Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menghasilkan kesepakatan damai, menahan arus perdagangan energi dan menimbulkan ketidakpastian bagi investor global. Lonjakan harga minyak di pasar dunia telah mendorong minyak mentah melewati batas US$100 per barel, menandai level baru yang membebani biaya energi. Ketidakpastian gejolak geopolitik memperkuat kekhawatiran inflasi di berbagai negara.
Berdasarkan Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 yang dirilis secara virtual pada 11 Mei 2026, Ari Rizaldi menilai tekanan eksternal juga memperuncing risiko terhadap pasar domestik. Di sisi lain, Indonesia menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 mencapai 5,61%, lebih tinggi dari 5,4% pada triwulan sebelumnya. Nilai tukar rupiah melemah sekitar 3,9% sepanjang 2026, dan arus modal asing keluar dari pasar saham mencapai Rp37,6 triliun serta obligasi Rp13,3 triliun.
Harga Minyak Terkait Konflik
Konflik AS-Iran telah mendorong lonjakan harga minyak global dan meningkatkan volatilitas pasar energi. Harga minyak mentah menembus di atas US$100 per barel, menandai level baru yang membebani biaya energi bagi konsumen dan bisnis. Ketidakpastian gejolak geopolitik memperkuat kekhawatiran inflasi di berbagai negara.
Analisis pasar menunjukkan dampak langsung terhadap sektor energi dan rantai pasokan. Ketidakpastian pasokan minyak memperburuk tekanan biaya produksi transportasi dan manufaktur. Beberapa otoritas keuangan memperkirakan bank sentral akan menahan penurunan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan harga.
Kebijakan energi nasional dan upaya diversifikasi sumber pasokan menjadi prioritas bagi banyak negara, termasuk strategi penyimpanan dan kontrak jangka panjang. Investor menantikan perkembangan negosiasi antara pihak terkait untuk menyeimbangkan risiko di pasar keuangan. Dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan global tetap sulit diprediksi dalam beberapa bulan ke depan.
Volatilitas Pasar Global
Ketegangan di pasar keuangan global meningkat seiring gangguan pasokan minyak dan ketiadaan kesepakatan damai. Indikator volatilitas seperti VIX dan yield obligasi beberapa negara meningkat, mencerminkan peningkatan risiko aset berisiko. Bank-bank sentral mempertimbangkan langkah kebijakan untuk menahan laju inflasi agar tidak melonjak.
Konsensus pasar menunjukkan probabilitas tetapnya suku bunga acu AS di 3,75% hingga 2027, menurut paparan analis. Pasar juga memperkirakan penundaan pemotongan suku bunga di negara-negara lain sebagai respons terhadap gejolak geopolitik. Gambaran tersebut menempatkan tekanan berkelanjutan pada pasar modal dan valuasi aset berisiko secara global.
Di Indonesia, volatilitas global memberi sinyal risiko bagi pasar lokal. Aliran modal asing keluar dari pasar saham mencapai Rp37,6 triliun dan dari obligasi Rp13,3 triliun hingga 8 Mei 2026, menekan IHSG yang turun 19,4% ke 6.969. Sementara yield obligasi pemerintah naik 53 basis poin menjadi 6,6% tahun ini.
Implikasi bagi RI
Ketahanan ekonomi Indonesia tetap terlihat meski gejolak global berlanjut. Pertumbuhan triwulan I 2026 tercatat 5,61%, lebih tinggi daripada 5,4% pada triwulan sebelumnya. Namun, faktor eksternal tetap menjadi risiko bagi prospek ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah melemah sekitar 3,9% sepanjang 2026, menambah beban biaya impor dan tekanan inflasi domestik. Aliran modal asing keluar dari pasar saham mencapai Rp37,6 triliun dan dari obligasi Rp13,3 triliun hingga 8 Mei 2026. Kondisi tersebut memperlambat laju pemulihan pasar keuangan domestik.
IHSG turun 19,4% menjadi 6.969 poin, selaras dengan kenaikan yield obligasi yang sebesar 53 basis poin menjadi 6,6% year-to-date. Otoritas pasar menekankan perlunya langkah kebijakan yang lebih terkoordinasi untuk menjaga stabilitas likuiditas. Investor tetap mengawasi dinamika global untuk menilai peluang investasi di dalam negeri.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan Perekonomian Q1-2026 | 5,61% |
| Nilai Tukar Rupiah 2026 YTD | -3,9% |
| Arus Modal Asing (Saham) | Keluar Rp37,6 triliun |
| Arus Modal Asing (Obligasi) | Keluar Rp13,3 triliun |
| IHSG | Turun 19,4% ke 6.969 |
| Yield Obligasi | Naik 53 bps menjadi 6,6% |
