Komdigi: AI Jadi Pendorong Utama Adopsi 5G di Indonesia

Teknologi BRH 21 Mei 2026 17:28 WIB 8
Komdigi: AI Jadi Pendorong Utama Adopsi 5G di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kecerdasan buatan atau artificial intelligence akan menjadi pendorong utama adopsi jaringan 5G di Indonesia. Saat ini, cakupan 5G nasional masih rendah, meski teknologi tersebut telah hadir sejak 2021. Pemerintah menargetkan perluasan akses itu melalui strategi jangka menengah yang sudah disusun hingga 2029.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyebut AI berpotensi menjadi killer content yang mempercepat pemanfaatan 5G di berbagai sektor. Menurut dia, kombinasi keduanya dapat membuka model bisnis baru sekaligus mendorong transformasi digital yang lebih cerdas. Pernyataan itu disampaikan dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu (29/5/2026).

AI Dorong Pemakaian 5G

Wayan menilai AI dapat memainkan peran seperti momentum besar pada era penyiaran yang mendorong migrasi ke TV digital. Dalam konteks 5G, AI dipandang mampu menjadi alasan utama masyarakat dan industri mempercepat adopsi jaringan berkecepatan tinggi. Karena itu, teknologi tersebut tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan pemicu penggunaan yang lebih luas.

Ia menjelaskan, Indonesia kini memasuki fase baru transformasi digital yang tidak hanya bertumpu pada konektivitas. Tahap berikutnya adalah membangun ekosistem yang lebih cerdas, terukur, dan berbasis data. Di fase ini, kebutuhan akan jaringan cepat menjadi semakin penting.

5G dinilai menyediakan fondasi konektivitas dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah. Sementara itu, AI berfungsi mengolah data menjadi insight yang dapat dimanfaatkan untuk inovasi. Jika keduanya berjalan beriringan, peluang pemanfaatannya akan semakin besar.

Komdigi menilai integrasi 5G dan AI akan melahirkan banyak model bisnis baru. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri, tetapi juga sektor publik dan masyarakat luas. Pemerintah melihat peluang ini sebagai bagian dari percepatan ekonomi digital nasional.

Peluang Di Berbagai Sektor

Menurut Wayan, sinergi 5G dan AI akan berdampak pada banyak sektor strategis. Industri manufaktur berbasis Industry 4.0 menjadi salah satu bidang yang paling berpotensi memanfaatkan teknologi tersebut. Selain itu, layanan kesehatan digital juga diperkirakan berkembang lebih cepat.

Pengembangan kota cerdas turut masuk dalam daftar sektor yang bisa terdorong. Dengan konektivitas yang lebih stabil, pemrosesan data dapat dilakukan secara lebih efisien. Hal ini membuka peluang layanan publik yang lebih responsif dan terintegrasi.

Wayan menegaskan bahwa tantangan pemerintah tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Pemanfaatan teknologi harus benar-benar dirasakan masyarakat secara nyata. Karena itu, aspek inklusivitas dan keamanan menjadi perhatian utama.

Ia menilai teknologi yang baik harus memberi manfaat langsung, bukan hanya hadir sebagai simbol kemajuan. Oleh sebab itu, ekosistem digital perlu disiapkan agar penggunaannya tepat sasaran. Komdigi ingin perkembangan 5G dan AI memberi dampak yang luas dan berkelanjutan.

Ekosistem Pendukung Diperkuat

Untuk mendukung percepatan tersebut, Komdigi mendorong pengembangan infrastruktur jaringan yang lebih merata. Pemerintah juga menyiapkan data center sebagai bagian dari fondasi ekosistem digital. Selain itu, ketersediaan talenta digital menjadi prioritas yang tidak bisa diabaikan.

Wayan mengatakan bahwa kemampuan sumber daya manusia akan menentukan keberhasilan adopsi AI dan 5G. Tanpa talenta yang memadai, pemanfaatan teknologi berisiko berjalan lambat. Karena itu, penguatan kompetensi digital dipandang sebagai kebutuhan mendesak.

Di sisi lain, kebijakan yang adaptif juga diperlukan agar pertumbuhan industri tidak terhambat. Regulasi harus mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. Pemerintah disebut perlu hadir sebagai fasilitator, bukan penghalang inovasi.

Dengan pendekatan tersebut, Komdigi berharap ekosistem digital nasional dapat tumbuh lebih sehat. Investasi, inovasi, dan penggunaan teknologi dapat berjalan secara seimbang. Pada akhirnya, masyarakat diharapkan memperoleh manfaat yang lebih besar dari kemajuan digital.

Spektrum Baru Untuk 5G

Komdigi saat ini juga telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita frekuensi itu diharapkan mendukung pemerataan akses internet 4G hingga 5G. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memperkuat infrastruktur digital nasional.

Frekuensi 700 MHz dinilai cocok untuk memperluas jangkauan layanan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau. Sementara 2,6 GHz dapat membantu meningkatkan kapasitas jaringan di area dengan trafik tinggi. Kombinasi keduanya diharapkan memberi kualitas layanan yang lebih baik.

Pemerintah menargetkan cakupan jaringan 5G yang saat ini baru 4,44 persen dapat meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Dalam Rencana Strategis Komdigi 2025-2029, cakupan internet kencang itu ditargetkan mencapai 7 persen pada 2029. Target tersebut menjadi salah satu indikator percepatan transformasi digital nasional.

Meski begitu, keberhasilan target tidak hanya ditentukan oleh lelang spektrum semata. Kesiapan industri, ekosistem aplikasi, dan permintaan pasar juga ikut menentukan laju adopsi. Karena itu, AI diposisikan sebagai elemen penting yang bisa mempercepat penggunaan 5G secara nyata.

Tag Terkait
#AI#5G#Komdigi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!