Kritik terhadap Met Gala 2026 Meningkat karena Dana Bezos

Lifestyle Anindya Kirana Putri 25 Mei 2026 16:36 WIB 2
Kritik terhadap Met Gala 2026 Meningkat karena Dana Bezos

Gelombang kritik terhadap Met Gala 2026 kembali mencuat setelah pendanaan ajang mode bergengsi itu dikaitkan dengan pendiri Amazon, Jeff Bezos, dan istrinya, Lauren Sánchez Bezos. Sejumlah aktivis memasang poster bernada boikot di sekitar Metropolitan Museum of Art, New York City, lokasi penyelenggaraan acara yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026.

Poster-poster tersebut menyoroti hubungan Bezos dengan acara yang selama ini menjadi sorotan dunia fashion dan budaya populer. Di tengah persiapan menuju perhelatan tahunan itu, kritik publik menguat karena sebagian pihak menilai keterlibatan Bezos membawa persoalan etika dan citra ke panggung Met Gala.

Boikot Met Gala Menguat

Sejumlah aktivis gerilya dilaporkan menempelkan poster di berbagai titik dekat The Metropolitan Museum of Art, New York City. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap keterlibatan Jeff Bezos dalam pendanaan Met Gala 2026. Pesan yang dibawa menyinggung peran Amazon dan kaitannya dengan kebijakan imigrasi di Amerika Serikat. Salah satu poster bahkan menyerukan publik untuk memboikot acara tersebut.

Poster yang terpasang memuat kalimat seperti Bezos Met Gala: Brought to you by the firm that powers ICE dan Boycott the Bezos Met Gala. Frasa itu merujuk pada kritik terhadap dugaan dukungan Amazon terhadap kebijakan yang dinilai merugikan pekerja dan imigran. Pemilihan lokasi aksi di sekitar museum memberi tekanan simbolik menjelang hari pelaksanaan. Para aktivis tampak ingin menjadikan Met Gala sebagai panggung perdebatan publik, bukan sekadar ajang mode.

Gelombang kritik ini muncul setelah museum mengumumkan bahwa Met Gala tahun ini dimungkinkan berkat dukungan Bezos dan Sánchez Bezos sebagai sponsor utama. Selain keduanya, ada pula dukungan dari donor lain, termasuk Condé Nast selaku induk Vogue dan rumah mode Saint Laurent. Informasi tersebut kemudian memantik respons keras dari kelompok yang menolak dominasi para miliarder dalam acara filantropi. Bagi mereka, dukungan dana besar tidak boleh menutupi isu sosial yang menyertainya.

Pada saat yang sama, persiapan di sekitar The Met tetap berjalan untuk menyambut undangan dan tamu dari kalangan elite. Namun, keberadaan poster boikot membuat suasana jelang acara menjadi lebih tegang dari biasanya. Kritik yang mengemuka menunjukkan bahwa Met Gala tidak lagi hanya dipandang sebagai perhelatan busana. Ajang itu kini juga menjadi ruang untuk mempertanyakan sumber dana dan pengaruh di balik kemewahannya.

Pendanaan Bezos Jadi Sorotan

Page Six melaporkan bahwa Jeff Bezos menyumbang sekitar US$ 10 juta atau hampir Rp 175 miliar untuk Costume Institute. Dana tersebut disebut menjadi salah satu penopang utama pameran fashion di The Met. Kontribusi sebesar itu menempatkan Bezos di pusat perhatian publik dan media. Tidak sedikit pihak yang menilai besarnya sumbangan itu sekaligus membuka ruang pengaruh baru.

Costume Institute merupakan divisi penting di museum yang memamerkan sejarah dan perkembangan mode dari masa ke masa. Met Gala sendiri selama ini dikenal sebagai acara penggalangan dana terbesar bagi institusi tersebut. Karena itu, setiap sumber pendanaan selalu menjadi perhatian publik. Saat nama Bezos muncul, kritik pun ikut melekat pada penyelenggaraan tahun ini.

Sejumlah pengamat menilai, sorotan terhadap Bezos tidak hanya menyangkut jumlah sumbangan, tetapi juga persepsi kekuasaan. Di mata para pengkritik, keterlibatan miliarder teknologi dalam acara elit seperti Met Gala dapat dibaca sebagai upaya membeli legitimasi sosial. Pandangan itu makin kuat karena Met Gala memiliki pengaruh besar dalam industri mode global. Akibatnya, perdebatan soal etika pendanaan menjadi tak terelakkan.

Pihak museum belum mengubah rencana pelaksanaan acara meski tekanan publik terus berkembang. Nama Bezos tetap tercantum sebagai salah satu sosok penting di balik dukungan Met Gala 2026. Sementara itu, perdebatan di media sosial dan ruang publik terus meluas. Isu pendanaan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pemberitaan tentang pesta mode paling terkenal di dunia itu.

Kritik Terhadap Amazon

Selain soal pendanaan, poster aksi juga menyinggung kebijakan Amazon yang dikaitkan dengan persoalan tenaga kerja. Salah satu gambar menampilkan ilustrasi tabung gas air mata di karpet merah, yang dianggap merujuk pada penanganan pekerja oleh perusahaan. Simbol tersebut mempertegas nada protes yang dibawa para aktivis. Mereka ingin menunjukkan bahwa glamor acara tidak bisa dipisahkan dari praktik bisnis di belakangnya.

Tuduhan yang disuarakan para aktivis berkaitan dengan pekerja gudang asing yang kehilangan izin kerja di tengah kebijakan deportasi pada era Donald Trump. Keterkaitan ini digunakan untuk menggambarkan dugaan dampak sosial dari kebijakan dan operasi perusahaan besar. Meski demikian, tudingan tersebut tetap menjadi bahan perdebatan di ruang publik. Kritik yang muncul lebih banyak berfokus pada simbol dan pesan moral yang ingin disampaikan.

Penggunaan karpet merah sebagai latar ilustrasi dalam poster juga dianggap sarat makna. Bagi para pengkritik, karpet merah biasanya melambangkan kemewahan dan eksklusivitas, tetapi dalam konteks ini justru dipakai untuk menyoroti ketidakadilan. Kontras tersebut membuat pesan boikot terasa lebih tajam. Aksi visual itu efektif menarik perhatian publik yang melintas di sekitar museum.

Dalam beberapa tahun terakhir, Met Gala kerap menjadi sasaran kritik karena dinilai terlalu dekat dengan kekayaan dan pengaruh elite. Tahun ini, sorotan terhadap Bezos membuat perdebatan itu semakin intens. Banyak pihak menilai acara mode tersebut tidak lagi cukup hanya menawarkan kemegahan visual. Publik kini juga menuntut transparansi tentang siapa yang membiayai dan mengendalikan panggung tersebut.

Met Gala dan Citra Publik

Met Gala selama ini diposisikan sebagai salah satu acara paling prestisius dalam kalender fashion internasional. Kehadirannya selalu menarik perhatian selebritas, perancang busana, hingga tokoh bisnis papan atas. Namun, status bergengsi itu juga membuat setiap langkah penyelenggara diawasi secara ketat. Ketika nama Bezos masuk ke dalam daftar donor, sorotan publik pun meningkat tajam.

Di satu sisi, dukungan dana besar memungkinkan Costume Institute tetap menggelar pameran dengan skala internasional. Di sisi lain, pendanaan dari tokoh superkaya memunculkan pertanyaan tentang batas antara filantropi dan pengaruh. Kritik yang berkembang menilai acara seperti Met Gala seharusnya menjaga jarak dari kepentingan korporasi. Perdebatan ini membuat citra acara semakin kompleks di mata publik.

Meski demikian, penyelenggaraan Met Gala 2026 tetap diproyeksikan berlangsung meriah di The Met. Para tamu, desainer, dan tokoh terkenal diperkirakan tetap hadir sesuai undangan. Aksi boikot di luar museum tidak menghentikan agenda utama, tetapi berhasil mengubah narasi menjelang acara. Panggung mode itu kini ikut dibayangi isu sosial dan politik yang sulit diabaikan.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Met Gala bukan hanya soal busana, tetapi juga soal siapa yang berkuasa di balik kemewahan. Kontroversi terhadap Jeff Bezos menambah lapisan baru dalam diskusi tentang etika pendanaan acara elit. Bagi sebagian pihak, dukungan sponsor memang penting, tetapi transparansi dan tanggung jawab sosial dianggap lebih penting. Dengan demikian, Met Gala 2026 memasuki panggungnya bukan hanya dengan sorotan glamor, tetapi juga dengan kritik yang keras.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!