Laporan terbaru Ookla menyoroti kesenjangan besar kualitas internet hotel di Makkah dan Madinah, dua kota suci yang dipadati jutaan jemaah setiap musim haji. Temuan ini menegaskan bahwa koneksi digital kini menjadi kebutuhan penting untuk komunikasi, navigasi, dan layanan harian para tamu.
Dalam analisis terhadap 16 hotel mewah, hanya tiga properti yang mencatat kecepatan unduh median di atas 100 Mbps. Perbedaan performa itu menunjukkan bahwa kesiapan jaringan hotel belum merata, meski sebagian properti berada di lokasi paling strategis bagi jemaah.
Internet hotel jadi kebutuhan utama
Konektivitas di hotel sekitar Makkah dan Madinah kini tidak lagi dianggap sebagai fasilitas pelengkap. Bagi jemaah, internet dibutuhkan untuk menghubungi keluarga, mengakses peta, hingga memakai aplikasi perjalanan dan ibadah. Karena itu, kualitas jaringan menjadi faktor yang memengaruhi kenyamanan menginap secara langsung.
Ookla mencatat, permintaan koneksi pada musim haji meningkat tajam seiring tingginya mobilitas pengguna. Kondisi tersebut membuat jaringan hotel harus mampu melayani banyak perangkat secara bersamaan. Jika kapasitas tidak memadai, layanan dapat melambat pada jam sibuk.
Dalam pemantauan terbaru, performa internet hotel memperlihatkan jurang kualitas yang cukup lebar. Beberapa hotel mampu memberikan koneksi sangat cepat, tetapi sebagian lainnya masih tertinggal jauh. Situasi ini memperlihatkan bahwa lokasi premium belum tentu identik dengan layanan jaringan yang unggul.
Temuan tersebut menjadi pengingat bagi pengelola hotel untuk menempatkan internet sebagai infrastruktur utama. Kualitas koneksi yang stabil dapat meningkatkan pengalaman tamu, terutama pada periode dengan lonjakan pengunjung besar. Di sisi lain, jaringan yang buruk berpotensi menurunkan kepuasan dan reputasi properti.
Hotel terbaik mencatat kecepatan tinggi
Di antara 16 hotel yang diteliti, Swissotel Makkah menempati posisi teratas dengan kecepatan unduh median 152,17 Mbps. Fairmont Hotel berada tepat di belakangnya dengan 148,87 Mbps. Swissotel Al Maqam melengkapi tiga besar dengan 124 Mbps.
Performa kuat juga ditunjukkan Pullman ZamZam Makkah yang masih mampu mencapai 96,80 Mbps. Sementara itu, Anwar Al Madinah Movenpick membukukan 78,42 Mbps. Capaian ini menempatkan keduanya di kelompok yang relatif masih nyaman untuk penggunaan digital harian.
Sejumlah hotel lain seperti Al Ghufran Safwah Hotel Makkah, Pullman Zamzam Madina, Hyatt Regency Makkah - Jabal Omar, dan Millennium Al Aqeeq berada di kisaran 18 Mbps hingga 38 Mbps. Angka tersebut masih tergolong cukup untuk kebutuhan dasar. Namun, kapasitas itu belum tentu memadai saat seluruh jaringan dipakai bersamaan.
Perbedaan antarhotel menunjukkan bahwa investasi infrastruktur memberi pengaruh besar terhadap hasil akhir. Hotel yang lebih siap biasanya mampu mengelola trafik data dengan lebih baik. Hal ini membuat pengalaman internet terasa lebih mulus bagi jemaah maupun tamu umum.
Kualitas jaringan masih belum merata
Masalah utama bukan hanya kecepatan puncak, melainkan konsistensi saat jaringan dipakai padat. Ookla mencatat, bahkan di hotel terbaik sekalipun, 10 persen pengguna terbawah masih dapat mengalami penurunan kecepatan di bawah 15 Mbps. Kondisi ini bisa memicu keluhan ketika banyak tamu mengakses internet dalam waktu bersamaan.
Di sisi lain, beberapa hotel premium justru mencatat hasil yang mengecewakan. Hilton Makkah Convention Hotel hanya membukukan kecepatan 4,95 Mbps. Anjum Hotel Makkah juga berada pada level rendah, yakni 10,51 Mbps.
Angka tersebut dinilai berisiko menimbulkan pengalaman jaringan yang buruk bagi para jemaah. Koneksi lambat dapat menghambat pengiriman pesan, panggilan video, hingga akses layanan digital. Pada momen ibadah yang padat, kondisi itu tentu menjadi sumber frustrasi.
Ketimpangan ini menunjukkan bahwa label hotel mewah tidak otomatis menjamin kualitas internet yang tinggi. Manajemen jaringan tetap menentukan hasil akhir yang dirasakan pengguna. Karena itu, evaluasi teknis perlu dilakukan secara berkala agar layanan tidak tertinggal.
Teknologi penentu stabilitas koneksi
Menurut Ookla, perbedaan performa sangat dipengaruhi oleh teknologi jaringan yang digunakan hotel. Properti dengan Wi-Fi 6, frekuensi 5 GHz, dan dukungan fiber optik terbukti lebih stabil. Sementara itu, jaringan yang masih mengandalkan Wi-Fi 4 atau pita 2,4 GHz cenderung lebih rentan padat.
Teknologi yang lebih modern memungkinkan distribusi koneksi lebih efisien kepada banyak perangkat. Hal ini penting karena para jemaah biasanya membawa lebih dari satu gawai. Dengan sistem yang tepat, kecepatan dapat dijaga agar tetap konsisten meski trafik meningkat.
Ookla juga menilai penyedia hotel perlu memperkuat kapasitas ISP dan memperluas jaringan fiber. Selain itu, penggunaan pita 5 GHz harus diprioritaskan untuk mendukung koneksi yang lebih stabil. Penambahan titik akses juga dibutuhkan agar area tanpa sinyal dapat dikurangi.
Data musim Haji 2025 memperlihatkan besarnya kebutuhan koneksi digital di lapangan. Rata-rata penggunaan data jemaah mencapai 1,26 GB per hari, atau sekitar tiga kali lipat rata-rata global. Dibanding musim Haji 2024 yang berada di 876 MB per pengguna per hari, lonjakan itu menegaskan bahwa internet kini menjadi bagian penting dari pengalaman ibadah modern.
