Sarden Kalengan Ternyata Belum Tentu Termasuk UPF

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 14:21 WIB 2
Sarden Kalengan Ternyata Belum Tentu Termasuk UPF

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibahas di media sosial, terutama saat publik menyoroti makanan kemasan dan kalengan. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut menjadi sorotan setelah muncul klaim bahwa produk ini belum tentu tergolong UPF. Pertanyaan tersebut memicu rasa penasaran karena banyak orang selama ini menganggap semua makanan kalengan identik dengan makanan ultraolahan.

Faktanya, status sarden kalengan tidak sesederhana label “makanan kemasan”, sebab klasifikasinya bergantung pada bahan dan tingkat pemrosesan. Untuk memahaminya, publik perlu mengenal sistem NOVA yang kerap digunakan untuk membedakan makanan olahan biasa dan UPF. Dari sana, baru terlihat mengapa tidak semua produk kaleng otomatis masuk kategori yang sama.

Memahami UPF dan NOVA

UPF merupakan singkatan dari ultra-processed food, yakni istilah yang dipakai dalam klasifikasi NOVA. Sistem ini dikembangkan oleh ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil untuk mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Dengan pendekatan ini, penilaian makanan tidak hanya melihat bentuk akhirnya, tetapi juga cara pembuatannya.

Dalam klasifikasi NOVA, makanan dibagi menjadi empat kelompok utama. Kelompok pertama adalah makanan segar atau minim proses, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok lainnya mencakup bahan dapur olahan, makanan olahan, serta makanan ultraolahan.

UPF umumnya merujuk pada produk hasil formulasi industri yang mengandung banyak bahan tambahan. Bahan tersebut bisa berupa perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, hingga pengawet tertentu. Karena itu, kategori ini sering dikaitkan dengan minuman manis kemasan, camilan tinggi garam, dan makanan siap santap tertentu.

Sarden Kalengan dan Kategorinya

Sarden kalengan tidak selalu otomatis masuk kelompok UPF. Dalam banyak kasus, produk ini lebih tepat dikategorikan sebagai processed food jika hanya ditambahkan garam, minyak, atau saus sederhana untuk memperpanjang daya simpan. Artinya, proses pengolahan memang ada, tetapi tidak selalu sampai level ultraolahan.

Perbedaan utama terletak pada komposisi dan jumlah bahan tambahan yang digunakan. Jika sarden kalengan hanya berisi ikan, saus, garam, dan minyak, maka posisinya berbeda dari produk yang mengandung banyak aditif industri. Inilah sebabnya pembacaan label menjadi langkah penting sebelum menilai suatu produk.

Meski begitu, konsumen tetap perlu berhati-hati karena tidak semua sarden kalengan memiliki formulasi yang sama. Beberapa produk dapat menambahkan pengental, penguat rasa, atau bahan lain yang membuat profilnya lebih kompleks. Karena itu, statusnya harus dilihat per produk, bukan berdasarkan asumsi umum.

Cara Mengecek Label Produk

Langkah pertama yang bisa dilakukan konsumen adalah membaca daftar bahan pada kemasan. Urutan bahan biasanya menunjukkan komposisi yang paling dominan, sehingga dapat memberi gambaran awal tentang tingkat pemrosesan. Semakin panjang daftar bahan tambahan, semakin besar kemungkinan produk tersebut mendekati kategori ultraolahan.

Selain bahan, informasi gizi juga perlu diperhatikan agar konsumen mengetahui kandungan garam, gula, dan lemak. Produk kalengan dengan natrium tinggi, misalnya, bisa kurang ideal jika dikonsumsi terlalu sering. Dengan memahami label, konsumen dapat mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan kesehatan.

Kebiasaan membaca label juga membantu masyarakat membedakan makanan olahan yang masih wajar dari UPF yang lebih kompleks. Pendekatan ini lebih akurat dibanding menilai hanya dari bentuk kemasan. Dalam konteks sarden kalengan, penilaian yang tepat harus didasarkan pada komposisi nyata produk, bukan pada anggapan semata.

Bijak Memilih Makanan Kemasan

Perdebatan soal UPF seharusnya mendorong konsumen menjadi lebih kritis, bukan justru takut terhadap semua makanan kemasan. Tidak semua makanan olahan buruk, karena ada produk yang tetap bisa menjadi sumber gizi praktis dan aman dikonsumsi. Yang terpenting adalah memahami konteks, kandungan, dan frekuensi konsumsinya.

Sarden kalengan, misalnya, masih dapat menjadi pilihan yang berguna karena mengandung protein hewani dan praktis disimpan. Namun, pilihan terbaik tetap bergantung pada kualitas produk dan pola makan harian secara keseluruhan. Konsumsi yang seimbang akan jauh lebih penting dibanding sekadar memberi label baik atau buruk pada satu jenis makanan.

Di tengah ramainya informasi di media sosial, literasi pangan menjadi semakin penting bagi masyarakat. Dengan memahami klasifikasi NOVA, publik bisa menilai makanan secara lebih objektif dan tidak mudah terpengaruh klaim yang belum tentu tepat. Pada akhirnya, keputusan terbaik tetap lahir dari kebiasaan membaca label dan memilih makanan dengan lebih cermat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!