Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan menjadi penggerak utama adopsi jaringan 5G di Indonesia. Saat ini, cakupan 5G nasional masih tergolong rendah, yakni baru mencapai 4,44 persen sejak pertama hadir pada pertengahan 2021.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menyebut AI berpotensi menjadi killer content yang mempercepat pemanfaatan 5G di berbagai sektor. Pemerintah pun menargetkan cakupan internet generasi kelima itu naik menjadi 7 persen pada 2029.
AI Dorong Adopsi 5G
Wayan menilai era digital saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan konektivitas. Menurut dia, kebutuhan masyarakat dan industri kini bergerak menuju ekosistem yang lebih cerdas, berbasis data, dan responsif.
Dalam konteks itu, 5G berfungsi sebagai fondasi konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah. Sementara itu, AI bekerja mengolah data menjadi wawasan yang dapat mendorong inovasi dan efisiensi.
Ia mencontohkan, seperti halnya momentum besar yang dulu mendorong migrasi ke TV digital, AI bisa menjadi pemicu baru bagi pemanfaatan 5G. Karena itu, integrasi keduanya dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas penggunaan layanan digital di Indonesia.
Ekosistem Digital Perlu Diperkuat
Komdigi menekankan bahwa pembangunan jaringan saja tidak cukup untuk mempercepat adopsi teknologi baru. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat dan pelaku usaha benar-benar merasakan manfaat dari 5G dan AI.
Wayan menyatakan pemanfaatan teknologi harus berlangsung secara inklusif, aman, dan memberi dampak nyata. Tanpa arah yang tepat, infrastruktur digital berisiko tidak termanfaatkan secara optimal oleh publik.
Untuk itu, pemerintah mendorong percepatan pengembangan ekosistem pendukung, mulai dari jaringan, pusat data, hingga talenta digital. Langkah tersebut dinilai penting agar solusi berbasis AI dapat tumbuh lebih cepat di dalam negeri.
5G dan AI Buka Peluang Baru
Kombinasi 5G dan AI diperkirakan membuka peluang bisnis baru di berbagai sektor. Potensinya meluas ke industri manufaktur berbasis Industry 4.0, layanan kesehatan digital, hingga pengembangan kota cerdas atau smart city.
Dengan koneksi yang lebih cepat dan stabil, perusahaan dapat mengoperasikan sistem otomatis dengan lebih efisien. Di sisi lain, AI membantu menganalisis data dalam jumlah besar untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Wayan menegaskan bahwa pertumbuhan ekosistem digital harus berjalan seiring dengan kebutuhan industri. Menurut dia, teknologi akan menjadi lebih bernilai bila mampu menciptakan manfaat ekonomi dan sosial secara bersamaan.
Lelang Frekuensi Dipercepat
Komdigi juga telah membuka proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua pita frekuensi itu diharapkan memperluas pemerataan akses internet 4G hingga 5G di Indonesia.
Frekuensi yang lebih memadai akan membantu operator meningkatkan kualitas layanan dan memperluas jangkauan jaringan. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab kebutuhan konektivitas yang terus meningkat di berbagai daerah.
Pemerintah menegaskan regulasi harus menjadi enabler, bukan penghambat, bagi tumbuhnya industri digital. Dengan kebijakan yang adaptif, pengembangan 5G dan AI diharapkan dapat mendorong transformasi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
