Kisah UliMus, Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 28 Mei 2026 04:34 WIB 2
Kisah UliMus, Bawang Goreng Crispy dari Rumah

Peluang usaha kerap lahir dari kebutuhan sederhana di rumah, dan hal itu dialami Romauli Sri Astuti Sitoris saat merintis UliMus pada 2022. Berawal dari anaknya yang tidak menyukai bawang goreng, perempuan yang akrab disapa Uli itu mengolah bahan tersebut menjadi camilan crispy dengan cita rasa yang lebih menarik.

Inovasi sederhana itu kemudian berkembang menjadi usaha rumahan yang menyasar pasar lebih luas, termasuk lingkungan pesantren di Parung, Bogor. Dari modal terbatas, UliMus tumbuh berkat ketekunan, dukungan keluarga, dan respons positif dari para pembeli.

Bawang Goreng Crispy Jadi Andalan

Uli memilih mengubah bawang goreng yang selama ini dikenal sebagai taburan makanan menjadi produk camilan. Langkah itu muncul dari keinginan membuat anaknya lebih tertarik menyantap bawang goreng.

Ia kemudian mengolah bawang dengan cita rasa yang lebih variatif, mulai dari barbecue hingga balado. Hasilnya, produk itu tidak hanya disukai anaknya, tetapi juga menarik minat teman-temannya di pesantren.

Respons pasar yang positif membuat Uli melihat peluang usaha yang lebih serius. Dari sana, bawang goreng crispy UliMus mulai diposisikan sebagai produk camilan sekaligus pelengkap makanan.

Keunikan produk menjadi pembeda utama di tengah banyaknya olahan bawang goreng di pasaran. Dengan konsep tersebut, Uli berhasil membangun identitas usaha yang mudah diingat konsumen.

Awal Usaha dari Rumah

Uli mulai menekuni usaha ini secara kecil-kecilan dari rumah setelah mendapat dorongan dari suaminya. Keputusan itu juga dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga saat usaha sang suami terdampak pandemi.

Pada saat itu, keluarga membutuhkan sumber penghasilan tambahan untuk menjaga kebutuhan harian tetap terpenuhi. Saran untuk menjual bawang goreng akhirnya diterima karena produk itu memang dekat dengan kebiasaan konsumsi masyarakat.

Uli pun mulai memproduksi sendiri dalam skala terbatas, sambil belajar membaca selera pasar. Langkah ini menjadi titik awal perjalanan UliMus sebagai UMKM rumahan.

Meski sederhana, proses dari dapur rumah memberi ruang bagi Uli untuk mengontrol kualitas produk. Ia juga dapat menyesuaikan produksi dengan permintaan yang datang secara bertahap.

Modal Kecil, Tekad Besar

Modal awal usaha UliMus tercatat kurang dari Rp 500 ribu. Jumlah itu jauh dari kata besar, namun cukup menjadi pijakan awal untuk memulai produksi.

Dengan modal yang terbatas, Uli memaksimalkan bahan baku dan peralatan seadanya. Ia mengandalkan ketelitian agar produk tetap konsisten dan layak dijual.

Ketekunan tersebut membuat usahanya perlahan tumbuh dan memperoleh tempat di pasar. Dari waktu ke waktu, produksi meningkat seiring bertambahnya pelanggan.

Pada 2022, usaha ini resmi memiliki legalitas dengan nama UliMus. Legalitas tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi usaha di tengah persaingan UMKM.

Dukungan Keluarga dan Pasar

Nama UliMus diambil dari gabungan nama Uli dan Mustofa, suaminya. Penamaan ini menunjukkan bahwa usaha tersebut dibangun sebagai kerja sama keluarga.

Setiap kali berkunjung ke pesantren tempat anaknya belajar, Uli membawa stok bawang goreng untuk dititipkan. Dari kebiasaan itu, penjualan mulai terbentuk dan pasar kecil pun tercipta.

Para teman anaknya ikut mencoba produk tersebut dan memberi respons yang baik. Situasi itu membuka peluang penjualan berulang yang menambah pemasukan keluarga.

Dukungan suami juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha. Dengan dorongan dari rumah dan pasar yang terus tumbuh, UliMus kini memiliki fondasi yang lebih kuat.

UMKM yang Terus Bertumbuh

Perjalanan UliMus menunjukkan bahwa ide usaha bisa lahir dari persoalan sehari-hari. Dari ketidaksukaan anak pada bawang goreng, muncul produk baru yang punya nilai jual.

Transformasi itu juga memperlihatkan pentingnya keberanian untuk mencoba di tengah keterbatasan. Modal kecil tidak menjadi penghalang ketika pelaku usaha punya konsistensi dan strategi sederhana.

Keberhasilan Uli menjaga usahanya tetap berjalan tidak lepas dari kemampuan membaca peluang pasar. Lingkungan pesantren, keluarga, dan produk yang unik menjadi kombinasi yang saling menguatkan.

Kisah UliMus menjadi contoh bahwa UMKM rumahan dapat berkembang bila dikelola dengan tekun. Dari dapur kecil, usaha ini perlahan berubah menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!