Kisah UliMus, Usaha Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Lifestyle Clara Monica 24 Mei 2026 05:11 WIB 9
Kisah UliMus, Usaha Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Peluang usaha kerap muncul dari kebutuhan sederhana di rumah, dan hal itu dialami Romauli Sri Astuti Sitoris atau Uli. Pada 2022, perempuan berusia 40 tahun itu mendirikan usaha bawang goreng crispy bernama UliMus setelah melihat kebiasaan anaknya yang tidak menyukai bawang goreng biasa. Dari situ, ia mencoba mengolah bawang menjadi camilan yang lebih renyah, gurih, dan disukai keluarga. Inovasi kecil itu kemudian berubah menjadi sumber penghasilan baru.

Ide tersebut awalnya lahir saat anak Uli menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Parung pada awal 2020. Setiap kunjungan, ia membawa bawang goreng dengan varian rasa seperti barbecue dan balado, lalu membiarkan anaknya menjual kepada teman-teman. Respons yang datang di luar dugaan, karena camilan buatan rumah itu justru diminati banyak orang. Dari kebiasaan sederhana itu, pintu rezeki perlahan terbuka.

Bawang Goreng Crispy UliMus

Uli mengaku semula hanya ingin membuat bawang goreng yang bisa dinikmati anaknya tanpa penolakan. Ia kemudian meracik tekstur yang lebih crispy agar produk itu tidak sekadar menjadi pelengkap makanan. Varian rasa juga ditambahkan untuk memberi pilihan yang lebih menarik bagi konsumen. Hasilnya, produk tersebut punya karakter berbeda dibanding bawang goreng pada umumnya.

Keunikan itu membuat UliMus dapat dipasarkan tidak hanya sebagai taburan, tetapi juga sebagai camilan. Produk ini memiliki nilai jual karena menggabungkan fungsi dan cita rasa dalam satu kemasan. Bagi Uli, hal tersebut menjadi pembeda penting di tengah persaingan usaha kuliner rumahan. Ia melihat peluang besar dari produk sederhana yang dikemas dengan inovasi.

Setiap kali berkunjung ke pesantren, Uli membawa stok dalam jumlah banyak untuk dititipkan kepada sang anak. Teman-teman anaknya juga ikut membeli karena tertarik pada rasa yang ditawarkan. Dari transaksi kecil itu, ia mulai melihat bahwa produknya memiliki pasar. Perlahan, kebiasaan membawa bawang goreng berubah menjadi aktivitas bisnis yang rutin.

Pengalaman tersebut membuat Uli makin yakin bahwa ide usaha tidak selalu harus berawal dari modal besar. Ia justru menemukan peluang dari kebiasaan konsumsi keluarga sendiri. Dalam pandangannya, kreativitas dalam mengolah bahan sederhana dapat memberi nilai tambah yang signifikan. Hal itulah yang kemudian menjadi fondasi perkembangan UliMus.

Modal Kecil Menjadi Awal

Keputusan untuk serius berjualan muncul saat usaha suaminya terdampak pandemi. Pada 2020, bisnis sang suami disebut mengalami kebangkrutan, sehingga keluarga perlu mencari sumber pendapatan baru. Dalam kondisi itu, suaminya mendorong Uli untuk menjual bawang goreng karena produknya sudah terbukti disukai orang. Dukungan tersebut membuatnya mantap melangkah lebih jauh.

Modal awal usaha itu pun tergolong sangat terbatas, yakni kurang dari Rp500 ribu. Dengan dana yang minim, Uli memulai produksi dari rumah dan mengerjakan semuanya secara bertahap. Ia mengandalkan ketekunan, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba. Langkah kecil itu perlahan membentuk usaha yang lebih terarah.

Meski sederhana, Uli tidak berhenti memperbaiki kualitas produk. Ia menjaga rasa, tekstur, dan kebersihan agar pembeli merasa puas. Pendekatan itu penting karena produk rumahan harus mampu bersaing dengan merek lain. Dari sini, usaha kecilnya mulai menunjukkan identitas yang lebih kuat.

Pada akhirnya, kerja keras tersebut membawa usahanya naik kelas dan memiliki legalitas resmi pada 2022. Nama UliMus dipilih dari gabungan nama Uli dan suaminya, Mustofa. Penamaan itu menjadi simbol kebersamaan dalam membangun usaha keluarga. Legalitas juga memberi kepercayaan lebih bagi konsumen dan peluang pasar yang lebih luas.

Dukungan Keluarga Jadi Kunci

Perjalanan UliMus tidak lepas dari dukungan keluarga yang terus menguatkan langkahnya. Saat usaha suami terdampak, keluarga justru menjadikan kondisi itu sebagai momentum untuk membangun usaha baru. Suaminya ikut memberi saran, sementara Uli fokus pada produksi dan penjualan. Kolaborasi tersebut menjadi modal sosial yang penting dalam menjalankan UMKM.

Peran anak juga tidak kalah besar dalam membantu memperkenalkan produk di lingkungan pesantren. Dari situ, jaringan pembeli awal terbentuk secara organik melalui interaksi sehari-hari. Model penjualan seperti ini menunjukkan bahwa pemasaran bisa dimulai dari lingkaran terdekat. Setelah ada respons positif, kepercayaan diri Uli pun meningkat.

Bagi Uli, usaha ini bukan hanya soal mencari untung, tetapi juga cara menjaga ketahanan ekonomi keluarga. Ia membuktikan bahwa dapur rumah dapat menjadi ruang lahirnya bisnis baru. Ketika kebutuhan keluarga bertemu dengan kreativitas, peluang usaha bisa tumbuh lebih cepat. Kisahnya menjadi contoh bahwa ketekunan sering kali lebih penting daripada modal besar.

Kehadiran UliMus sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI juga memberi ruang pengembangan yang lebih luas. Pembinaan seperti ini membantu pelaku usaha rumahan memahami cara mengelola bisnis secara lebih profesional. Dengan dukungan tersebut, produk bawang goreng crispy buatan Uli berpeluang menembus pasar yang lebih besar. Dari rumah sederhana, usaha ini terus bergerak menuju pertumbuhan yang lebih mapan.

UMKM Naik Kelas

Kisah UliMus memperlihatkan bahwa inovasi produk dapat lahir dari persoalan sehari-hari. Anak yang semula tidak menyukai bawang goreng justru memicu lahirnya usaha baru. Dari situ, Uli menemukan formula yang membuat produknya berbeda dan bernilai jual. Cerita ini menjadi bukti bahwa ide bisnis bisa muncul dari hal yang paling dekat dengan kehidupan keluarga.

Bagi pelaku UMKM, pengalaman Uli juga menegaskan pentingnya keberanian untuk memulai. Modal yang terbatas tidak selalu menjadi penghalang bila ada kemauan untuk belajar dan beradaptasi. Dengan rasa yang konsisten, kemasan yang menarik, dan legalitas yang jelas, usaha kecil dapat berkembang lebih cepat. Langkah bertahap seperti ini sering menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Uli juga menunjukkan bahwa dukungan keluarga dapat menjadi energi utama dalam membangun usaha. Saat satu pintu tertutup, keluarga bisa bersama-sama membuka pintu lain yang lebih menjanjikan. Dalam kasus ini, bawang goreng crispy menjadi jawaban atas tantangan ekonomi yang dihadapi rumah tangganya. Hasilnya, usaha rumahan itu tumbuh dari kebutuhan menjadi peluang.

Perjalanan UliMus pada akhirnya memberi inspirasi bagi banyak pelaku usaha kecil di Indonesia. Produk sederhana yang dibangun dengan ketekunan, keberanian, dan kreativitas tetap punya ruang besar di pasar. Selama pelaku usaha mampu membaca kebutuhan konsumen, peluang akan selalu terbuka. Kisah Uli menjadi contoh nyata bahwa bisnis sukses bisa dimulai dari dapur sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!