Kisah Siti Fatimah Bangun Qtello Ayu dari Rumah

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 13:20 WIB 2
Kisah Siti Fatimah Bangun Qtello Ayu dari Rumah

Mantan pekerja migran Indonesia asal Trenggalek, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang ke Tanah Air bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal membangun usaha. Selepas lima tahun bekerja di Hongkong, perempuan berusia 46 tahun itu merintis bisnis jajanan tradisional berbahan singkong dari rumah dengan modal awal Rp700 ribu.

Usaha bernama Qtello Ayu itu kini berkembang pesat dengan sembilan varian produk, produksi hingga 400 kotak per hari, dan omzet harian rata-rata mencapai Rp1 juta. Dari tekad untuk tidak kembali merantau, Fatimah berhasil memperbaiki ekonomi keluarga, melunasi utang, hingga membeli mobil operasional.

Qtello Ayu Tumbuh Dari Tekad

Fatimah pulang ke Indonesia pada Mei 2017 setelah merasa pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga di luar negeri tidak lagi memberi ruang berkembang. Ia juga menilai penghasilan yang diterima belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama anak-anak. Karena itu, ia memilih menetap di rumah dan mencari jalan baru melalui usaha kecil.

Keputusan tersebut lahir dari kondisi sebagai single parent yang harus menghidupi keluarga. Dalam pikirannya, kebutuhan terus bertambah, sementara ia tidak ingin kembali merantau. Dari situ muncul keyakinan bahwa rumah bisa menjadi tempat memulai sesuatu yang lebih pasti.

Pada akhir 2017, ia mulai memproduksi aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Nama Qtello Ayu dipilih sebagai perpaduan kata ketela dan ayu, yang merepresentasikan produk sederhana namun menarik. Langkah itu menjadi fondasi utama bisnis yang kini dikenal banyak pelanggan.

Modal awal usahanya hanya berasal dari sisa tabungan sebesar Rp700 ribu. Dengan dana terbatas, Fatimah berusaha memaksimalkan bahan baku, tenaga, dan kreativitas agar produk bisa segera dijual. Tekadnya sederhana, uang itu harus cukup untuk membuka usaha apa pun yang bisa menopang hidup.

Varian Rasa Dan Kemasan

Awalnya, Qtello Ayu hanya memiliki tiga varian, yaitu ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Seiring waktu, pilihan produknya berkembang menjadi sembilan varian. Ragam baru itu mencakup sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu.

Meski bahan bakunya sederhana, Fatimah menonjolkan tampilan produk dengan kemasan yang lebih inovatif. Strategi itu membuat jajanan tradisional terlihat lebih menarik secara visual dan mudah diterima konsumen. Sentuhan modern juga membantu produknya bersaing di pasar oleh-oleh.

Pemasaran dijalankan secara sederhana namun efektif melalui WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan metode getok tular atau promosi dari mulut ke mulut. Cara ini membuat nama Qtello Ayu perlahan dikenal di berbagai kalangan.

Kombinasi rasa, tampilan, dan pemasaran membuat produk itu tidak hanya diminati warga sekitar. Pesanan datang dari pelanggan yang ingin membeli untuk acara keluarga, konsumsi harian, maupun buah tangan. Fatimah pun terus menjaga konsistensi rasa agar pembeli kembali datang.

Omzet Harian Dan Produksi

Pertumbuhan usaha membuat Qtello Ayu memiliki pelanggan tetap dari dalam dan luar daerah. Produksi harian kini mencapai sekitar 400 kotak, bergantung pada jumlah pesanan yang masuk. Dari penjualan tersebut, omzet harian rata-rata berada di kisaran Rp1 juta.

Fatimah mengaku angka penjualan bisa naik turun, tergantung permintaan pasar. Dalam kondisi tertentu, omzet dapat menyentuh Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari. Produk-produknya juga kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta.

Untuk memenuhi permintaan, ia tidak bekerja sendirian. Fatimah dibantu keluarga dan dua karyawan harian agar produksi tetap berjalan lancar. Seluruh proses dilakukan dari rumah demi menjaga kualitas dan kesegaran jajanan.

Model usaha rumahan itu membuatnya lebih mudah mengatur bahan baku dan distribusi. Ia tetap menjaga standar produksi meski pesanan terus bertambah. Dengan cara itu, konsistensi produk dapat dipertahankan tanpa mengorbankan mutu.

Dampak Usaha Bagi Keluarga

Hasil usaha Qtello Ayu membawa perubahan besar bagi kondisi ekonomi keluarga Fatimah. Ia mengaku berhasil melunasi utang dan membeli mobil untuk operasional. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha kecil bisa memberi dampak nyata bila dikelola dengan tekun.

Keberhasilan tersebut juga membuka peluang baru bagi keluarganya. Salah satu anaknya yang sudah berkeluarga bahkan membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Kehadiran cabang itu menunjukkan potensi bisnis keluarga yang terus berkembang.

Fatimah berharap usahanya bisa hadir di lebih banyak kota karena permintaan terus berdatangan. Ia menilai semangat dan ketekunan jauh lebih penting daripada besarnya modal awal. Menurutnya, setiap calon pelaku usaha perlu mengingat kembali tujuan saat semangat mulai turun.

Bagi konsumen yang ingin mencoba, harga jajanan tradisional ini dimulai dari sekitar Rp8 ribu per box. Produk tersebut cocok untuk camilan maupun suguhan dalam berbagai acara. Informasi lebih lanjut tersedia melalui akun Instagram resmi @qtelloayu_trenggalek.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!