Lima Jenis Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 19:18 WIB 2
Lima Jenis Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit yang kompleks, dan risiko kemunculannya dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pola makan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis makanan dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker tertentu.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari gaya hidup dan lingkungan. Ia menyebut pemahaman terhadap faktor risiko menjadi kunci agar kanker dapat dicegah lebih dini.

Makanan Pemicu Risiko Kanker

Menurut Prof Aru, sekitar 95 persen risiko kanker berasal dari lingkungan, gaya hidup, kebiasaan, serta paparan yang masuk ke tubuh atau terhirup. Karena itu, pola makan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya pencegahan.

Sejumlah makanan tidak secara langsung menyebabkan kanker, tetapi dapat memicu obesitas, diabetes tipe 2, dan peradangan. Kondisi tersebut kemudian meningkatkan risiko terhadap beberapa jenis kanker.

Di sisi lain, ada pula makanan yang mengandung zat karsinogen, yaitu senyawa berbahaya yang berpotensi memicu kanker. Risiko ini biasanya muncul dari proses pengolahan, pengawetan, atau pemanasan pada suhu tinggi.

Dengan memahami jenis makanan yang perlu dibatasi, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat. Pilihan makanan sehari-hari menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jangka panjang.

Daging Olahan dan Gorengan

Daging olahan mencakup sosis, kornet, ham, dan hot dog yang diawetkan melalui pengasapan, pengasinan, atau pengalengan. Proses tersebut dapat menghasilkan senyawa karsinogenik seperti N-nitroso dan PAH.

Pengawetan dengan nitrit juga dapat memicu terbentuknya senyawa yang berisiko bagi tubuh. Karena itu, konsumsi daging olahan sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering.

Makanan yang digoreng, terutama yang berbahan tepung, dapat membentuk akrilamida saat dimasak pada suhu tinggi. Senyawa ini banyak ditemukan pada kentang goreng dan keripik kentang.

Risiko dari makanan gorengan tidak hanya berasal dari akrilamida, tetapi juga dari dampaknya terhadap obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut dapat memicu stres oksidatif dan peradangan yang berkontribusi pada kanker.

Cara Memasak yang Lebih Aman

Memasak makanan terlalu matang, khususnya daging, dapat menghasilkan PAH dan heterocyclic amines atau HCA. Kedua senyawa ini diketahui bersifat karsinogenik dan dapat mengubah DNA sel tubuh.

Food and Drug Administration atau FDA juga menyebutkan bahwa memasak makanan bertepung terlalu lama dapat meningkatkan pembentukan akrilamida. Karena itu, pengendalian suhu dan waktu memasak menjadi penting.

Untuk menekan risiko, masyarakat dapat memilih metode memasak seperti merebus perlahan, menggunakan panci presto, atau memasak dengan slow cooker. Memanggang dengan suhu lebih rendah juga bisa menjadi pilihan yang lebih aman.

Langkah sederhana seperti mengurangi tingkat kecokelatan pada makanan dapat membantu menurunkan paparan zat berbahaya. Kebiasaan ini dapat diterapkan tanpa harus mengorbankan rasa secara berlebihan.

Batasi Gula dan Alkohol

Makanan manis dan karbohidrat olahan, seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis, dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berkaitan dengan risiko kanker tertentu.

Sebuah tinjauan tahun 2019 menyebut diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Karena itu, asupan gula dan pati olahan perlu dikendalikan sejak dini.

Alternatif yang lebih baik adalah roti gandum utuh, pasta gandum utuh, dan beras merah. Pilihan ini membantu menjaga asupan serat dan membuat kadar gula darah lebih stabil.

Alkohol juga perlu dibatasi karena hati memecahnya menjadi asetaldehida, senyawa yang bersifat karsinogenik. Senyawa ini dapat merusak DNA, meningkatkan stres oksidatif, dan mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!