak sel tubuh.

Risiko itu tidak muncul dalam satu kali konsumsi, melainkan melalui kebiasaan makan yang terus berulang. Karena itu, pengendalian pola makan menjadi langkah penting dalam pencegahan kanker. Masyarakat disarankan lebih selektif memilih bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Salah satu kelompok yang paling sering disorot adalah makanan olahan, terutama yang diawetkan melalui pengasapan, penggaraman, atau pengalengan. Proses tersebut dapat menghasilkan senyawa berbahaya, termasuk N-nitroso dan PAH. Senyawa ini dikenal memiliki sifat karsinogenik.

Kendati demikian, para ahli menekankan bahwa risiko dipengaruhi banyak faktor lain, seperti porsi, frekuensi, dan pola hidup secara keseluruhan. Artinya, satu jenis makanan tidak otomatis memicu kanker, tetapi kebiasaan konsumsi yang tidak seimbang dapat memperbesar risiko. Pencegahan terbaik tetap dimulai dari pengaturan menu harian yang lebih sehat.

Daging Olahan

Daging olahan seperti sosis, kornet sapi, ham, dan hot dog menjadi salah satu makanan yang paling sering dikaitkan dengan risiko kanker. Bahan ini biasanya melewati proses pengawetan yang dapat membentuk zat karsinogen. Penggunaan nitrit dalam pengolahan juga dapat memicu terbentuknya senyawa N-nitroso.

Selain itu, pengasapan daging bisa menghasilkan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon atau PAH yang bersifat karsinogenik. Paparan zat tersebut dalam jangka panjang dikhawatirkan berdampak pada kesehatan saluran cerna. Sebuah ulasan tahun 2019 juga menyebut daging merah atau olahan berpotensi meningkatkan risiko kanker lambung.

Walau begitu, hubungan antara daging olahan dan kanker masih terus diteliti lebih lanjut. Para peneliti menilai faktor lain, seperti pola makan keseluruhan dan gaya hidup, ikut memengaruhi hasil. Karena itu, pembatasan konsumsi tetap menjadi langkah yang bijak.

Masyarakat disarankan memperbanyak sumber protein yang lebih segar, seperti ikan, telur, tahu, dan tempe. Pilihan tersebut dapat membantu menekan paparan bahan tambahan berisiko. Mengurangi konsumsi daging olahan juga bisa mendukung pola makan yang lebih seimbang.

Gorengan dan Akrilamida

Makanan yang digoreng pada suhu tinggi dapat membentuk akrilamida, terutama pada bahan berpati seperti kentang. Senyawa ini juga bisa muncul saat makanan dipanggang atau dibakar terlalu lama. Kentang goreng dan keripik kentang menjadi contoh yang paling umum.

Sejumlah penelitian pada hewan menunjukkan akrilamida memiliki sifat karsinogenik. Studi tahun 2020 menyebut zat tersebut dapat merusak DNA dan memicu apoptosis atau kematian sel. Kondisi ini membuat konsumsi makanan gorengan perlu dibatasi.

Selain paparan zat berbahaya, konsumsi gorengan yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Dua kondisi itu berkaitan dengan stres oksidatif dan peradangan dalam tubuh. Dalam jangka panjang, situasi tersebut dapat mendorong risiko kanker tertentu.

Karena itu, metode memasak perlu diperhatikan agar makanan tetap aman dikonsumsi. Menggoreng sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering dan dengan suhu yang terlalu tinggi. Pilihan memasak yang lebih ringan dapat menjadi alternatif yang lebih sehat.

Masakan Terlalu Matang

Memasak makanan terlalu lama, terutama daging, dapat menghasilkan PAH dan heterocyclic amines atau HCA. Kedua senyawa tersebut diketahui bersifat karsinogenik dan dapat memengaruhi DNA sel tubuh. Risiko meningkat ketika suhu memasak terlalu tinggi dan berlangsung terlalu lama.

FDA juga menyebut makanan bertepung seperti kentang yang dimasak terlalu lama dapat meningkatkan pembentukan akrilamida. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya jenis makanan, tetapi juga cara memasaknya yang menentukan risiko. Teknik memasak yang keliru dapat mengubah makanan biasa menjadi sumber paparan berbahaya.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat dapat memilih metode seperti merebus perlahan, menggunakan panci presto, atau memasak dengan slow cooker. Memanggang tetap bisa dilakukan, tetapi dengan suhu yang lebih rendah dan waktu yang terkontrol. Cara ini membantu menjaga kualitas makanan tanpa membentuk terlalu banyak senyawa berisiko.

Kebiasaan membakar atau memanggang hingga gosong sebaiknya dihindari. Bagian makanan yang terlalu hitam umumnya mengandung konsentrasi senyawa berbahaya lebih tinggi. Dengan pengolahan yang lebih tepat, risiko dapat ditekan sejak dari dapur.

Manis, Olahan, dan Alkohol

Makanan manis dan karbohidrat olahan, seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis, juga dapat meningkatkan risiko kanker secara tidak langsung. Konsumsi berlebihan dapat memicu obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut berkaitan dengan peradangan dan stres oksidatif.

Sebuah tinjauan tahun 2019 menyebut diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Risiko itu muncul karena gangguan metabolik yang berlangsung lama di dalam tubuh. Karena itu, pilihan karbohidrat perlu diarahkan ke sumber yang lebih utuh.

Penggantian dapat dilakukan dengan roti gandum utuh, pasta gandum utuh, atau beras merah. Bahan pangan tersebut memiliki serat lebih tinggi dan cenderung membantu kestabilan gula darah. Langkah sederhana ini dapat mendukung pencegahan penyakit kronis.

Sementara itu, alkohol juga termasuk faktor yang perlu diwaspadai karena tubuh memecahnya menjadi asetaldehida, senyawa karsinogenik. Tinjauan tahun 2017 menyebut asetaldehida dapat meningkatkan kerusakan DNA dan stres oksidatif. Jika dikonsumsi terus-menerus, risiko terhadap kesehatan bisa semakin besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!