Peluang usaha kerap muncul dari kebutuhan sederhana di rumah, seperti yang dialami Romauli Sri Astuti Sitoris, 40 tahun, saat merintis usaha bawang goreng crispy bernama UliMus pada 2022. Berawal dari keinginan membuat anaknya menyukai bawang goreng, ia justru menemukan peluang bisnis yang terus berkembang.
Produk olahan bawang itu kemudian menjadi bekal rutin sang anak saat menempuh pendidikan di pondok pesantren di Parung pada awal 2020. Dari situ, bawang goreng buatan Uli, sapaan akrab Romauli, mulai dikenal dan diminati teman-teman anaknya.
Bawang goreng jadi peluang
Romauli mengolah bawang goreng agar tidak hanya menjadi pelengkap makanan, tetapi juga camilan yang renyah. Inovasi itu lahir dari kebiasaan keluarga yang ingin menghadirkan sesuatu yang disukai anak.
Setiap kali berkunjung ke pesantren, ia membawa bawang goreng dengan rasa barberque dan balado. Produk tersebut kemudian dibagikan kepada sang anak untuk dinikmati bersama teman-temannya.
Respons positif dari lingkungan pesantren membuat Romauli melihat adanya potensi pasar yang lebih luas. Dari kebiasaan sederhana itu, ia mulai percaya bahwa produk rumah tangga bisa menjadi sumber penghasilan.
Dukungan keluarga menguatkan usaha
Keputusan untuk menekuni usaha bawang goreng secara serius muncul setelah mendapat dukungan dari suaminya. Saat itu, usaha sang suami terdampak pandemi dan keluarga membutuhkan tambahan penghasilan.
Romauli kemudian mencoba berjualan dari rumah dengan memanfaatkan keterampilan yang dimilikinya. Ia memulai langkah kecil, tetapi dilakukan dengan komitmen yang kuat.
Menurut Romauli, dorongan keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha. Situasi sulit justru membuat mereka berani mengambil keputusan untuk membangun usaha bersama.
Modal kecil, hasil berkembang
Modal awal yang digunakan Romauli untuk memulai usaha tidak besar, yakni kurang dari Rp500 ribu. Meski demikian, ia tetap berani menjalankan produksi secara sederhana dari rumah.
Ketekunan dan keberaniannya mencoba membuat usaha tersebut terus bertumbuh. Pada 2022, bisnis itu resmi memiliki legalitas dengan nama UliMus.
Nama UliMus diambil dari gabungan nama Romauli dan suaminya, Mustofa. Identitas tersebut menjadi penanda perjalanan usaha keluarga yang dibangun bersama dari nol.
UliMus kian dikenal pasar
Keunikan UliMus terletak pada produk bawang goreng yang bisa dinikmati sebagai camilan maupun taburan makanan. Nilai tambah ini membuat produknya lebih fleksibel di mata konsumen.
Romauli juga merasakan manfaat dari adanya dukungan lingkungan, termasuk saat produk dibawa ke pesantren. Dari situ, penjualan perlahan tumbuh dan membuka peluang pembeli baru.
Kisah UliMus menunjukkan bahwa ide sederhana dapat menjadi usaha yang menjanjikan bila dikelola dengan konsisten. Dari dapur rumah, Romauli membuktikan bahwa UMKM bisa tumbuh lewat ketekunan dan inovasi.
