Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, membantah tegas tudingan bahwa kliennya mempersulit Ruben Onsu bertemu dengan anak-anak mereka. Ia menegaskan, Sarwendah tidak pernah mengeluhkan soal nafkah yang dihentikan, dan masih mampu membiayai kebutuhan hidup serta ketiga anaknya.
Menurut Chris, tudingan tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan karena Sarwendah justru dikenal bekerja keras dan mandiri. Sementara itu, pihak Ruben sebelumnya menyebut ada kesulitan berkomunikasi dengan anak-anak, hingga muncul keputusan menghentikan nafkah sebagai bentuk protes.
Sikap Sarwendah Dibantah
Chris Sam Siwu menyatakan kliennya tidak pernah mengeluh soal nafkah yang disebut dihentikan oleh mantan suaminya. Ia menegaskan, Sarwendah masih sanggup memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai ketiga anaknya. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan Sarwendah tetap bertanggung jawab atas keluarganya. Karena itu, ia menilai tudingan yang beredar tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Sarwendah bukan sosok yang bergantung pada pihak lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam pandangannya, ibu tiga anak itu bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Chris menyebut Sarwendah memiliki kemampuan untuk mencari penghasilan sendiri. Hal itu, kata dia, seharusnya menjadi pertimbangan sebelum pihak lain melayangkan tuduhan.
Chris mengatakan, isu nafkah yang dihentikan tidak bisa langsung dihubungkan dengan dugaan perselisihan soal pertemuan dengan anak. Ia menilai, persoalan itu harus dilihat secara utuh agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru. Menurutnya, publik tidak boleh dibawa pada narasi yang tidak sesuai fakta. Ia meminta semua pihak berhati-hati dalam menyampaikan keterangan kepada media.
Dalam penjelasannya, Chris menekankan bahwa Sarwendah selama ini tetap fokus mengurus anak-anaknya. Ia menilai kerja keras itu sering kali tidak terlihat ketika isu rumah tangga muncul ke permukaan. Padahal, menurut dia, tanggung jawab pengasuhan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, ia meminta agar peran Sarwendah tidak dipersepsikan secara sepihak.
Pertemuan Ayah dan Anak
Menanggapi klaim Ruben Onsu yang menyebut pesannya tidak dibalas selama satu bulan, Chris menilai hal itu belum bisa dijadikan dasar bahwa Sarwendah mempersulit komunikasi dengan anak. Ia mengatakan komunikasi seharusnya dilakukan langsung kepada ibu sebagai pihak yang mengatur jadwal anak. Menurutnya, koordinasi adalah langkah dasar yang semestinya ditempuh terlebih dahulu. Tanpa upaya tersebut, kesimpulan mempersulit dianggap terlalu dini.
Chris menjelaskan, jika memang ada keinginan bertemu anak, pihak Ruben seharusnya menghubungi Sarwendah secara langsung. Ia juga menilai komunikasi bisa dilakukan melalui asisten atau kuasa hukum bila diperlukan. Menurutnya, langkah seperti itu lebih tepat dibanding langsung menuding adanya hambatan. Ia menegaskan bahwa koordinasi adalah kunci agar pertemuan berjalan baik.
Ia bahkan menantang pihak Ruben untuk menunjukkan bukti percakapan yang disebut tak dibalas. Chris menyebut, jika memang ada pesan WhatsApp kepada Sarwendah, bukti itu dapat ditunjukkan agar publik melihat konteks yang sebenarnya. Menurutnya, tudingan tanpa bukti justru berpotensi menyesatkan. Ia menyebut klaim semacam itu tidak seharusnya dilebarkan menjadi opini publik.
Chris menilai upaya yang dilakukan harus nyata dan terukur sebelum menyimpulkan adanya penghalangan. Ia mencontohkan, permintaan bertemu anak bisa disampaikan langsung ke rumah atau melalui perantara yang sah. Jika koordinasi belum ditempuh secara memadai, kata dia, maka tuduhan mempersulit menjadi tidak tepat. Ia menegaskan, persoalan ini harus diselesaikan dengan komunikasi yang dewasa.
Alasan Nafkah Dihentikan
Pihak Ruben Onsu sebelumnya menjelaskan bahwa penghentian nafkah kepada Sarwendah dilakukan sebagai bentuk protes. Langkah itu, menurut kuasa hukumnya, muncul karena Ruben merasa haknya sebagai ayah untuk bertemu anak belum terpenuhi. Keputusan tersebut disebut baru berjalan sejak Desember 2025. Hingga kini, pihak Ruben merasa situasi itu belum menemukan titik temu.
Pengacara Ruben, Minola, mengatakan publik kerap melupakan besarnya tanggung jawab finansial yang masih dipikul kliennya setelah perceraian. Ia menyebut Ruben berpikir bahwa kewajibannya sudah dibayar terus-menerus, sementara haknya tidak diperoleh. Karena itu, penghentian nafkah dipandang sebagai bentuk penegasan sikap. Menurut dia, langkah itu bukan tanpa alasan.
Minola menuturkan, Ruben ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa tidak melaksanakan kewajiban jika haknya terus diabaikan. Meski begitu, ia menekankan bahwa tindakan itu baru dilakukan sejak Desember 2025. Oleh sebab itu, pihaknya menilai reaksi yang muncul belakangan terasa berlebihan. Dalam pandangan mereka, perlu ada kejelasan mengenai pembagian hak dan kewajiban kedua pihak.
Ia juga menyebut, hak Ruben sebagai ayah kandung untuk bertemu anak-anak belum berjalan sesuai kesepakatan. Kondisi itu, kata dia, berbeda dengan perlakuan terhadap pihak lain yang tidak memiliki hubungan darah. Minola menilai porsi ayah kandung semestinya tetap dijaga dan dijalankan. Tanpa itu, ia menilai masalah akan terus berlarut.
Ruben Cari Penghiburan
Ruben Onsu sebelumnya sempat menyampaikan penjelasan melalui video call terkait kerinduannya kepada anak-anak. Ia mengaku memiliki cara tersendiri agar tidak larut dalam perasaan sedih. Salah satunya adalah dengan datang ke panti asuhan anak. Menurutnya, suasana bersama anak-anak membuat dirinya merasa lebih tenang.
Ruben mengatakan, kunjungannya ke panti asuhan dilakukan agar ia tetap dekat dengan suasana anak-anak. Ia menyebut kegiatan itu membuat pikirannya lebih ringan saat merindukan buah hatinya. Dalam penuturannya, ada beberapa panti asuhan yang pernah ia datangi. Langkah itu menjadi salah satu cara untuk menjaga kondisi emosionalnya.
Ia menambahkan, keberadaan anak-anak di panti asuhan memberikan energi positif baginya. Dengan berada di lingkungan tersebut, Ruben merasa tidak terlalu terbawa suasana melankolis. Menurut pengakuannya, cara itu cukup membantu menenangkan diri. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tetap ingin menjalani hari dengan tenang.
Di tengah silang pendapat antara kedua pihak, publik kini menunggu penyelesaian yang lebih terbuka dan terukur. Poin utamanya bukan hanya soal nafkah, tetapi juga komunikasi antara orang tua demi kepentingan anak. Jika koordinasi dilakukan dengan baik, polemik serupa diharapkan tidak terus melebar. Pada akhirnya, yang paling penting adalah kenyamanan dan tumbuh kembang anak-anak.
