Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 23:25 WIB 2
Kisah Hikma Bangkit Lewat Salad Umma dan KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya, perempuan 38 tahun asal Jakarta, berhasil bangkit dari terpaan pandemi dengan membangun usaha kuliner sehat bernama Salad Umma. Usaha yang dirintis dari dapur rumah itu kini tumbuh lebih stabil setelah mendapat pendampingan usaha dan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Perjalanan ini berawal dari keputusan sulit menjual berbagai aset setelah seluruh pesanan pernikahannya dibatalkan. Dari kondisi nyaris habis, ia perlahan menemukan peluang baru di tengah kebutuhan masyarakat akan makanan sehat.

Sebelum beralih ke bisnis kuliner, Hikma bekerja sebagai perias wajah atau makeup artist. Pandemi membuat seluruh jadwal pernikahan yang sudah dipesan dibatalkan seketika, sementara dana muka sudah terlanjur masuk ke sejumlah vendor. Untuk menutup kewajiban, ia terpaksa menjual mobil, baju, hingga perlengkapan make-up. Situasi itu membuatnya sempat pasrah, sebelum akhirnya mencoba kembali menata hidup lewat usaha baru.

Bangkit Lewat Salad Umma

Keputusan memulai usaha kuliner sehat tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari kebutuhan untuk bertahan. Setelah gagal pada gelombang pertama program Kartu Prakerja, Hikma akhirnya lolos pada kesempatan berikutnya dan memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp 1 juta. Ia sempat memilih kelas make-up karena berharap industri hiburan segera pulih, tetapi keadaan yang belum membaik membuatnya mencari opsi yang lebih realistis. Pilihan itu akhirnya jatuh pada salad sayur yang dinilai praktis, ringkas, dan sesuai dengan tren hidup sehat.

Dari modal yang terbatas, Hikma mulai merintis Salad Umma dari dapur rumah. Ia menerima dana pelatihan Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan, lalu mengelolanya menjadi modal sekitar Rp 2,4 juta untuk membeli bahan baku dan peralatan sederhana. Pembelian dilakukan bertahap, mulai dari chopper, blender, kemasan, hingga showcase. Langkah kecil itu menjadi fondasi awal usaha yang kemudian berkembang lebih serius.

Lokasi usaha yang dekat dengan kawasan indekost karyawan dan karyawati membantu Salad Umma menemukan pasar pertamanya. Awalnya, menu yang dijual hanya salad sayur, lalu berkembang menjadi salad buah setelah menerima pesanan untuk acara ulang tahun pada 2022. Permintaan yang masuk memberi Hikma ruang untuk berinovasi dan membaca kebutuhan konsumen lebih baik. Dari situ, usaha rumahan ini mulai dikenal lebih luas di lingkungannya.

Meski begitu, perjalanan bisnis tidak selalu mulus karena omzet kerap naik turun. Hikma mengandalkan pesanan online dan promosi di media sosial, namun pendapatan hariannya bisa hanya Rp 15 ribu atau melonjak hingga Rp 100 ribu. Dalam momen tertentu, ia bahkan tidak mendapat pesanan sama sekali. Kondisi itu menunjukkan betapa beratnya mempertahankan usaha mikro di tengah persaingan pasar yang ketat.

KUR BRI Dorong Pertumbuhan

Titik balik bagi Salad Umma datang ketika produknya memperoleh sertifikasi halal. Setelah itu, Hikma juga mengikuti kegiatan bazar yang difasilitasi Jakpreneur untuk memperluas jangkauan pasar. Dari jaringan yang terbentuk, ia mulai menerima pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Kesempatan tersebut membuat usahanya naik kelas dari skala rumahan menjadi pemasok yang lebih dipercaya.

Pendampingan dan akses pembiayaan dari KUR BRI turut memperkuat langkah bisnisnya. Dukungan modal memberi Hikma ruang untuk menjaga ketersediaan bahan baku, meningkatkan produksi, dan memperbaiki kesiapan layanan. Bagi pelaku usaha mikro, pembiayaan yang tepat sering kali menjadi pembeda antara bertahan dan berkembang. Dalam kasus Hikma, akses itu membantu usaha berjalan lebih terstruktur.

Setelah memperoleh pasar yang lebih stabil, omzet harian Salad Umma mulai membaik secara signifikan. Dari yang semula hanya puluhan ribu rupiah, pendapatannya kini bisa mencapai Rp 1 juta per hari pada periode tertentu. Peningkatan ini tidak lepas dari kombinasi produk yang relevan, sertifikasi halal, dan perluasan jejaring bisnis. Perubahan tersebut menegaskan bahwa usaha kecil dapat tumbuh ketika memperoleh dukungan yang tepat.

Kisah Hikma memperlihatkan bahwa kebangkitan usaha dapat dimulai dari kondisi paling sulit sekalipun. Saat satu pintu tertutup akibat pandemi, ia memilih membuka pintu baru melalui pelatihan, ketekunan, dan disiplin membangun usaha. Salad Umma kemudian menjadi contoh bagaimana UMKM bisa bertahan, beradaptasi, dan naik kelas dengan dukungan ekosistem yang sesuai. Bagi banyak pelaku usaha lain, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari langkah baru.

Pelajaran Dari UMKM

Perjalanan Salad Umma memberi pelajaran penting tentang keberanian mengambil keputusan di saat krisis. Hikma tidak menunggu keadaan pulih, melainkan mencari peluang usaha yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Pilihannya pada makanan sehat menunjukkan kemampuan membaca tren konsumsi yang sedang berkembang. Sikap adaptif seperti ini menjadi modal penting bagi pelaku UMKM.

Selain adaptasi, pengelolaan modal juga menjadi faktor yang menentukan. Hikma memulai dari dana kecil, lalu menggunakannya secara bertahap untuk kebutuhan yang paling mendesak. Cara itu membuat usahanya tetap efisien tanpa terbebani pengeluaran besar di awal. Dalam praktiknya, pengaturan arus kas yang hati-hati sangat berpengaruh pada kelangsungan bisnis mikro.

Jejaring dan legalitas usaha turut membuka peluang yang lebih besar. Sertifikasi halal meningkatkan kepercayaan konsumen, sementara bazar mempertemukan produk dengan calon pembeli baru. Ketika keduanya berjalan beriringan, peluang pesanan dari institusi juga ikut terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas usaha tidak hanya soal modal, tetapi juga reputasi dan akses pasar.

Di sisi lain, cerita ini menegaskan peran penting lembaga keuangan dalam mendukung pemulihan ekonomi. KUR BRI menjadi salah satu jalur yang membantu pelaku usaha kecil memperoleh napas baru untuk tumbuh. Dengan pembiayaan yang sesuai kebutuhan dan pendampingan yang tepat, usaha rumahan dapat naik kelas secara bertahap. Model seperti ini menjadi relevan bagi banyak UMKM yang sedang berjuang memperluas pasar.

UMKM Sehat Dan Tangguh

Tren gaya hidup sehat yang terus berkembang memberi ruang besar bagi usaha seperti Salad Umma. Produk makanan segar, praktis, dan mudah dijangkau menjadi pilihan konsumen yang semakin sadar kesehatan. Dalam kondisi demikian, inovasi menu dan kualitas layanan menjadi penentu utama untuk mempertahankan pelanggan. Hikma berhasil memanfaatkan ruang tersebut dengan pendekatan yang sederhana namun konsisten.

Keberhasilan usahanya juga menunjukkan bahwa bisnis kuliner tidak selalu membutuhkan modal besar untuk memulai. Yang dibutuhkan adalah perencanaan yang cermat, keberanian mencoba, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan pasar. Dari dapur rumah, usaha kecil dapat berkembang jika dijalankan dengan disiplin dan fokus. Kisah ini menjadi contoh nyata bagi calon wirausaha yang ingin memulai dari nol.

Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, akses pembiayaan dan pelatihan menjadi kebutuhan mendasar bagi UMKM. Dukungan seperti KUR BRI dapat membantu pelaku usaha menjaga operasional, memperluas kapasitas, dan memperkuat daya saing. Namun, keberhasilan tetap bergantung pada ketekunan pelaku usaha dalam mengelola bisnisnya. Kombinasi keduanya akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Bagi Hikma, Salad Umma bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi bukti bahwa keterpurukan bisa diubah menjadi peluang. Dari kehilangan pekerjaan, ia menemukan jalur baru yang justru membuka masa depan lebih luas. Perjalanannya memperlihatkan bahwa ketahanan usaha lahir dari kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar. Di tengah tantangan ekonomi, kisah seperti ini memberi inspirasi sekaligus gambaran nyata tentang kekuatan UMKM Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!