Lima Makanan Pemicu Risiko Kanker yang Perlu Dibatasi

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 15:39 WIB 3
Lima Makanan Pemicu Risiko Kanker yang Perlu Dibatasi

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, gaya hidup, dan lingkungan. Sejumlah makanan diketahui dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan paparan zat karsinogen yang berkaitan dengan kanker tertentu.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar risiko kanker pada orang dewasa dipengaruhi faktor lingkungan dan kebiasaan hidup. Karena itu, mengenali makanan yang berpotensi memicu kanker menjadi langkah penting untuk pencegahan sejak dini.

Makanan Pemicu Kanker

Daging olahan menjadi salah satu jenis makanan yang paling sering dikaitkan dengan risiko kanker. Produk seperti sosis, kornet, ham, dan hot dog umumnya melalui proses pengawetan yang dapat membentuk senyawa berbahaya.

Pengasapan dan penggunaan nitrit pada daging olahan dapat menghasilkan senyawa karsinogenik. Proses tersebut juga dapat memunculkan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon, yakni zat yang berpotensi merusak sel tubuh.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa konsumsi daging merah atau daging olahan dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker lambung. Meski demikian, para peneliti masih memerlukan studi lanjutan untuk memperjelas hubungan sebab akibatnya.

Karena itu, konsumsi daging olahan sebaiknya dibatasi, terutama jika dikonsumsi rutin dalam porsi besar. Pilihan protein yang lebih segar dan minim proses dapat menjadi alternatif yang lebih aman bagi kesehatan jangka panjang.

Gorengan dan Masakan Panas

Makanan yang digoreng pada suhu tinggi dapat membentuk akrilamida, terutama pada bahan pangan bertepung. Zat ini dapat muncul saat proses menggoreng, memanggang, atau membakar makanan.

Kentang goreng dan keripik kentang merupakan contoh makanan yang berpotensi mengandung akrilamida. Pada penelitian hewan, senyawa ini terbukti bersifat karsinogenik dan dapat merusak DNA.

Konsumsi makanan goreng berlebihan juga sering dikaitkan dengan obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut dapat memicu peradangan dan stres oksidatif yang mendukung perkembangan kanker.

Risiko serupa dapat muncul ketika makanan dimasak terlalu lama atau hingga gosong. Untuk menguranginya, masyarakat dapat memilih metode memasak dengan suhu lebih rendah, seperti merebus perlahan atau menggunakan slow cooker.

Gula dan Karbohidrat Olahan

Makanan manis dan karbohidrat olahan tidak langsung memicu kanker, tetapi dapat meningkatkan faktor risiko yang berkaitan dengannya. Contohnya adalah roti putih, nasi putih, dan sereal manis.

Kandungan gula dan pati yang tinggi dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu peradangan dan stres oksidatif di dalam tubuh.

Sebuah tinjauan pada 2019 menyebut diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Temuan ini memperkuat pentingnya pengendalian asupan gula dalam pola makan harian.

Penggantian ke sumber karbohidrat yang lebih baik dapat membantu menurunkan risiko tersebut. Opsi seperti roti gandum utuh, pasta gandum utuh, dan beras merah lebih disarankan sebagai pilihan sehari-hari.

Alkohol dan Risiko Kanker

Alkohol juga termasuk konsumsi yang perlu dibatasi karena berkaitan dengan risiko kanker. Saat masuk ke tubuh, hati memecah alkohol menjadi asetaldehida, senyawa yang bersifat karsinogenik.

Tinjauan ilmiah pada 2017 menunjukkan bahwa asetaldehida dapat meningkatkan kerusakan DNA dan stres oksidatif. Zat ini juga dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dalam mengenali sel prakanker.

Jika pertahanan tubuh terganggu, proses deteksi dan penghancuran sel abnormal menjadi kurang optimal. Kondisi itu dapat memberi peluang lebih besar bagi perkembangan sel kanker di dalam tubuh.

Karena itu, pembatasan konsumsi alkohol menjadi bagian penting dari upaya pencegahan kanker. Pola hidup sehat, disertai pilihan makanan yang lebih aman, dapat membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!