Aktris Ayu Azhari mengungkap keterlibatannya dalam film Suamiku Lukaku produksi SinemArt, bukan hanya sebagai pemain tetapi juga membantu proses di balik layar. Salah satu peran pentingnya adalah mencari dan menentukan lokasi syuting yang dinilai sesuai untuk kebutuhan cerita.
Film yang dibintangi Acha Septriasa dan Baim Wong itu memilih Bangka sebagai lokasi utama. Ayu menyebut keputusan tersebut memiliki makna emosional karena berkaitan dengan sejarah keluarganya sekaligus harapan agar keindahan Bangka ikut dikenal publik lewat layar lebar.
Ayu Azhari dan Bangka
Ayu Azhari menjelaskan bahwa dirinya ikut membantu mengoordinasikan pencarian lokasi syuting. Ia sempat menjajaki beberapa wilayah, termasuk Palembang dan sejumlah daerah lain, sebelum akhirnya Bangka dipilih. Menurutnya, respons dari pemerintah daerah di Bangka sangat cepat dan terbuka. Dukungan itu membuat proses survei lokasi berjalan lancar.
Bagi Ayu, Bangka bukan sekadar latar cerita, tetapi juga bagian dari sejarah keluarganya. Ia menyebut ayahnya lahir di Pangkal Pinang, sementara neneknya berasal dari Bangka. Hubungan emosional itu membuat keterlibatannya dalam film terasa lebih personal. Karena itu, ia menilai proyek ini memiliki nilai tersendiri di luar aspek profesional.
Ia berharap film tersebut dapat memperlihatkan pesona Bangka kepada penonton nasional. Ayu juga ingin masyarakat setempat merasa bangga karena daerah mereka dijadikan lokasi utama film. Ia menyampaikan harapan agar warga Bangka menyambut penayangan film itu dengan antusias. Menurutnya, momentum tayang serentak menjadi kesempatan baik untuk memperkenalkan Bangka lebih luas.
Pesan Kuat Soal KDRT
Dalam film Suamiku Lukaku, Ayu memerankan Ibu Amina, sosok yang membawa pesan sosial penting. Cerita film menampilkan rumah tangga Irfan dan Amina yang tampak harmonis di depan publik. Namun, di balik itu, Amina harus menghadapi kekerasan fisik dan verbal dari suaminya. Konflik tersebut menjadi sorotan utama dalam alur cerita.
Ayu menilai film ini relevan dengan persoalan yang masih terjadi di masyarakat. Ia menegaskan bahwa perempuan berhak untuk bahagia dan tidak boleh memaklumi kekerasan dalam rumah tangga. Pesan itu, menurutnya, penting agar korban berani bersuara. Ia juga berharap penonton memahami bahwa kekerasan bukan bagian normal dari hubungan suami istri.
Melalui perannya, Ayu ingin mengingatkan bahwa relasi yang sehat harus dibangun di atas saling menghormati. Ia menekankan bahwa suami dan istri sama-sama berhak mendapatkan kebahagiaan. Dalam pandangannya, normalisasi kekerasan hanya akan memperpanjang penderitaan korban. Karena itu, film ini diharapkan menjadi pengingat bagi keluarga Indonesia.
Edukasi Untuk Generasi Muda
Ayu Azhari juga mengajak putranya, Lenon Tramp, menonton film tersebut sebagai bentuk edukasi. Ia ingin generasi muda, terutama Gen Z, lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan yang toxic. Menurutnya, pengalaman menonton film dapat menjadi cara efektif untuk membuka diskusi tentang relasi yang sehat. Langkah itu juga menjadi kesempatan untuk memberi pemahaman tentang batas dalam pergaulan.
Ia menilai film ini penting karena mengajarkan kewaspadaan terhadap orang-orang dengan karakter red flag. Masalah seperti itu, kata Ayu, tidak hanya terjadi dalam rumah tangga, tetapi juga bisa muncul di lingkungan pertemanan, keluarga, maupun sekolah. Karena itu, anak muda perlu mengenali pola hubungan yang berisiko. Kesadaran tersebut dinilai penting agar mereka tidak terjebak dalam relasi yang merugikan.
Selain itu, Ayu menekankan pentingnya self care sebagai bagian dari menjaga kesehatan mental. Ia menilai generasi muda perlu memprioritaskan kesehatan mental untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Menurutnya, kemampuan menjaga diri akan membantu anak muda lebih siap menghadapi tantangan hidup. Pesan itu menjadi salah satu nilai utama yang ingin ia sampaikan melalui film ini.
Harapan Dari Penayangan
Film Suamiku Lukaku juga menjadi ruang bagi Ayu Azhari untuk menyampaikan harapan sosial yang lebih luas. Ia menilai cerita yang dibawakan memiliki kedekatan dengan realitas banyak keluarga di Indonesia. Karena itu, film ini diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka kesadaran publik. Pesan semacam ini dinilai penting di tengah masih tingginya kasus kekerasan dalam relasi keluarga.
Ia percaya kehadiran film tersebut dapat memantik percakapan yang lebih sehat tentang pernikahan dan relasi personal. Penonton diharapkan tidak hanya melihat konflik, tetapi juga memahami dampak emosional dari kekerasan. Dengan begitu, film dapat berfungsi sebagai medium edukasi yang efektif. Ayu menilai industri film punya peran besar dalam membentuk sensitivitas sosial.
Ayu juga berharap penayangan serentak pada 27 dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas. Ia ingin pesan tentang keberanian bersuara, penghormatan terhadap perempuan, dan pentingnya kesehatan mental bisa tersampaikan. Bagi dirinya, proyek ini memiliki nilai emosional, sosial, dan budaya sekaligus. Karena itu, ia menaruh harapan besar pada respon positif penonton.
