Komdigi Nilai AI Jadi Pendorong Utama Adopsi 5G

Teknologi BRH 22 Mei 2026 18:43 WIB 8
Komdigi Nilai AI Jadi Pendorong Utama Adopsi 5G

Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence menjadi faktor penting yang dapat mempercepat adopsi jaringan 5G di Indonesia. Saat ini, cakupan 5G nasional masih tergolong rendah, meski pemerintah terus mendorong perluasan infrastruktur dan ekosistem pendukung.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyebut AI berpotensi menjadi killer content bagi 5G, karena mampu mendorong pemanfaatan jaringan berkecepatan tinggi di berbagai sektor. Pemerintah menargetkan cakupan internet kencang itu naik dari 4,44 persen menjadi 7 persen pada 2029.

AI Dorong Adopsi 5G

Wayan menyampaikan bahwa AI dapat menjadi pemicu utama pemanfaatan 5G di Indonesia. Menurut dia, teknologi tersebut mampu menghadirkan kebutuhan nyata yang membuat masyarakat dan industri lebih cepat beralih ke jaringan generasi kelima. Ia menilai pola ini mirip dengan momen besar yang dulu mendorong migrasi ke televisi digital.

Dalam forum IndoTelko di Jakarta, Rabu 29 Mei 2026, Wayan menegaskan bahwa AI bisa menjadi konten andalan bagi 5G. Ia menjelaskan bahwa setiap gelombang adopsi teknologi biasanya membutuhkan pemicu yang kuat agar pengguna melihat manfaat langsung. Dalam konteks ini, AI dinilai memiliki daya dorong yang lebih relevan bagi era digital saat ini.

Menurut Wayan, Indonesia sedang memasuki fase baru transformasi digital. Fase ini ditandai dengan pergeseran dari sekadar konektivitas menuju ekosistem digital yang lebih cerdas dan berbasis data. Karena itu, 5G dan AI dipandang sebagai dua teknologi yang saling menguatkan.

Ia menjelaskan bahwa 5G menyediakan konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah, sedangkan AI mengolah data menjadi wawasan dan inovasi. Kombinasi keduanya diyakini membuka peluang lahirnya model bisnis baru di berbagai sektor. Pemerintah menilai potensi tersebut penting untuk memperluas manfaat ekonomi digital.

Ekosistem Digital Jadi Fokus

Komdigi menekankan bahwa pembangunan infrastruktur saja tidak cukup untuk mempercepat adopsi 5G. Pemerintah ingin memastikan pemanfaatan teknologi benar-benar dirasakan masyarakat secara luas. Karena itu, pendekatan yang inklusif, aman, dan bermanfaat menjadi prioritas utama.

Wayan menilai kehadiran AI dan 5G harus menghasilkan dampak nyata, bukan hanya menjadi simbol kemajuan teknologi. Ia menekankan bahwa manfaatnya perlu dirasakan di sektor industri, layanan publik, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan begitu, adopsi teknologi tidak berhenti pada tahap implementasi jaringan.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Komdigi terus mendorong pengembangan ekosistem digital yang lebih lengkap. Upaya itu mencakup penguatan infrastruktur jaringan, pembangunan pusat data, serta peningkatan talenta digital. Pemerintah ingin memastikan Indonesia memiliki kapasitas untuk mengembangkan solusi berbasis AI secara mandiri.

Langkah penguatan ekosistem juga diarahkan agar industri dapat beradaptasi dengan cepat terhadap kebutuhan teknologi baru. Dengan fondasi yang memadai, penerapan 5G diyakini lebih mudah masuk ke berbagai sektor produktif. Pemerintah berharap strategi ini dapat mempercepat pemerataan transformasi digital nasional.

Peluang Industri dan Layanan Publik

Kombinasi 5G dan AI dinilai akan membuka peluang besar bagi sektor manufaktur berbasis Industry 4.0. Teknologi ini dapat mendukung otomasi, analisis data, dan efisiensi proses produksi. Dalam jangka panjang, industri berpotensi meningkatkan daya saing melalui pemanfaatan konektivitas yang lebih cerdas.

Selain manufaktur, sektor kesehatan digital juga disebut memiliki prospek besar dari integrasi dua teknologi tersebut. Layanan medis dapat memanfaatkan transmisi data cepat untuk pemantauan jarak jauh, analisis berbasis AI, dan peningkatan respons layanan. Pemerintah menilai pemanfaatan ini dapat memperluas akses layanan yang lebih efisien.

Pengembangan kota cerdas atau smart city juga termasuk dalam area yang berpotensi terdorong oleh 5G dan AI. Infrastruktur yang responsif dapat membantu pengelolaan lalu lintas, keamanan, dan pelayanan publik secara lebih efektif. Dengan demikian, teknologi tidak hanya mendukung sektor bisnis, tetapi juga tata kelola perkotaan.

Wayan menyebut integrasi teknologi tersebut akan melahirkan berbagai model bisnis baru. Ia menilai inovasi yang muncul dari perpaduan konektivitas dan kecerdasan data dapat memperluas kesempatan ekonomi. Karena itu, pemerintah mendorong pelaku industri untuk mulai menyiapkan pemanfaatannya sejak dini.

Frekuensi Baru Dilelang

Di sisi infrastruktur, Komdigi telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita frekuensi ini disiapkan untuk mendukung pemerataan akses internet 4G hingga 5G. Pemerintah menilai kebijakan ini penting untuk memperkuat kualitas jaringan di berbagai wilayah.

Frekuensi 700 MHz dikenal memiliki jangkauan yang lebih luas, sehingga cocok untuk perluasan layanan ke daerah yang belum optimal terlayani. Sementara itu, 2,6 GHz dapat mendukung kapasitas jaringan yang lebih besar di wilayah padat pengguna. Kombinasi keduanya diharapkan mempercepat pemerataan layanan digital nasional.

Wayan menegaskan bahwa regulasi harus menjadi pendukung, bukan penghambat, bagi pengembangan teknologi. Menurut dia, kebijakan yang adaptif dibutuhkan agar pertumbuhan industri berjalan seiring dengan kebutuhan digital masyarakat. Pemerintah ingin memastikan ekosistem 5G dan AI tumbuh dalam arah yang sehat dan terukur.

Dengan target cakupan 5G sebesar 7 persen pada 2029, pemerintah menaruh harapan besar pada sinergi antara regulasi, infrastruktur, dan inovasi. AI dipandang dapat menjadi katalis yang membuat jaringan 5G lebih relevan bagi pengguna. Jika ekosistemnya terbentuk kuat, percepatan transformasi digital Indonesia berpeluang berjalan lebih cepat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!